5. Apakah benar menerima Baptisan Roh Kudus, dengan tanda2 harus bisa berbahasa Roh, kalau tidak akan trus didoakan sampai bisa, sebelumnya kita harus membuka mulut agar bahasa itu keluar dengan sendiri?

 Maria di Jakarta

[JAWAB]:

[MC]:

Terlepas dari benar tidaknya “praktek” tersebut, ada beberapa hal yang jelas-jelas dikatakan Paulus mengenai bahasa Roh dalam I Korintus 14.

a. Belum tentu berguna (ay. 9)
b. Mintalah pula karunia untuk menafsirkannya (ay. 13)
c. Lebih baik gunakan kata-kata yang dapat dimengerti orang lain agar orang lain dapat dibangun pula (ay. 19)
d. Harus dipergunakan untuk membangun (ay. 26)
e. Paling banyak tiga orang dalam satu pertemuan dan SECARA BERGANTIAN DAN ADA YANG MENAFSIRKAN (ay. 27)
f. Bila tidak ada yang menafsirkan, sebaiknya diam saja (ay. 28)
g. Harus SOPAN dan TERATUR (ay. 40)

[DSB]:

Ada kesalahtafsiran Firman Tuhan yang terjadi di jemaat pada generasi ini yaitu di mana Baptisan Roh Kudus menjadi sesuatu yang baru dan seakan-akan merupakan baptisan lanjutan yang harus dialami oleh orang Kristen setelah orang tersebut menerima Yesus sebagai Juruselamatnya. Untuk masalah ini pembahasannya bisa sangat panjang sehingga tentunya tidak cukup dimuat di media blog ini. Namun saya tetap akan mencoba jelaskan secara singkat.

Pertama-tama kita harus membedakan antara baptisan Roh Kudus dengan manifestasi supranatural Roh Kudus. Baptisan Roh Kudus tidak selalu menciptakan suatu manifestasi supranatural, namun sebaliknya suatu manifestasi Roh Kudus yang sejati pasti terjadi setelah seseorang dibaptiskan Roh Kudus.

Baptis sendiri berasal dari kata Yunani baptizo yang berarti mencelupkan, membersihkan dengan air (to wash).

Untuk menjelaskan baptisan Roh Kudus kita harus membaca dari awal digunakannya istilah tersebut yaitu pada Matius 3:11 di mana Yohanes Pembaptislah yang pertama kali mengatakan mengenai baptisan roh kudus ini : “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.”

Dari ayat ini kita mendapatkan beberapa hal:

  1. Yohanes pembaptis membaptis dengan air sebagai tanda pertobatan.
  2. Yang membaptis Roh Kudus adalah Yesus.

Baptisan Yohanes sama seperti baptisan air pada masa sekarang ini jelas tidaklah menyelamatkan, itu hanyalah sebagai tanda kita bertobat. Yang menyelamatkan adalah tatkala kita sungguh-sungguh percaya kepada Yesus dengan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita dan kita akan mendapatkan karunia Roh Kudus (Kisah 2:38) ” Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.'”

Karunia Roh Kudus yang dimaksudkan bukanlah talenta Roh Kudus, melainkan oknum Roh Kudus yang kita terima sebagai karunia Allah kepada orang yang percaya, inilah  Baptisan Roh Kudus yang sesungguhnya.

Jadi baptis Roh Kudus adalah peristiwa Tuhan membersihkan dengan mencelupkan (baptizo) kita seluruhnya ke dalam persekutuan dengan Roh Kudus. Suatu peristiwa di mana kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Allah dan di sanalah kita menerima suatu anugerah yaitu Allah sendiri dalam pribadi Roh Kudus tinggal bersama kita. Kapan kita menerima baptisan Roh Kudus ini? Tentunya saat kita menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Dan hanya Yesus yang bisa membaptis seseorang dalam Roh Kudus, karena tentunya hanya Dia yang sanggup membersihkan dan mencuci bersih dosa kita dalam darah-Nya.

