saya suka dg pembahasan bahasa roh yg sophia sampaikan.
lalu, saya ingin menanyakan bagaimana tentang makanan haram dan halal dalam perjanjian lama dan baru?
pertanyaan ke2 : hari sabat apa harus kita ikuti seperti yang tercantum dalam 10 hukum Allah terutama yang ke-empat?
trims gbu more

Noeoz

[JAWAB]:

[CKM]:

1. Soal makanan Halal dan Haram ada tertulis di Im 11 & Ul 14:3-20. Tetapi Im 11 & Ul 14:3-20 adalah ceremonial law (= hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan) yang sudah dihapuskan setelah kematian / kebangkitan Kristus (bdk. Ef 2:15a; Ibr 10:1-18; Ibr 8-9). Semua ini jelas menunjukkan bahwa ceremonial law, tidak berlaku lagi pada jaman Perjanjian Baru.

Kis 11:9-16 memang bisa dijadikan dasar untuk berkata bahwa Im 11 & Ul 14:3-20 dibatalkan, dan dengan demikian orang kristen boleh makan daging binatang apapun. Tetapi arti yang terutama dari penglihatan itu adalah: jangan menganggap orang non Yahudi sebagai orang najis, orang yang tidak bisa diselamatkan, orang yang tidak perlu diinjili, dsb.

2a. Hari Sabat sebetulnya adalah hari Sabtu. Bangsa Israel menghitung hari dengan cara berbeda dari orang Cina. Bagi orang CIna, hari pertama adalah hari Senin, tetapi bagi bangsa Israel, hari pertama adalah hari Minggu, hari kedua adalah hari Senin, dst., sehingga bagi mereka hari ketujuh adalah hari Sabtu. Jadi, hari Sabat sebetulnya (pada jaman PL) adalah hari Sabtu. Juga yang perlu diingat adalah bahwa pergantian hari mereka terjadi pada jam 18.00. Jadi kalau bagi kita masih Jumat jam 18.00, bagi mereka saat itu sudah mulai masuk hari Sabtu/Sabat. Sabat diubah dari Sabtu menjadi Minggu. Sabat Kristen berbeda harinya dengan Sabat Yahudi. Bagi orang Kristen, hari Sabat berubah dari Sabtu menjadi Minggu. Alasannya karena Kristus bangkit pada hari Minggu, dan 2x Ia menampakkan diri setelah kebaktian, juga pada hari Minggu. Pengakuan Iman Westminster XXI.7 berbunyi,”Menurut hukum alam, seharusnya manusia menyisihkan bagian waktu secara umum untuk menyembah Allah. Begitu pula dalam Firman-Nya Dia menetapkan secara khusus satu hari dari ketujuh hari menjadi Hari Sabat, yang perlu dikuduskan untuk Dia. Hal itu Dia lakukan melalui suatu perintah yang tegas, yang termasuk hukum kesusilaan, yang berlaku untuk selamanya, dan yang mengikat semua orang dari segala umur.[a] Sejak permulaan dunia hingga kebangkitan Kristus hari itu adalah hari terakhir tiap-tiap minggu.[b] dan sejak kebangkitan Kristus hari itu diubah menjadi hari pertama tiap-tiap minggu. Dalam Alkitab hari itu disebut Hari Tuhan.[c] dan perayaannya harus diteruskan sampai akhir dunia, sebagai Hari Sabat Kristen.[d] (a. Kel 20:8,10:11; Yes 56:2-4,6-7. b. Kej 2:2-3; 1Ko 16:1-2; Kis 20:7. c. Wah 1:10. d. Kel 20:8,10 bersama Mat 5:17-18.).” Sejak kebangkitan Tuhan Yesus, orang-orang kristen berbakti pada hari pertama/hari Minggu. (Kis 20:7; 1 Kor 16:1-2). Dari Kis 20:7 dan 1 Kor 16:1-2 terlihat bahwa berbakti pada hari Minggu ini sudah dimulai sangat awal. Beberapa penafsir mengatakan bahwa sejak awal abad kedua, seluruh gereja sudah meninggalkan Sabat Yahudi (Sabtu), dan menggunakan hari Minggu sebagai hari Sabat/Kebaktian. Ke-universal-an seperti ini tidak mungkin terjadi kalau hanya orang-orang kristen tertentu yang mengubahnya. Pasti rasul-rasul yang mengubahnya, dan mereka tidak mungkin mengubah berdasarkan kemauan/pemikiran mereka sendiri. Mereka pasti mendapat perintah dari Tuhan. Perhatikan perkataan dari Charles Hodge mengenai 1 Kor 16:2,” Bahwa hari yang pertama dari minggu, oleh penetapan ilahi, dijadikan hari kudus bagi orang-orang kristen, bisa disimpulkan, … Dari praktek yang seragam/sama dari seluruh gereja, praktek mana, karena mempunyai bukti yang jelas dari persetujuan/dukungan rasuli, adalah bersifat memerintah/mempunyai wewenang.”

