Shaloom,

Saya mau tanya apakah berpacaran atau bahkan menikah dengan cewek yang lebih tua (terlepas berapa tahun perbedaannya) di dalam kekristenan karena ada beberapa temen saya yang bilang gak boleh atau gak bisa karena cewek cenderung mempunyai sifat manja dan karenanya kalau cowok lebih muda maka tidak akan ada kesatuan hati sehingga akan terjadi pertengkaran demi pertengkaran, ada juga yang bilang karena adam lebih dahulu diciptakan dari hawa jadi cowok harus lebih tua. tapi ada juga beberapa temen saya yang bilang gak apa-apa selama bisa saling menghargai, menghormati, memahami perbedaaan masing2 juga dapat saling menjaga kekudusan selama berpacaran. trus mana yang bener sih saya jadi bingung, tolongin saya yang sophia. terima kasih sebelumnya. Tuhan memberkati.

Andos rewindo

[JAWAB]:

[DSB]

Dear Andos,

Secara prinsip Firman Tuhan, tidak ada ketentuan mengenai pria harus menikahi wanita yang lebih muda. Jadi tentunya jangan menjadi halangan apabila memang kedua belah pihak menjalin hubungan cinta yang benar dan serius di hadapan Tuhan dan manusia. Namun menikahi wanita yang lebih tua memang membutuhkan perjuangan yang lebih keras dari kedua belah pihak dan juga perlu mempertimbangkan berbagai hal khusus yang berbeda dengan kalau menikahi wanita yang lebih muda. Di bawah ini saya coba berikan beberapa pertimbangan dan cara-cara untuk mengatasinya.

1. Wanita secara psikologis bertumbuh lebih cepat daripada pria, jadi kalau wanita lebih tua, membutuhkan usaha yang lebih kuat dari kedua belah pihak untuk saling mengerti satu sama lain dan beradaptasi. Terlebih lagi banyak pria cenderung masih memiliki sisi kanak-kanak sekalipun sudah dewasa. Untuk pria-pria seperti ini yang serius menjalin hubungan dengan wanita yang lebih dewasa sebaiknya belajar untuk bertumbuh lebih cepat dan mengambil tanggung jawab, sehingga dapat mengimbangi pertumbuhan psikologis dari pasangannya.

2. Sebagai orang Asia, kita lebih mendengarkan dan menghormati yang lebih tua, maka ada kecenderungan juga bagi wanita yang lebih tua untuk mendominasi dan memimpin pasangannya yang lebih muda. Hal ini bukanlah hal yang baik, karena Tuhan menetapkan pria sebagai kepala keluarga dan imam dalam keluarga. Ini bukan semata-mata karena ketetapan Tuhan begitu saja, tetapi Tuhan memang memberikan perlengkapan secara fisik, dan psikologis kepada pria untuk berperan sebagai pelindung dan pengambil keputusan dalam keluarga. Melanggar ketentuan ini dapat mengakibatkan berbagai permasalahan dalam keluarga, termasuk pola homoseksual pada anak. Jadi apabila memang ingin menikahi wanita yang lebih tua, dibutuhkan kerendahhatian dari sang wanita untuk menundukkan diri pada pimpinan sang suami.

3. Wanita lebih cepat tua daripada pria. Umur kecantikan wanita sangat terbatas, dan kecantikan wanita lebih cepat pudar setelah melahirkan anak. Kecantikan wanita berangsur-angsur akan semakin sirna di atas usia 35, tetapi sebaliknya banyak pria yang semakin memikat hati wanita di usia mapan 40. Jadi misalnya istri lebih tua 5 tahun dari suami, saat suami berusia 40 dan terlihat sangat gagah, maka sang istri sudah berusia 45 dan akan terlihat jauh lebih tua dari sang suami. Tentu saja pandangan orang lain tidak semestinya menjadi halangan bagi kedua insan yang memang tulus saling mencintai, tetapi keduanya perlu bersiap dan menguatkan tekad sehingga bisa menghadapi permasalahan ini di kemudian hari. Sang suami juga harus bisa menerima kalau si istri sangat cepat menjadi tua mengingat usianya yang lebih tua.

4. Gairah seksual pria dapat terus menyala sampai tua, bahkan sampai ajal menjemput. Sedangkan gairah seksual wanita ada batasnya. Setelah menopause, gairah seksual wanita akan semakin menurun sebagai akibat dari rendahnya hormon estrogen dalam tubuh. Menopause juga dapat mengakibatkan kekeringan pada (maaf) vagina wanita. Sehubungan dengan hal tersebut, banyak wanita emoh melakukan hubungan intim setelah menopause (rata-rata usia 45-55 tahun). Kita berandai-andai begini: pria umur 30 menikah dengan wanita usia 27 (lebih muda 3 tahun), maka si pria dapat menikmati hubungan seksual dengan istrinya selama 18-28 tahun, sampai usia istrinya kira-kira antara 45-55 tahun. Namun bila si pria berusia 30 tahun menikah dengan istri yang berumur 35 tahun misalnya, maka dia hanya dapat menikmati hubungan intim selama 10 s/d 20 tahun saja. Ini juga dapat merupakan potensi konflik dalam pernikahan anda kelak. Terlebih lagi di usia 40 tahun, merupakan usia puber kedua bagi pria dan wanita. Apabila saat sang suami berada pada usia puber tersebut sang istri sudah menopause, godaan untuk mencari WIL sedang kuat-kuatnya, tapi istri tidak bisa melayani suaminya lagi, tentu ini benar-benar ujian bagi keluarga tersebut.

Puji Tuhan saat ini sudah ditemukan pelumas (lubricant) untuk hubungan intim. Pelumas yang sudah tersedia di apotik/toko obat ini seharusnya dapat membantu pasangan yang ingin melakukan hubungan seksual namun sang istri sudah menopause.

Kesimpulannya, memang menikahi wanita yang lebih tua merupakan tantangan yang tidak mudah, namun bukan berarti tidak ada kesempatan atau tidak boleh. Saya yakin banyak pasangan yang istrinya lebih tua namun berhasil mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga mereka dengan baik. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

Sedikit catatan bagi pria yang mencintai wanita yang berusia jauh lebih tua daripada mereka. Semakin jauh perbedaan umur di antara mereka semakin berat tantangan yang dihadapi, maka sebagai orang awam saya pribadi mengajurkan idealnya beda umur mereka sebaiknya tidak lebih dari 5 tahun. Di atas beda umur tersebut, potensi konflik internal keluarga dan juga tekanan dari masyarakat akan menjadi begitu sulit untuk dihadapi. Selain itu, kedua belah pihak perlu benar-benar menguji dirinya sendiri dan pasangannya apakah itu benar-benar cinta, ataukah itu merupakan suatu kebutuhan dicintai oleh ibu (atau anak) nya sendiri (cinta dalam hubungan keluarga, bukan dalam hubungan suami-istri). Atau yang terburuknya adalah saling memanfaatkan, bukan cinta.