Di mana dalam Alkitab kita dapat menemukan bahwa HANYA Alkitab sajalah otoritas tertinggi umat Kristen?

Lagi pula, mengapa Paulus justru berkata dalam 2 Tesalonika 2:15,
“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara LISAN, maupun secara TERTULIS.” (–capslock dari saya)

Bagaimana penjelasannya?

Hireka

[JAWAB]:

[CKM]:

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Yoh 1:1. Semua keberadaan alam semesta, perkembangan sejarah dan seluruh perkembangan kemungkinan potensi yang ada mulai dengan kata ‘Firman’ (The Word – Yoh 1:1). Ini adalah ayat yang pendek tetapi mempunyai satu aspek teologis yang begitu solid. Firman ini menjadi dasar atau sumber dari semua keberadaan yang ada di dalamnya. Firman itu mencipta lalu dari ciptaan itu adanya ciptaan kemudian dan itupun dari Firman. Di dalam ayat 3 mengatakan, “Tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Ini berarti ciptaan dan penurunan ciptaan itu kembali kepada firman. Disini kita melihat pentingnya konsep ‘Sola Scriptura.’ Pertanyaannya sekarang dimana pusat konsentrisitas kemutlakan kita? Melalui Firman Tuhan. Ini menjadi inti pertama yang harus dikerjakan di dalam kekristenan kita. Yoh 1 mengatakan bahwa semua yang jadi tidak akan jadi jikalau bukan karena Firman. dan Firman inilah terang bagi dunia ini. Begitu terang ada maka kegelapanpun hilang. Yoh 1 hanya terdiri dari satu kalimat pendek tetapi tuntas untuk menyelesaikan semua problema. Disini Yohanes mau membukakan kepada manusia bahwa tanpa Firman, hidup manusia tidak ada arah dan kita akan hidup di dalam kegelapan, kecuali kita kembali kepada terang. Terang itu adalah Firman. Kembali kepada Firman adalah satu keharusan yang tidak bisa diganggu gugat. Calvin di dalam bukunya memberikan satu tema yang cukup menarik dan ketat, ketika dia mengatakan, “Without scripture we fall into error.” Seluruh hidup kita tidak mungkin jalan tanpa referensi yang mutlak. Tanpa kemutlakan kita kehilangan pegangan. Calvin mengatakan, hanya kembali kepada Alkitab kita memiliki pegangan. Kembali kepada Alkitab! Kalimat ini sebelumnya diteriakkan oleh Martin Luther. Ketika Martin Luther meneriakkan itu berarti taruhannya nyawa dan hanya karena pemeliharaan Tuhan maka Martin Luther tidak jadi dibunuh hanya ditangkap kemudian disembunyikan. Martin luther hilang beberapa tahun dan di tengah-tengah persembunyiannya dia menerjemahkan Alkitab bahasa latin ke dalam bahasa Jerman.Inti reformasi adalah menuntut kita Back to the Scripture!

2. Gereja mula-mula bersandar pada prinsip sola Scriptura. Dimana bahwa semua doktrin harus dibuktikan berdasarkan Kitab Suci dan bila bukti tersebut tak dapat diperlihatkan, doktrin tersebut akan ditolak. Bapa-bapa Gereja mula-mula (Ignatius, Polycarp, Clement, Didache, dan Barnabus) mengajarkan doktrin dan membela kekristenan melawan bidat. Untuk melaksanakannya, mereka berpegang hanya kepada Ayat-ayat Kitab Suci saja. Tulisan-tulisan mereka secara literal bernafaskan Perjanjian Lama dan Baru. Dalam tulisan para apologis seperti martir Justin dan Anthenagoras juga terlihat hal yang sama.”

3. Alkitab adalah otoritas terakhir bagi Gereja mula-mula. Secara materi cukup, dan merupakan mediator akhir dalam segala permasalahan tentang kebenaran doktrin. Sebagaimana yang dikatakan J.N.D. Kelly: “Bukti yang paling jelas mengenai martabat Ayat Kitab Suci adalah kenyataan bahwa hampir semua usaha keagamaan para Bapa rasul, apakah tujuan mereka menimbulkan polemik atau pun konstruktif, dicurahkan pada apa yang disebut sebagai penjelasan Alkitab secara terperinci. Selanjutnya, sudah menjadi anggapan dimanapun bahwa, agar suatu doktrin dapat diterima, haruslah pertama-tama menunjukkan dasar Ayat Kitab Sucinya“. [J. N. D. Kelly, Early Christian Doctrines (San Francisco: Harper & Row, 1978), pp. 42, 46.]

