Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan, mohon penjelasannya. Trimakasih.
Pertanyaan:
1. Sekarang tersebar sms yang memperingatkan awasan terhadap pengunaan kartu perdana AXIS
– 6 Rp./SMS
– 60 Rp/ Menit
– 600 Rp / MMS
Triple 666 di sebut anti krist. bagaimana pendapat “Shopiah”? Pertanyaa yg timbul, apakah angka 666 sudah identik dengan anti Kris, sehingga bila angka triple 6 ini digunakan sekarang baik no tel dsb sudah digolongkan anti Kris. mohon penjelasannya. Pertanyaan lain yang muncul. Apakah angka triple 6 ini hanya berlaku nanti ketika saat anti krist itu benar2 nyata?

2. Issu mengenai normor telpon yang kalau masuk ke HP kita, bila diangkat akan mengakibatkan kematian? Bagaimana Pendapat “shopia”?

3. Mengenai Perpuluhan. Kenapa dalam PB tidak kita temukan bahwa ada perintah Persepuluhan. Yesus dan murid2Nya dalam pelayanan tidak pernah memerintah perpuluhan dan menyinggung masalah kehidupan orang Lewi mengapa?.

Yang ada hanya bahwa kehidupan hamba Tuhan( mereka yg melayani Tempat kudus, melayani mezba dan yang memberitakan Injil hidup dari injil itu. ( I Korintus 9:13,14). Apakah ini berarti ayat ini mengacu pada Perpuluhan?

Apakah perintah Persepuluhan dalam PL itu adalah perintah untuk segala masa?
Trimakasih untuk Jawabanny Tuhan Yesus memberkati.

Yohanes

[JAWAB]:

[CKM]:

1. Jawabannya sudah kami buat dalam topik tersendiri, silakan dibaca: Benarkah GSM Axis Antikris?

2. Ini jelas HOAX. Kemaren di TV juga sudah dijelaskan bahwa hal semacam itu tidak mungkin terjadi.

3. Jawabannya sbb:
1. Harus diketahui dahulu tujuan dari perpuluhan, yaitu:
a. Untuk makan bersama (Ul 12:5-7, 14:22-29).
b. Untuk menghidupi orang Lewi (Bil 18:21-24 bdk. Mal 3:10a). Oleh karena perpuluhan bukan dirimkan ke panti2/lembaga sosial, tetapi kepada gereja dimana Anda mendapatkan berkat (rohani).

2. konsep di Alkitab adalah kontinyuitas dan diskontinyuitas yang berjalan bersamaan serta tidak akan pernah berubah. Dalam konsep kontinyuitas terdapat praktek diskontinyu (berhenti lalu berubah). Meskipun Perjanjian Baru tak memberi penjelasan tapi juga tidak ada diskontinyuitas perpuluhan. Dengan kata lain, perpuluhan tetap dijalankan sebagai kriteria minimal tapi harus dengan motivasi yang tepat.

3. Ada juga yang berpendapat bahwa dalam Perjanjian Baru tidak ada perintah atau rekomendasi untuk orang-orang Kristen tunduk kepada sistim perpuluhan yang legalistik. Paulus menyatakan bahwa orang-orang percaya sepatutnya menyisihkan sebagian dari penghasilan mereka untuk mendukung gereja (1 Korintus 16:1-2). Perjanjian Baru tidak menentukan persentase penghasilan yang harus disisihkan tapi hanya mengatakan, “sesuai dengan apa yang kamu peroleh” (1 Korintus 16:2). Gereja Kristen mengambil angka 10% dari Perjanjian Lama dan menerapkannya pada “rekomendasi minimum” untuk orang Kristen dalam memberi persembahan. Namun demikian orang Kristen tidak perlu merasa wajib untuk selalu memberi perpuluhan. Orang Kristen sepatutnya memberi sesuai dengan apa yang mereka mampu, “sesuai dengan apa yang kamu peroleh.” Kadang-kadang ini berarti memberi lebih dari perpuluhan, kadang-kadang kurang dari perpuluhan. Setiap orang Kristen perlu berdoa dengan sungguh-sungguh dan meminta hikmat dari Tuhan mengenai memberi atau tidak memberi perpuluhan dan/atau berapa banyak yang dia berikan (Yakobus 1:5). Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita (2 Korintus 9:7).

