Menurut pandangan Kristiani, apakah tujuan dari puasa? apakah puasa salah satu kewajiban orang percaya juga?

NN

[JAWAB]:

[CKM]:

Tuhan Yesus pernah mengajarkan bahwa ada saat-saat tertentu di mana pelayanan kita menuntut satu pergumulan yang lebih serius, yang tidak dapat dilakukan hanya dengan doa, melainkan dengan puasa juga. Bahkan dalam rangkaian khotbah di bukit sebagaimana tercantum dalam Matius 5-7 puasa termasuk dalam trilogi (yaitu doa, puasa dan memberi sedekah). Pada ayat-ayat tersebut (Mat 6:16-18) Tuhan Yesus menggunakan kata yang sama dengan yang digunakannya pada saat Dia menjelaskan tentang doa, yaitu kata “apabila”. Dengan kata lain puasa, sebagaimana doa, adalah sesuatu yang wajar dilakukan oleh orang kristen, dan yang seharusnya ikut membentuk pertumbuhan  kerohanian kita, disiplin rohani yang boleh kita mengerti sebagai alat anugerah.

Banyak orang berpendapat bahwa doa yang disertai puasa, lebih berkuasa / lebih dijawab oleh Tuhan. Tetapi ini tidak benar! Puasa bukan senjata pamungkas untuk menodong Allah agar mengabulkan doa-doa kita… tetapi bentuk keseriusan kita memohon belas kasih-anNya.Tuhan menghendaki kita berpuasa (Yoel 2:12; Mat 6:16-17)

Memang, dalam Alkitab ada orang yang berdoa sambil berpuasa dan doanya lalu dikabulkan (2Taw 20:3,4,14-17  Ezra 8:21-23). Tetapi, ada juga yang berdoa sambil berpuasa, tetapi doanya tetap ditolak oleh Tuhan (2Sam 12:16,18,21-23). Dan banyak orang yang berdoa tanpa puasa, tetapi doanya dikabulkan oleh Tuhan (Luk 1:7,13  Kis 4:29,31).

Yang pertama, konsep spiritualitas kekristenan bukanlah satu bentuk spiritualitas yang “ne-gativ” (negativ, maksudnya bukan buruk atau jelek, melainkan sebagai lawan kata dari positiv). Artinya seorang kristen memandang puasa bukan terutama sebagai larangan, tidak boleh makan, tidak boleh minum, tidak boleh tidur dsb, sebagaimana spiritualitas kristen juga bukan terdiri dari tidak melakukan ini dan tidak melakukan itu (misalnya tidak ke bioskop, tidak ke theater, tidak minum anggur, tidak hidup mewah dlsb), karena penyangkalan diri seperti itu hanya bersifat “negativ”, maksudnya tidak ini dan tidak itu.  Ada seorang anak kecil yang ditanya oleh ibunya dengan nada introspeksi, “Apa yang sedang kamu lakukan?” Anak itu menjawab dengan penuh percaya diri, “Nothing!” Dia pikir dengan tidak melakukan apa-apa dia bebas dari kesalahan, karena dia tidak melakukan ini dan itu. Jika konsep kekristenan kita seperti ini, kekritenan yang pasiv, pasiv tidak melakukan yang salah, pasiv terhadap segala macam keinginan (tidak menginginkan apa-apa lagi), maka konsep spiritualitas kita berkisar hanya pada level “negativ”.

Dan karena itu yang terjadi dalam puasa seharusnya adalah pada saat-saat seperti itu saya menikmati Allah (bukan memikirkan kapan nih boleh makan?). Dan inilah yang disebut dengan konsep yang “positiv”. Jadi saya bukan sekedar menahan diri dari tidak makan atau minum (seperti orang diet :) melainkan secara positiv saya merenungkan diri  Allah, kemuliaanNya, kekudusanNya, belas-kasihanNya, cinta kasihNya, kehendakNya, pekerjaanNya, kerajaanNya etc. Seringkali puasa kita gagal karena kita tidak berkonsentrasi kepada Allah, melainkan kepada “belum boleh makan, jangan dulu, tahan sebentar lagi, hanya beberapa jam lagi”. Akhirnya yang menjadi kenyataan adalah saya tidak sedang benar-benar berpuasa di hadapan Tuhan.