4. Kenyataan bahwa Gereja awal setia kepada prinsip Sola Scriptura jelas terlihat lewat karya Cyril dari Yerusalem (uskup dari Yerusalem pada pertengahan abad ke-4). Beliau adalah pengarang apa yang dikenal sebagai Catechetical Lectures. Karya ini adalah serentetan panjang kuliah yang disampaikan kepada para penganut baru yang menjelaskan secara terperinci doktrin-doktrin prinsip keimanan. Ini adalah penjelasan lengkap tentang keimanan Gereja pada masa ia hidup. Ajarannya sepenuhnya berdasarkan Ayat Kitab Suci. Malah tak ada satu pun seruan dari keseluruhan Pengajaran merujuk kepada Tradisi Kerasulan lisan yang terlepas dari Ayat Kitab Suci. Ia menyatakan dengan tegas bahwa seandainya ia memberikan suatu ajaran apapun kepada para katekumen ini yang tidak dapat disahkan berdasarkan Ayat Kitab Suci, mereka akan menolaknya. Kenyataan ini memperkuat bahwa kekuasaannya sebagai seorang uskup tergantung dari kesetiaannya kepada Ayat-ayat Kitab Suci tertulis dalam ajarannya.

Kesimpulan:

Gereja pertama diselenggarakan berdasarkan sola Scriptura. Gereja pertama beroperasi dengan berlandaskan prinsip sola Scriptura. Prinsip historis inilah yang para Reformis cari untuk dikembalikan ke dalam Gereja.

Q: Lagi pula, mengapa Paulus justru berkata dalam 2 Tesalonika 2:15,”Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara LISAN, maupun secara TERTULIS.” (–capslock dari saya)

Bagaimana penjelasannya?

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai ayat ini:

1. Kata “ajaran-ajaran” ini berasal dari kata Yunani “Paradosis” yagn artinya tradisi, doktrin atau amanat yang diserahkan atau dikomunikasikan dari seseorang kepada orang lain. Therefore, brethren, stand fast, and hold the traditions which ye have been taught, whether by word, or our epistle (KJV). Jadi, benar bahwa Gereja Pertama juga berpegang kepada konsep tradisi bila merujuk kepada kebiasaan dan praktek-praktek gerejawi. Kerap dipercaya bahwa praktek-praktek seperti itu sebenarnya diturunkan para Rasul, walau begitu semua itu tidak dapat begitu saja disahkan oleh Kitab Suci, karena praktek-praktek ini, bagaimanapun, tidak termasuk doktrin-doktrin keimanan, dan sering bertentangan diantara berbagai segmen Gereja.

2. Berdasarkan tulisan-tulisan Irenaeus dan Tertullian pada pertengahan hingga akhir abad kedua inilah pertama kalinya kita mendapati konsep Tradisi Kerasulan (tradisi yang diteruskan ke dalam gereja oleh para rasul secara lisan). Istilah “tradisi” hanya berarti ajaran. Irenaeus dan Tertullian secara tegas menyatakan bahwa semua ajaran para Uskup yang diberikan secara lisan berakar pada Ayat-ayat Suci dan dapat dibuktikan dari Ayat-ayat Suci tertulis/Alkitab/Sola Scriptura. Kedua orang ini menyatakan makna kedoktrinan yang sebenarnya dari Tradisi Kerasulan yang secara lisan disampaikan dalam gereja-gereja.Dari sini, dapat dilihat secara jelas bahwa semua doktrin mereka tersebut berasal dari Ayat-ayat Kitab Suci. Tak satupun doktrin, yang mereka sebut sebagai Tradisi kerasulan, yang tak terdapat dalam Ayat-ayat Suci. Dengan kata lain, Tradisi kerasulan yang didefinisikan oleh Irenaeus dan Tertullian hanyalah ajaran Ayat-ayat Kitab Suci. Irenaeus lah yang menyatakan bahwa sementara para Rasul yang pada mulanya berkotbah secara lisan, ajaran mereka kemudian dibuat tulisan (Ayat-ayat Suci), dan sejak saat itu Ayat-ayat Suci menjadi tonggak dan dasar keyakinan Gereja. Pernyataannya secara jelas adalah sebagai berikut,”Kita telah belajar tentang rencana keselamatan kita dari mereka yang lewat mana kabar baik turun kepada kita, yang telah mereka sampaikan di depan umum, dan, kemudian, dengan kehendak Allah, diteruskan kepada kita dalam Ayat-ayat Suci, sebagai dasar dan tiang kepercayaan kita.” [Alexander Roberts and James Donaldson, editors, Ante-Nicene Fathers (Peabody: Hendriksen, 1995) Vol. 1, Irenaeus, “Against Heresies” 3.1.1, p. 414.] . Tradisi, saat dikaitkan pada pernyataan lisan seperti khotbah atau pengajaran, dipandang terutama sebagai penyampaian kebenaran Kitab Suci secara lisan, atau penyusunan kebenaran Alkitab dalam ekspresi keimanan. Tak ada seruan dalam tulisan Irenaeus atau Tertullian tentang Tradisi mengenai doktrin yang tak terdapat dalam Kitab Suci.