4. Waktu memberikan perpuluhan jamganlah memberi dengan terpaksa (bdk. 2 Kor 9:7) juga jangan memberi dengan pamrih supaya dibalas Tuhan dengan penghasilan lebih besar (memancing kakap dengan teri). Di sini Anda perlu dengan jelas apa itu perpuluhan dan apa motivasinya Anda memberikan perpuluhan. Berilah perpuluhan dengan sukacita, dengan pengertian yang benar mengenai perpuluhan dan perpuluhan itu demi kemuliaan nama Tuhan.

[MC]:

Rekan Yohanes tepat sekali dalam mengamati bahwa Yesus maupun para rasul tidak pernah secara langsung menyatakan kita untuk membayar perpuluhan. Selain itu, kita juga tahu bahwa Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat. Nah, bila hukum Taurat telah digenapi, apakah artinya hukum untuk perpuluhan juga telah tergenapi (seperti halnya persembahan penghapus dosa, dll) sehingga tidak perlu kita lakukan?

Memang dalam PB tidak ada perintah untuk memberikan perpuluhan. Akan tetapi Roma 12:1 mencatat agar kita “mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup…” Implikasi dari ayat ini adalah tuntutan Allah bagi kita bukanlah lagi 10%, akan tetapi 100%!

Sekali lagi pengamatan rekan Yohanes adalah tepat. Dalam I Korintus 9:10-14, Paulus menyatakan bahwa mereka sebetulnya berhak untuk menerima penghidupan dari pemberitaan Injil. Jumlahnya memang tidak disebutkan berapa, sehingga akhirnya dipergunakanlah 10% (yang diambil dari PL) sebagai standar.

Bagaimana dengan pernyataan bahwa “Yesus telah menggenapi hukum Taurat, jadi kita tidak perlu lagi memberi perpuluhan”?

Kalau kita berpandangan seperti itu, bukankah artinya kita tidak perlu juga melakukan 10 Perintah? Wah, bila benar seperti itu, orang-orang Kristen akan menjadi orang-orang yang paling mengerikan di seluruh dunia.

Maka, tidaklah demikian. Sebagian dari perintah dalam PL memang tidak kita lakukan lagi, contohnya membawa korban bakaran. Mengapa? Karena kematian Kristus adalah korban yang sempurna, sehingga segala korban yang dipersembahkan di masa PL sudah terpenuhi.

Tetapi ada perintah-perintah yang masih tetap kita harus lakukan, contohnya, jangan mencuri. Hal ini termasuk mencuri dari Allah. Maleakhi 3:8-10 mencatat pertanyaan Allah kepada umat Israel. LAI memakai kata “bolehkah manusia menipu Allah?” Akan tetapi bahasa Ibrani dari kata menipu adalah “qaba” yang artinya merampok. Alkitab bahasa Inggris dengan tepat menggunakan kata “rob” (merampok).

Bagaimanakah kita merampok Allah? Ayat 8 mencatat “Mengenai perpuluhan dan persembahan khusus.”

Selain itu, Yesus berkata dalam Matius 22:21, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Semoga bisa menjawab.

 

[DSB]:

Menambahkan jawaban kedua rekan saya di atas:

1. Pada Matius 23:23 Yesus mengatakan, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Dari perkataan Yesus ini sudah jelas bahwa praktek perpuluhan harus dilakukan, namun kita jangan jatuh kepada hukum legalis karena kita harus memperhatikan keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Selain itu, janganlah kita memberi karena keharusan, melainkan dengan sukarela dan sukacita

2. Perpuluhan adalah disiplin rohani yang baik untuk melatih iman kita kepada Tuhan, bahwa Tuhan akan mencukupkan kita, walaupun kita hidup hanya dengan kurang dari 90% pendapatan kita.

