Dear sophia,

Saya ingin bertanya :
1. apakah pernikahan yang telah diteguhkan gereja diperbolehkan untuk bercerai, dikarenakan sang suami telah tinggal bersama dengan wanita lain dan memutuskan untuk bercerai dengan istri?
2. Jika suami bertobat dan ingin kembali kepada istrinya, apakah yang harus dilakukan sang istri?
3. Apakah ada sanksi dari gereja, untuk pasangan yang bercerai?

Terima kasih atas jawabannya.

- someone -

[JAWAB]:

[CKM]:
1. apakah pernikahan yang telah diteguhkan gereja diperbolehkan untuk bercerai, dikarenakan sang suami telah tinggal bersama dengan wanita lain dan memutuskan untuk bercerai dengan istri?

Gereja hanya boleh menceraikan pasangan suami istri yang salah satu pasangannya berzina. Zina disini zina fisik bukan dalam hati. Mat 19:9 – “Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan istrinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah”
Ayat ini berarti bahwa kalau terjadi perzinahan (ini satu-satunya alasan!), maka diijinkan untuk bercerai bahkan untuk kawin lagi.

2. Jika suami bertobat dan ingin kembali kepada istrinya, apakah yang harus dilakukan sang istri?

a. Saya berpendapat bahwa ia (istri) memang harus mengampuni pasangannya tersebut tetapi ia tidak harus (tetapi boleh) menerimanya kembali sebagai pasangan hidup. Ia berhak menceraikannya dan menikah lagi dengan orang lain.

b. Tapi juga harus diingat, sebaiknya ditanya kembali apa yang sebenarnya diinginkan oleh sang istri

3. Apakah ada sanksi dari gereja, untuk pasangan yang bercerai

Biasanya tidak ada. Tapi hal masuk ke dalam kebijakan gereja masing-masing.

[DSB]:

Seperti yang sudah dikatakan oleh rekan saya CKM di atas, memang benar bahwa perceraian diijinkan jika dan hanya jika salah satu dari pasangan nyeleweng. Namun tergantung pada kasusnya, tidak setiap penyelewengan harus berakhir dengan perceraian. Terlebih lagi apabila sudah memiliki anak. Kondisi tidaklah semudah itu cerai atau tidak cerai, ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum memutuskan untuk cerai. Untuk itu, apabila seperti dalam kasus ini (sang suami sudah tinggal dengan wanita lain), kalaupun harus cerai, sebaiknya permintaan cerai itu jangan keluar dari sang istri. Lebih baik lagi apabila sang istri bisa mengajak suaminya untuk sama-sama konseling. Dengan demikian masalah-masalah apa yang selama ini terjadi diantara berdua semoga bisa diselesaikan tanpa harus bercerai.

Apabila sang suami adalah orang Kristen aktif (anggota gereja tertentu), bahkan sebelum bercerai pun harusnya sanksi gereja sudah turun kepadanya apabila sang suami tidak mau bertobat. Tujuannya adalah gereja menunjukkan kebenaran kepada dunia tentang kesucian pernikahan.

Nah, apabila suami akhirnya bertobat, haruskah diterima kembali? jawabannya tidak sesederhana itu, seperti rekan CKM bilang ada kemungkinan sang istri sudah menikah lagi, tentu tidak bisa kembali pada suami yang lama. Tetapi apabila sang istri belum menikah lagi, sang istri memang sebaiknya mempertimbangkan untuk menerima kembali. Sekali lagi salah satunya adalah pertimbangan kalau sudah memiliki anak.

Namun kalaupun mau menerima kembali, sang istri janganlah begitu mudah percaya dengan pertobatannya. Kita harus tulus seperti merpati namun harus cerdik juga seperti ular. Cek dan riceklah hasil pertobatannya. Bagaimana kondisi kerohaniannya setelah bertobat. Apabila benar-benar bertobat, haruslah juga ada perbaikan dalam hal rohani, dalam hubungannya dengan Tuhan. Cek juga hubungannya dengan wanita lain apakah benar-benar sudah finish, ataukah masih ada kontak-kontak kecil atau yang tersembunyi. Selain hal-hal tersebut, waktu jugalah yang bisa membuat kita bisa melihat dengan lebih jelas pertobatan seseorang.

About these ads