3. Gereja Katolik Roma menyatakan memiliki suatu Ajaran Kerasulan lisan yang terlepas dari Ayat Kitab Suci, dan yang mengikat manusia. Mereka merujuk pada pernyataan Paulus dalam 2 Tesalonika 2:15. Roma menegaskan bahwa, berdasarkan ajaran Paulus dalam ayat ini, ajaran sola Scriptura adalah salah, karena ia menyampaikan ajaran-ajaran kepada penduduk Tesalonika secara lisan maupun tertulis.

Tetapi yang menarik dalam penegasan tersebut adalah bahwa para pendukung Roma tidak pernah mendokumentasikan doktrin-doktrin khusus Paulus yang mereka katakan ada pada mereka, dan menurut mereka mengikat manusia. Dari Francis de Sales hingga karya-karya Karl Keating dan Robert Sungenis terdapat bukti kuat yang amat nyata tentang ketiadaan dokumentasi dari doktrin-doktrin khusus yang Rasul Paulus tunjukkan. Sungenis mengedit suatu buku sebagai pembelaan bagi ajaran Katolik Roma tentang tradisi yang berjudul Not By Scripture Alone. Karya ini dipuji sebagai suatu sangkalan yang pas terhadap ajaran Protestant tentang sola Scriptura. Buku yang tebalnya 627 halaman itu, tidak sekalipun dalam buku itu pengarang menjelaskan kandungan doktrinal dari apa yang dianggap sebagai Tradisi kerasulan yang mengikat semua manusia! Bagaimanapun, kita diberitahu bahwa itu ada, bahwa Gereja Katolik Roma memilikinya, dan bahwa kita diikat, oleh karena itu, supaya tunduk pada gereja ini yang memiliki wahyu Tuhan secara utuh dari para Rasul. Apa yang Sungenis dan pengarang Katolik Roma lainnya gagal untuk menjelaskan, adalah isi dan doktrin-doktrin yang jelas dari apa yang disebut “Tradisi kerasulan”. Alasan sederhana bahwa mereka tidak melakukannya adalah karena itu tidak ada. Bila tradisi seperti itu ada dan penting mengapa Cyril dari Yerusalem tidak menyinggungnya dalam Catechetical Lectures?

Cyril dari Yerusalem menyatakan dengan tegas bahwa seandainya ia memberikan suatu ajaran apapun kepada para katekumen ini yang tidak dapat disahkan berdasarkan Ayat Kiab Suci, mereka akan menolaknya. Kenyataan ini memperkuat bahwa kekuasaannya sebagai seorang uskup tergantung dari kesetiaannya kepada Ayat-ayat Kitab Suci tertulis dalam ajarannya. Kutipan-kutipan berikut adalah beberapa pernyataannya tentang otoritas final Ayat Kitab Suci (statements on the final authority of Scripture from these lectures).