3. Bilangan 18:21, 24 mengatakan bahwa persepuluhan pada Perjanjian Lama diberikan kepada orang Lewi. Masalahnya adalah, jabatan Lewi dan imam pada Perjanjian Lama sudah tidak ada di masa Perjanjian Baru. Hal ini karena Bait Allah sudah tidak ada dan pada masa kini Bait Allah tidaklah dapat ditafsirkan sebagai gereja sebagai gedung atau organisasi atau tempat ibadah. Bait Allah pada masa kini adalah Gereja sebagai kumpulan orang percaya yang terlepas dari gedung, tempat dan organisasi. Ada gereja yang kelihatan, ada juga gereja yang tidak kelihatan. Untuk orang-orang yang punya banyak uang, memberi perpuluhan ke gereja dan memberi persembahan ke lembaga-lembaga Kristen misalnya memang dimungkinkan. Namun untuk orang-orang yang pas-pasan, dan apabila Tuhan menggerakkan orang tersebut untuk memberikan uang perpuluhan yang dimilikinya untuk diberikan kepada suatu badan misi misalnya dan bukan ke gerejanya, hal ini tidak bisa dikatakan salah. Karena badan misi juga merupakan tubuh Kristus (gereja yang tidak kelihatan) yang perlu didukung. Kalau hal ini terjadi, istilahnya memang bukan lagi sebagai perpuluhan, tetapi sebagai persembahan (walaupun besarnya sekitar 10% dari penghasilan).

Imam yang merupakan pengantara antara umat dengan Tuhan sudah digantikan Kristus sehingga kita sekarang sudah disebut sebagai “imamat rajani” (I Petrus 2:9), sehingga jabatan tersebut sudah tidak ada. Kita tidak lagi berdoa melalui perantaraan hamba Tuhan, baik Penginjil/Guru Injil, maupun Pendeta. Sedangkan orang Lewi pada masa kini dapat disejajarkan dengan orang-orang yang melayani secara penuh waktu (full timer) dalam pekerjaan Tuhan. Ini berarti tidak terbatas kepada hamba Tuhan saja, tetapi bisa juga tenaga admininstrasi di gereja, atau pemain musik ibadah full time, atau para pekerja di yayasan-yayasan parachurch dan lain-lain.

Sekalipun demikian, gereja tempat kita beribadah tetap merupakan tujuan pertama untuk persembahan perpuluhan. Hal ini berdasarkan pada I Korintus 9:13-14 dan Galatia 6:6, di mana jemaat mempunyai tanggung jawab untuk memelihara hidup para hamba Tuhan yang melayani di gereja tempat mereka beribadah.

Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu. (I Korintus 9:13-14)

Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu. (Galatia 6:6)

3. Ulangan 14:28-29 mengatakan bahwa pada tahun ketiga, persepuluhan dikumpulkan di kota masing-masing, untuk digunakan makan bersama dengan orang Lewi, para janda dan anak yatim. Karena persepuluhan pada masa tersebut dikumpulkan setahun sekali, maka secara matematis berarti 33% dari persepuluhan (1 tahun dari 3 tahun) digunakan bukan hanya untuk mendukung para hamba Tuhan/full timer melainkan juga untuk menolong orang miskin (amal). Dalam hal ini seharusnyalah gereja menggunakan sebagian dari perpuluhan jemaat untuk membantu orang yang berkekurangan, atau mempersilakan jemaat menggunakan sebagian dari perpuluhannya untuk amal.

Maka saya mencoba menyimpulkan mengenai persepuluhan ini sebagai berikut:

Hendaknya kita memberikan persembahan persepuluhan, namun jangan karena keharusan, melainkan dengan sukarela dan sukacita (2 Korintus 9:7), sebagai ucapan syukur atas berkat Tuhan dan ungkapan iman yang mana Tuhan mencukupkan kita dengan 90%, untuk kepentingan kehidupan hamba Tuhan (I Korintus 9:13-14), keperluan pelayanan Gereja, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, serta menolong orang yang berkekurangan. (Ulangan 14:28-29)