Argumen lain, kalau memang benar Baptisan Roh Kudus berbeda dengan peristiwa lahir baru, mengapa Yesus tidak memerintahkan kita semua (dalam amanat agung Matius 28:19) untuk membaptis dalam Roh Kudus, tetapi Tuhan malah memerintahkan pembaptisan dengan formula dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus yang tentunya bukan merupakan baptisan Roh Kudus melainkan baptisan air sebagai tanda pertobatan. Juga kita harus cermat memeriksa Alkitab kita bahwa istilah baptisan Roh Kudus tidaklah pernah dipakai oleh para Rasul. Hanya Yesus satu-satunya yang pernah menyebutkan baptisan Roh Kudus, itupun hanya 1 kali dalam Kisah Para Rasul 1:5. Dalam ayat ini konteksnya adalah Yesus belumlah naik ke Surga sehingga Roh Kudus belum turun sehinga perlu ada suatu baptisan Roh Kudus yang terpisah dengan saat mereka beriman kepada Yesus. Ayat lain yang menyebutkan baptisan Roh Kudus mengacu kepada perkataan Yesus ini misalnya pada Kisah 11:16-17 Petrus mengatakan:” Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?”

Lebih jelas lagi bahwa ayat ini pun mendukung bahwa baptisan Roh Kudus adalah saat orang percaya kepada Yesus Kristus.

Kedua mengenai bahasa roh. Dalam Kisah Para Rasul hanya 3 kali disebut kejadian bahasa roh itu yaitu di:

  1. Kisah 2:4
  2. Kisah 10:46
  3. Kisah 19:6

Selain dari pada di atas sepanjang kitab Kisah Para Rasul di mana terjadi ribuan orang yang percaya kepada Kristus (yang artinya dibaptis dengan Roh Kudus) sama sekali tidaklah pernah dikatakan seseorang berbahasa roh. Misalnya:

  1. Kisah 2 mengenai kotbah Petrus yang ditanggapi dengan 3000 orang yang bertobat pada hari itu tidak dikatakan ada manifestasi supranatural Roh Kudus.
  2. Kisah 8:14-17 mengenai Injil yang sampai pada orang Samaria, dikatakan mereka menerima karunia Roh Kudus namun sama sekali tidak disebut mereka berbahasa lidah.
  3. Kisah 8:27-38 mengenai sida-sida dari Ethiopia juga tidak dikatakan mengenai manifestasi Roh Kudus
  4. Masih banyak lagi contoh lain bagaimana Roh Kudus bekerja mempertobatkan orang, membersihkan dosa manusia tanpa ada manifestasi apalagi dalam bentuk bahasa roh.

Jadi mengapa dalam 3 perikop Kisah para Rasul di atas (Kisah 2:4, 10:46 dan 19:6) ada manifestasi bahasa roh?

  1. Jangan lupa bahwa Allah menceraikan bangsa-bangsa pada saat menara babel dengan mengacaukan bahasa manusia (Kejadian 11:1-10). Karena itu bila Tuhan memberikan karunia bahasa-bahasa lain artinya Injil mulai Kisah 2:4 tersebut sudah dapat disampaikan kepada seluruh umat manusia dengan berbagai bahasa.
  2. Dalam Kisah 2:4 tersebut juga bahasa roh merupakan manifestasi supranatural Roh Kudus yang menandakan bahwa Roh Kudus sudah datang, dan mereka tidak perlu menanti lagi, melainkan mulai bekerja mengabarkan Injil!
  3. Dalam Kisah 10:46, manifestasi bahasa roh merupakan suatu tanda bahwa Allah juga turut bekerja memberikan Roh-Nya kepada bangsa lain selain bangsa Yahudi. Pada waktu itu para rasul masih mengira bahwa Injil hanya untuk bangsa Yahudi saja, sehingga Tuhan perlu ikut campur dan menunjukkan bahwa Allah ingin Injil untuk semua umat manusia. Untuk membuktikan kebenaran penafsiran ini, silakan membaca sendiri seluruh Kisah Para Rasul pasal 10.
  4. Dalam Kisah 19:46, manifestasi Roh Kudus berupa bahasa roh diperlukan untuk melegitimasi baptisan dalam nama Tuhan Yesus, karena selama ini orang-orang di Efesus hanya menerima baptisan Yohanes. (Silakan baca sendiri keseluruhan pasal 19).

OK sudah cukup panjang, kalaupun masih ada yang tidak setuju dengan pembahasan di atas, mengenai keharusan berbahasa roh, saya pikir I Korintus 12:10 cukup jelas menjawab hal ini: “Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.”