Berikutnya, puasa sebenarnya adalah satu tindakan yang sangat natural, sama naturalnya dengan saat-saat di mana kita mengalami satu beban atau pergumulan, kesulitan yang kita rasa berat sehingga akhirnya kita jadi susah makan, bahkan seringkali juga susah tidur. Demikian juga halnya dengan puasa: ada satu pergumulan dan concern yang serius sehingga hal itu menyebabkan kita seperti ‘lupa’ atau tidak bisa makan. Jadi yang terjadi di sini adalah keengganan untuk makan atau minum karena ada satu hal yang berdasarkan prioritas jauh lebih penting.

Hal ini juga sekaligus menjadi satu latihan/disiplin rohani yang baik untuk kita, karena di sini kita belajar untuk menyangkal diri, bahkan dengan menyangkali kebutuhan kita yang paling primer demi urusan kerajaan Allah. Makan, minum atau tidur adalah satu kebutuhan yang boleh dikatakan paling primer, bukan kebutuhan yang bersifat luxus dan untuk inipun kadang Tuhan menuntut kita untuk menyangkalinya. Demikian pula dalam kehidupan kristen ada waktu di mana kita merasa dituntut untuk menyangkal diri seolah sudah di luar batas kemampuan kita, bahkan untuk  menyangkali hal-hal yang paling primer dalam hidup kita, tapi justru itulah saat atau momen yang penting bagi pertumbuhan dan kedewasaan rohani yang semakin menyerupai Kristus.

[DSB]:

Puasa adalah suatu disiplin rohani yang baik yang sangat berguna bagi pertumbuhan iman kita. Dalam berpuasa yang utama bukanlah meminta sesuatu yang sangat kita butuhkan, melainkan lebih mengarahkan hati dan pikiran kita kepada kehendak Allah, dan menyerahkan kebutuhkan atau keinginan kita itu kepada kedaulatan penuh Allah. Dengan demikian puasa bukanlah suatu sogokan atau bahkan tindakan menyakiti diri sendiri supaya Allah mengabulkan permohonan kita. Hal seperti ini lazim dilakukan oleh anak-anak yang meminta sesuatu kepada orang tuanya. Tapi dalam berpuasa kita kembali diselaraskan dengan kehendak dan rencana Allah yang jauh lebih tinggi dari pikiran kita.

Puasa juga dapat kita lakukan saat kita menghadapi suatu keputusan yang sulit dalam hidup kita. Di sini puasa berarti benar-benar mengarahkan hati dan pikiran kita kepada kehendak Allah, supaya kita dapat lebih mendengar kehendak Allah dalam keputusan kita tersebut.

Yesus sebelum memulai pelayanannya berpuasa selama 40 hari, ini juga adalah hal yang seharusnya kita tiru. Sebelum memulai suatu pelayanan, baiklah kita berpuasa supaya apa yang akan kita lakukan bergantung pada kekuatan Allah, bukan kepada kekuatan kita sendiri.

Hal yang lain tentang puasa dicatat sewaktu Yunus datang menyerukan pertobatan kepada orang Niniwe. Di sana dikatakan bahwa orang-orang Niniwe percaya kepada pemberitaan Yunus dan memaklumkan puasa nasional (Yunus 3:5). Di sini berarti puasa juga dapat dilakukan sebagai suatu tanda pertobatan diri kita yang sungguh-sungguh.

Bagaimana kita berpuasa? Pada masa kini praktek puasa dalam kekristenan biasanya menahan lapar pada periode tertentu, tetap bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa dan hanya menggantikan waktu makan dengan doa. Namun puasa akan lebih dapat dinikmati sebagai hubungan yang erat dengan Tuhan dan suatu penyandaran diri pada Tuhan apabila dalam puasa kita mengasingkan diri, benar-benar hanya berdoa, tidak melakukan kegiatan sehari-hari dan hanya memfokuskan diri kepada Tuhan saja.