Hi sophia,
Saya ingin memberi comment pada penjelasan anda tentang keselamatan pada pembahasan “bagaimana dengan pasangan kristen & katolik?”.

Bukankah di alkitab juga tertulis” iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati.”
Bagaimana keselamatanterjadi tanpa kerja sama antara manusia & Allah? Bukankah iman tercermin dalam perbuatan? Bagaimana seseorang dikatan beriman kalo perbuatannya jauh menyimpang dari imannya itu. Bahkan Yesus sendiri mengatakan: bukan kamu yang memanggilku Tuhan akan diselamatkan, tetapi dia yang melakukan perintahku. Atau juga: “kamu adalah sahabatku, kalo kamu melakukan perintahku”.
Juga dalam setiap perumpamaan, seorang penabur atau seorang yang mendirikan rumah….iman akan berakar kuat kalo disertai dengan perbuatan.
Jadi mustahil kalo seseorang dikatakan beriman kalo dia tidak mempraktekannya dalam kehidupan sehari2.

Salam damai

Yadi

[JAWAB]:

[CKM]:

Pertama, kita harus dapat membedakan terlebih dulu antara pertobatan dengan kelahiran baru. Sekaligus juga dimana ada pekerjaan Allan yang monergis dalam hidup kita dan juga satu sisi yang adalah pekerjaan yang bersifat sinergis. Silakan click Lahir Baru Dulu atau Bertobat Dulu?

Kedua, Secara prinsip bahwa iman merupakan sarana pembenaran, dimana pembenaran mengikuti iman. Iman bukan dasar pembenaran, hanya merupakan instrumen pembenaran. Dalam surat Yakobus, terlihat seperti ada ide dibenarkan karena perbuatan baik. Namun sebenarnya Yakobus menekankan bukan kita dibenarkan karena perbuatan baik, tetapi jika kita beriman, maka pasti harus ada perbuatan baik. Maka perbuatan baik merupakan hasil iman, bukan sarana pembenaran. Bahkan Yakobus sendiri mengatakan bahwa Abraham dibenarkan karena iman.

Kalau menurut saya dalam Yak 2:14-26 ini Yakobus punya satu tujuan pengajaran: pengakuan percaya tidak boleh / tidak bisa dipisahkan dari perbuatan baik. Sebaliknya pengakuan percaya harus dibuktikan kebenarannya melalui perbuatan baik. Yakobus menulis di 2:24 sudah jelas dari ayat 1 mulai di pasal 2 ini. Masalahnya ada yang mengaku Kristen, tetapi kelakuannya tidak menunjukan sebagai orang Kristen, seperti misalnya menunjukan Favoritism (2:1) dan menghina yang miskin (2:3), atau membantu orang yang sedang perlu bantuan hanya dengan mulut saja (2:15-16). Dengan kata lain, yang diminta Yakobus adalah buktikan apa yang anda akui sebagai pengikut Kristus. Pembenaran yang sejati harus/selalu menghasilkan perbuatan baik di dalam proses pengudusan.

Bahkan Yesus sendiri mengatakan: bukan kamu yang memanggilku Tuhan akan diselamatkan, tetapi dia yang melakukan perintahku.

Mungkin maksud Anda adalah Matius 7:21 yah? ayat 21 tidak mengajarkan ‘keselamatan melalui perbuatan baik’! Penafsiran terhadap ay 21 ini tidak boleh bertentangan dengan Ef 2:8-9! Calvin mengomentari ay at 21b dengan kata-kata ini, “Karena itu, kata-kata ini bukannya membuang iman, tetapi mensyaratkannya sebagai asal usul / sumber dari mana semua perbuatan baik mengalir.” Jadi, ay 21 itu menunjuk pada orang-orang yang tidak membuktikan ‘iman’nya dengan perbuatan baik. Mereka tidak masuk surga dengan ‘iman’ seperti itu. (bdk. Yak 2:17,26).

Atau juga: “kamu adalah sahabatku, kalo kamu melakukan perintahku”.

