Dari mana kita tahu bahwa Allah memang ada? apa buktinya?

Rio

[JAWAB]:

[DSB]:

Sebenarnya secara khusus, banyak sekali bukti bahwa memang Allah ada. Bahkan bukan hanya ada, tetapi Allah tidak pernah diam, alias selalu turut serta dalam perjalanan umat manusia (tidak seperti dalam ajaran Deisme di mana mempercayai Allah memang ada, tapi tidak ikut campur dalam segala urusan dunia). Malah Allah juga pernah hidup bersama-sama dengan manusia dalam diri Yesus Kristus dengan bukti-bukti yang tidak dapat disangkal. Namun secara umum, Alkitab sudah menjawab pertanyaan ini dalam Mazmur 19:2 “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya”

Jadi kalau ditanya apa buktinya bahwa Allah ada? Mari kita lihat langit dan bumi ciptaannya. Bahwa dapat tercipta keberadaan jagat raya dengan galaxy dan sistem tata surya yang begitu teratur, segala hukum fisika dan kimia diciptakan oleh-Nya sehingga semuanya teratur, khususnya untuk bumi kita ini. Sekalipun berbagai ancaman dari jagat raya mengancam bumi kita ini, misalnya meteor, asteroid, tabrakan dengan objek langit yang besar, dan lain-lain, tapi toh bumi selalu selamat hingga sekarang ini.

Para ilmuwan boleh membuat berbagai teori terbentuknya jagat raya seperti teori The BIG BANG, tapi teori itu tetap tidak mampu menjelaskan dari mana asal mula zat2 yang terlibat BIG BANG tersebut. Karena tentunya setiap zat tersebut haruslah ada yang menciptakan. Banyak sekali ilmuwan-ilmuwan yang mencoba mempelajari alam semesta ini berakhir dengan kagumnya karena itu semua tidaklah mungkin terjadi secara kebetulan. Sebagai contoh, kemungkinan terjadi kehidupan kompleks di suatu planet seperti di bumi kita ini adalah 1 banding 10 pangkat 500. Itu sama dengan kemungkinan untuk selalu memenangkan Royal Flush dalam 10 pangkat 495 kali permainan.  Seorang fisikawan Rusia bernama Prof. Andre Linde mengatakan bahwa untuk terjadi alam semesta seperti sekarang dengan kehidupan manusia seperti di Bumi, diperlukan persyaratan-persyaratan kondisi-kondisi yang khusus dan istimewa sebanyak 10 pangkat 500 jumlahnya. Jadi kalau memang Allah tidak ada, maka bumi dan manusia haruslah extremely sangat sangat sangat amat beruntung sekali untuk dapat terbentuk!!

[CKM]:

Pertanyaan ini pertanyaan yang sering sekali ditanyakan oleh orang banyak. Baik orang skeptik maupun orang yg percaya kepada Tuhan, termasuk kekristenan. Bahkan pertanyaan ini sudah dipertanyakan pada beberapa abad yang lalu. Misalnya oleh Plato dan Aristoteles. Di satu pihak Gereja Kristen mengakui bahwa Allah adalah Pribadi yang tak terjangkau pengertian manusia, namun di pihak lain mengakui juga bahwa Dia dapat dikenal dan bahwa pengenalan akan Dia adalah syarat mutlak untuk keselamatan. Gereja menyadari desakan Zofar (Ayb 11:7). Tetapi Gereja merasa tak dapat menjawab pertanyaan Yesaya: “Jadi dengan siapakah hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?” (Yes 40:18). Tetapi pada saat yang sama Gereja juga selalu ingat pernyataan Yesus: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”. (Yoh 17:3). Gereja bersukacita dalam kenyataan bahwa “Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan kepada kita, supaya kita mengenal yang benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam AnakNya Yesus Kristus. Dia adalah Allah Yang Benar dan hidup yang kekal (I Yoh 5:20). Kedua ide yang dipancarkan dalam ayat ayat-ayat ini selalu dipegang berdampingan dalam Gereja Kristen.

Bahkan Luther berulang kali mengatakan tentang Allah sebagai Deus Absconditus (Allah yang tersembunyi), yang dibedakannya dari Allah sebagai Deus Revelatus (Allah yang dinyatakan). Dalam beberapa tulisannya, Luther bahkan mengatakan bahwa Allah yang dinyatakan masih juga Allah yang tersembunyi ditinjau dari kenyataan bahwa kita tidak dapat sepenuhnya mengenal Dia bahkan melalui pernyataan khususNya sekalipun. Bagi Calvin, Alah dalam keberadaanNya yang terdalam tak terselami. Jadi Calvin dan Luther sama-sama menyatakan bahwa manusia hanya bisa mengenal Allah sejauh Allah wahyukan kepada kita. Namun itu hanya sebagian dari seluruh hakekat Allah. Kita tidak mampu mengerti seluruh keilahianNya. Manusia memang bisa belajar adanya Allah dari dunia, tetapi kita hanya bisa mendapatkan pengenalan yang benar melalui wahyu khusus, melalui pencerahan Roh Kudus. Manusia tidak bisa memberikan definisi logis yang memadai untuk seluruh diri Allah, sebab Ia tidak bisa ditundukkan ke bawah sesuatupun.