“This seal have thou ever on thy mind; which now by way of summary has been touched on in its heads, and if the Lord grant, shall hereafter be set forth according to our power, with Scripture proofs. For concerning the divine and sacred Mysteries of the Faith, we ought not to deliver even the most casual remark without the Holy Scriptures: nor be drawn aside by mere probabilities and the artifices of argument. Do not then believe me because I tell thee these things, unless thou receive from the Holy Scriptures the proof of what is set forth: for this salvation, which is of our faith, is not by ingenious reasonings, but by proof from the Holy Scriptures.”[A Library of the Fathers of the Holy Catholic Church (Oxford: Parker, 1845), "The Catechetical Lectures of S. Cyril" Lecture 4.17]

“But take thou and hold that faith only as a learner and in profession, which is by the Church delivered to thee, and is established from all Scripture. For since all cannot read the Scripture, but some as being unlearned, others by business, are hindered from the knowledge of them; in order that the soul may not perish for lack of instruction, in the Articles which are few we comprehend the whole doctrine of Faith…And for the present, commit to memory the Faith, merely listening to the words; and expect at the fitting season the proof of each of its parts from the Divine Scriptures. For the Articles of the Faith were not composed at the good pleasure of men: but the most important points chosen from all Scriptures, make up the one teaching of the Faith. And, as the mustard seed in a little grain contains many branches, thus also this Faith, in a few words, hath enfolded in its bosom the whole knowledge of godliness contained both in the Old and New Testaments. Behold, therefore, brethren and hold the traditions which ye now receive, and write them on the table of your hearts””. [A Library of the Fathers of the Holy Catholic Church (Oxford: Parker, 1845), "The Catechetical Lectures of S. Cyril" Lecture 5.12. ]

Perhatikan tulisan di atas dimana Cyril menyatakan bahwa para katekumen menerima tradisi, dan ia mendorong mereka untuk berpijak kepada tradisi/pengajaran, yang mereka terima sekarang. Dari sumber manakah tradisi/pengajaran ini berasal? Sudah jelas berasal dari Ayat-ayat Kitab Suci, ajaran atau tradisi atau wahyu Tuhan, yang dijalankan para Rasul dan disampaikan kepada Gereja, dan yang sekarang dapat di diperoleh hanya lewat Ayat Kitab Suci.

Jadi jelas bahwa Cyril dari Yerusalem, yang menyampaikan keseluruhan dari keimanan kepada para penganut baru ini, tidak membuat satu pun seruan terhadap tradisi lisan untuk mendukung ajaran-ajarannya. Keseluruhan keimanan didasarkan pada Ayat Kitab Suci dan hanya Ayat Kitab Suci saja. (It is significant that Cyril of Jerusalem, who is communicating the entirety of the faith to these new believers, did not make a single appeal to an oral tradition to support his teachings. The entirety of the faith is grounded upon Scripture and Scripture alone).

Satu-satunya wahyu khusus yang manusia miliki sekarang dari Tuhan yang disampaikan kepada para Rasul adalah Kitab Suci Tertulis/Alkitab.

Kesimpulan:

Sewaktu Paulus menulis kepada jemaat di Tesalonika (2 Tes 2:15), saat itu Alkitab PB belum ada, jadi semua wahyu masih berjalan progresif, dan saya percaya waktu itu rasul Paulus tidak sesat mengajar. Tapi setelah Alkitab lengkap, para rasul dan nabi stop. Ini inti konsep inspirasi.

Irenaeus lah yang menyatakan bahwa sementara para Rasul yang pada mulanya berkotbah secara lisan, ajaran mereka kemudian dibuat tulisan (Ayat-ayat Suci), dan sejak saat itu Ayat-ayat Suci menjadi tonggak dan dasar keyakinan Gereja. Ini adalah keyakinan dan praktek Gereja mula-mula. Prinsip ini dianut oleh Reformator. Mereka mencoba untuk mengembalikan itu kepada Gereja setelah korupsi kedoktrinan masuk lewat pintu tradisi.

Ajaran tentang suatu bagian yang terpisah dari wahyu kerasulan yang dikenal sebagai Tradisi yang adalah lisan sifatnya berkembang bukan dengan Gereja Kristen tapi lebih dengan ajaran Gnostic. Ini adalah usaha kaum Gnostic untuk mendukung kekuasaan mereka dengan memaksakan bahwa Ayat-ayat Kitab Suci tidaklah cukup. Mereka menyatakan memiliki wahyu Kerasulan yang utuh karena mereka tidak hanya memiliki wahyu yang tertulis mengenai kerasulan dalam Ayat-ayat Kitab Suci tapi juga tradisi lisannya, dan juga, kunci untuk menafsirkan dan memahami wahyu tersebut.

Sebagaimana Para Bapa Gereja awal membantah ajaran tersebut dan menegaskan dengan suatu kepercayaan terbatas terhadap dan seruan kepada Kitab Tertulis/Alkitab, maka kita juga harus.

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, dan Aku mengenal mereka, dan mereka mengikut Aku” Yohanes 10:27