Mungkin yang Anda maksudkan adalah Yoh 15:14. Yat ini tidak berarti bahwa kita menjadi sahabat Kristus karena jasa ketaatan kita sendiri. Di sini Kristus hanya mengingatkan syarat yang Ia katakan dalam ay 10: ‘Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal dalam kasihKu’.

Juga dalam setiap perumpamaan, seorang penabur atau seorang yang mendirikan rumah….iman akan berakar kuat kalo disertai dengan perbuatan. Jadi mustahil kalo seseorang dikatakan beriman kalo dia tidak mempraktekannya dalam kehidupan sehari2.

Yang Anda maksudkan mungkin Mat 7:24-27 dan Mat 13:1-9?

Ayat-ayat ini adalah penutup khotbahnya Yesus memberikan illustrasi ini. 2 orang itu mirip. Sama-sama membangun rumah. Bedanya tidak terlihat karena terletak pada fondasinya. Tetapi kalau kesukaran datang, bedanya akan terlihat. Yesus memberikan bagian ini sebagai penutup khotbahNya karena Ia ingin mereka tidak sekedar menjadi pendengar Firman, tetapi juga pelaku Firman! (bdk. Yak 1:22-25)

Sebagai penutup, coba Anda renungkan bagian-bagian dibawah ini:

  • Penjahat yang bertobat / beriman pada saat terakhir hidupnya, tetap masuk surga sekalipun tidak pernah pergi ke gereja ataupun di baptis, dan bahkan hampir bisa dikatakan tidak pernah berbuat baik dalam sepanjang hidupnya (Luk 23:43).
  • Ef 2:8,9; Gal 2:16; Ro 3:24,27-28 menunjukkan bahwa kita selamat / dibenarkan hanya karena iman.
  • Gal 3:2,14 menunjukkan bahwa kita menerima Roh Kudus karena iman.
  • Kis 15:1-21 menunjukkan bahwa kita bisa selamat karena iman saja, bukan karena sunat atau ketaatan pada hukum-hukum Musa.
  • Dalam Yoh 19:30 Yesus berkata ‘sudah selesai’. Ini menunjukkan bahwa keselamatan kita sudah Ia selesaikan, sehingga kita tak perlu berusaha apa-apa lagi! Kita hanya menerima keselamatan itu dengan iman!

Jadi, Alkitab dengan jelas sekali mengajarkan bahwa kita selamat hanya karena iman kepada Yesus Kristus. Perbuatan baik hanya merupakan bukti iman, dan kalau perbuatan baik itu tidak ada maka iman itu sebetulnya mati / tidak ada (Yak 2:17,26), tetapi bagaima-napun juga, perbuatan baik itu sama sekali tidak punya andil dalam keselamatan kita.

Lalu ada 1 Illustrasi begini:
Orang sakit -> obat -> sembuh -> bisa berolah raga.
Orang berdosa -> iman -> selamat -> berbuat baik.

Maksudnya adalah, orang sakit bisa sembuh karena obat, bukan karena olah raga. Tetapi bukti bahwa ia sudah sembuh adalah bahwa ia bisa berolah raga kembali. Kalau seseorang mengaku sudah minum obat dan sudah sembuh tetapi tetap tidak bisa berolahraga, maka itu menunjukkan bahwa pe-ngakuannya dusta. Jadi sebetulnya ia belum sembuh, dan juga belum minum obat.

Analoginya orang berdosa bisa selamat karena iman kepada Yesus Kristus, bukan karena berbuat baik. Tetapi bukti bahwa ia sudah selamat adalah bahwa ia lalu berbuat baik. Kalau seseorang mengaku sudah beriman kepada Yesus dan sudah selamat tetapi ia sama sekali tidak mempunyai perbuatan baik / ketaatan kepada Tuhan, maka itu menunjukkan bahwa pengakuannya itu dusta. Jadi sebetulnya ia belum selamat dan belum percaya dengan sungguh-sungguh.