Namun, pengenalan akan Allah memang dimulai dari iman dan kesadaran religius manusia yang sudah Tuhan berikan. Tanpa hal ini tidak mungkin ada agama, tidak mungkin manusia memiliki sifat religius, tidak ada sikap hormat, tidak ada penyembahan dan tidak ada rasa takut akan Allah, tidak ada ibadah kepada Allah.

Segala sesuatu yang kita ketahui mengenai kekristenan telah dinyatakan oleh Allah kepada kita. Manyatakan berarti “membukakan”, Hal ini berarti membuka penutup dari sesuatu yang sebelumnya disembunyikan atau ditutupi. Spekulasi tentang Allah merupakan suatu kesalahan yang bodoh. Apabila kita ingin mengenal Allah dengan benar; maka kita harus mengandalkan apa yang Ia katakan tentang diriNya sendiri kepada kita. Alkitab menyatakan bahwa Allah menyatakan diriNya dengan berbagai cara. Ia memperlihatkan kemuliaanNya melalui alam semesta. Ia menyatakan diriNya pada zaman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru melalui mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan. Tanda dari pemeliharaanNya diperlihatkan dalam catatan sejarah. Ia mennyatakan diriNya di dalam Alkitab yang telah diinspirasikan. Puncak pewahyuanNya terlihat dalam diri Yesus Kristus yang menjadi manusia, yang oleh pakar teologi disebaut “inkarnasi”. (Lih. Ibrani 1:1-2). Meskipun Alkitab berbicara bahwa Allah menyatakan diriNya dengan berbagai macam cara, namun kita dapat membedakan 2 macam wahyu Allah yaitu Wahyu Umum (natural) dan Wahyu Khusus (supranatural). Wahyu Umum disebut “umum” dengan 2 alasan: (1) isinya bersifat umum; (2) wahyu ini dinyatakan bagi semua orang secara umum. Pewahyuan di dalam alam semesta tidak memberikan pewahyuan sepenuhnya tentang Allah. Wahyu Umum tidak memberikan keterangan tentang Allah sebagai Penebus kepada kita, sebagaimana yang dapat kita baca di Alkitab. Allah yang menyatakan diriNya melalui alam semesta adalah Allah yang sama, yang menyatakan diriNya melalui Firman Tuhan. Oleh karena itu kekuatan dari Wahyu Umum, setiap umat manusia mengetahui bahwa Allah ada. Ateisme merupakan bentuk penyangkalan dari sesuatu yang jelas dapat diketahui sebagai kebenaran. Itulah sebabnya Alkitab berkata, “Orang bodoh telah berkata di dalam hatinya, tidak ada Allah” (Maz 14:1). Pada waktu Firman Tuhan menghardik orang ateis dengan menyebut mereka sebagai orang bodoh, itu merupakan penghakiman secara moral terhadap mereka. Menjadi orang bodoh menurut Alkitab bukan berarti itu kurang pandai atau kurang memiliki pengetahuan, tetapi merupakan suatu kondisi yang tidak bermoral. Takut akan Allah merupakan permulaan pengetahuan, demikian pula penyangkalan akan Allah merupakan kebodohan yang paling bodoh. Orang agnostik juga menyangkal kekuatan Wahyu Umum. Orang agnostik lebih lumayan ibandingkan dengan orang ateis; sebab mereka tidak menyangkali keberadaan Allah sama sekali. Mereka hanya menyatakan bahwa tidak cukup bukti untuk memutuskan apakah Allah itu ada atau tidak ada. Mereka memilih untuk tidak memutuskan apa-apa, dan membiarkan isu tentang keberadaan Allah tetap terbuka. Namun berdasarkan kejelasan dari Wahyu Umum, pandangan agnostik sama menjijikkannya dihadapan Allah. Tetapi bagi setiap orang yang pikiran dan hatinya terbuka, kemuliaan Allah merupakan hal yang sangat indah untuk dilihat, dari alam semesta di langit sampai pada partikel-partikel atom yang menghasilkan molekul yang kecil. Betapa luar biasanya Allah yang kita layani.

Manusia di dalam kejatuhannya, tidak mungkin mengerti teologi hanya dengan membangunnya berdasarkan Wahyu Umum. Untuk mengerti kebenaran pengetahuan tentang Allah, manusia harus kembali kepada Wahyu Khusus. Justru melalui Wahyu Khusus, Allah membukakan kembali tentang pengetahuan Wahyu Umum yang benar, sekaligus membuat manusia terbuka dan mengerti hal-hal rohani, sampai dimungkinkan untuk mempunyai pengetahuan yang benar tentang Allah. Ketika Rasionalisme dan Deisme menyapu Eropa, pengertian wahyu mengalami masalah besar. Akal pikiran dan perasaan manusia mau mengusai wahyu Allah. Akibatnya, wahyu ditundukkan dibawah rasio dan perasaan manusia. Sekalipun sebagian orang masih percaya kepada Wahyu Khusus, tetapi mereka tetap menganggap itu belum cukup dan harus ditundukkan je bawah pikiran manusia. Maka, wahyu tidak lagi obyektif, tetapi menjadi subyektif (tergantung manusia). Maka kita perlu kembali kepada kebenaran Firman Tuhan sendiri, yang melihat Alkitab sebagai Wahyu Khusus yang diwahyukan oleh Allah kepada manusia, dan memampukan kita untuk mengerti alam dengan baik, sehingga kita bisa dibawa mengerti Wahyu Umum, berdasarkan terang Wahyu Khusus.