Mengetahui & mengerti doktrin justification by faith alone urusannya adalah hidup dan mati. Tidak ada alasan buat orang mengatakan bahwa doktrin ini terlalu berat untuk dimengerti; malahan kita harus ragukan orang yang menyepelekan doktrin ini–apakah dia itu betul-betul Kristen kalau tidak benar-benar mengerti doktrin ini.

[MC]:

Dear Yadi,

Di dalam Yakobus 2:26 dicatat “iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati.”

Tetapi apakah artinya pernyataan ini? Mari kita teliti lebih lanjut seiring dengan beberapa pertanyaan-pertanyaan Saudara Yadi.

Sebelumnya, biarlah saya simpulkan pertanyaan-pertanyaan Saudara menjadi 2 pertanyaan.

1. Apakah untuk mendapatkan keselamatan dibutuhkan perbuatan dan iman, ataukah iman semata cukup untuk memperoleh keselamatan?
2. Bagaimana relasi iman dengan perbuatan?

Galatia 3:11 mencatat “Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: “Orang yang benar akan hidup oleh iman.”

Selain itu, dalam Efesus 2:8-9 dicatat “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Paulus dengan tegas mencatat bahwa keselamatan bukanlah hasil dari usaha dan perbuatan (melakukan hukum Taurat), melainkan berasal dari KASIH KARUNIA ALLAH dan diperoleh melalui IMAN.

Jadi, keselamatan BUKANLAH USAHA MANUSIA. Allah TIDAK BEKERJA SAMA dengan manusia dalam karya keselamatan. Karya keselamatan adalah murni KARYA ALLAH SENDIRI. Manusia tidak memiliki andil apapun dalam karya keselamatan. Keselamatan adalah anugerah yang diperoleh secara CUMA-CUMA dan bukanlah “upah” atau “hak” manusia yang diperoleh melalui sebuah usaha.

Lalu bagaimanakah kaitan antara iman dan perbuatan? Pernyataan saudara Yadi bahwa “Jadi mustahil kalo seseorang dikatakan beriman kalo dia tidak mempraktekannya dalam kehidupan sehari2″ adalah sebuah pernyataan yang sangat tepat. Tidak ada seorangpun dapat mengakui memiliki iman Kristen yang sejati bila ia tidak mempraktekan apa yang tertulis dalam Alkitab.

Akan tetapi, kita harus membedakan antara SYARAT KESELAMATAN dan HASIL DARI KESELAMATAN. Syarat untuk keselamatan telah saya bahas di atas, yaitu KASIH KARUNIA ALLAH SEMATA.

Bagaimana dengan iman serta perbuatan?

Ibrani 11 mencatat tentang hidup beberapa raksasa iman, antara lain Habel, Henokh, dan Abraham. Bila kita membaca secara teliti pasal tersebut kita akan menemukan suatu hal yang menarik dalam setiap kisah yang dicatat.

Semua kisah tersebut dimulai dengan kata “Karena iman…” lalu dilanjutkan dengan “prestasi” mereka.

Dari sini muncullah sebuah hal yang penting untuk selalu kita ingat, yaitu :

IMAN MENDAHULUI PERBUATAN!

Dan itulah iman Kristen yang sejati. Iman Kristen yang sejati membawa kepada keselamatan dan juga memampukan kita untuk dapat menaati Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Saat Yakobus mengatakan “iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati”, dia bukan menyatakan bahwa perbuatan adalah syarat untuk menerima keselamatan. Yang Yakobus katakan di sini adalah bahwa IMAN YANG SEJATI AKAN MELAHIRKAN PERBUATAN-PERBUATAN YANG SESUAI DENGAN IMAN TERSEBUT.

Jadi, perbuatan BUKANLAH SYARAT KESELAMATAN, melainkan BUKTI DARI IMAN karena KESELAMATAN ADALAH ANUGRAH ALLAH SEMATA dan BUKAN USAHA MANUSIA.

Semoga penjelasan ini dapat membantu memperjelas hubungan antara keselamatan, iman, dan perbuatan.

About these ads