b. Pengakuan Iman Westminster XXI.8 berbunyi,” Hari Sabat itu dikuduskan untuk Tuhan bila orang, setelah menyiapkan hatinya dan mengatur urusan-urusannya yang biasa dengan sepatutnya, menjalankan istirahat kudus sepanjang hari dari perbuatan, perkataan, dan pikiran mereka sendiri berkenaan dengan kesibukan dan hiburan duniawi mereka, [Kel 20:8; 16:23, 25, 26, 29, 30; 20:8; 31:15-17; Yes 58:13; Neh 13:15-19, 21-22.] dan juga menyibukkan diri seluruh waktu itu dalam pelaksanaan ibadah umum dan perseorangan, dan dalam tugas-tugas yang memang mutlak perlu serta dalam perbuatan belas kasih.[ Yes 58:13; Mat 12:1-13.].

Ya, kita harus mengikuti apa yang tercantum dalam hukum ke 4 mengenai sabat. Sabat merupakan type dari istirahat di surga, dan karena itu tidak mungkin dihapuskan sebelum anti type/penggenapannya terjadi (Ibr 4:4-11 ). Sabat adalah type dari istirahat di surga, itu belum terjadi / tergenapi sampai kita masuk surga. Karena itu, kewajiban berkenaan dengan Sabat terus berlaku. Sedangkan menurut Calvin, Perjanjian Baru memandang hari Sabat sebagai salah satu bayangan yang wujud aslinya menunjuk kepada Kristus (Kol. 2:16). Walau ada sedikit perbedaan, tetapi intinya sama, yaitu hari Sabat diadakan supaya saudara bebas dari pekerjaan sehari-hari sehingga bisa berbakti dan melayani Tuhan (Mat 12:5).

Allah memberikan sabat bagi kita sebagai hadiah (gift), yaitu hari perhentian dari pekerjaan kita dan “beristirahat” di dalam Dia. Dan Allah sendiri juga yang memerintahkan semua ciptaan-Nya untuk merayakan sabat dan beristirahat di dalam Dia agar hidup kita dapat disegarkan kembali (Keluaran 20:8-9; Imamat 25:1-5. Sesungguhnya ketika kita merayakan sabat sesuai dengan kehendak-Nya, kita akan mendapatkan “kepenuhan (fulfillment)” di dalam setiap pekerjaan dan kegiatan kita dalam dunia ini sampai Tuhan memanggil kita memasuki perjamuan-Nya di perhentian kekal nanti. Michael Horton kembali menyatakan bahwa tanpa adanya kekudusan (seperti transendensi–perasaan dan pengakuan akan kebesaran TUHAN, seperti pengalaman para Pemazmur), kita tidak dapat menikmati hidup ini, termasuk di dalam bekerja. Bruce Waltke dalam buku Genesis: A Commentary menuliskan, “Observance of the sabbath by man is thus confession that Yahweh is Lord and Lord of all lord. Sabbath keeping expresses man’s commitment to the service of the Lord.”

Sebagai penutup saya copy paste dari ringkasan khotbah dari Ev. Hendry Ongkowidjojo sebagai panduan praktis dalam menjalankan Sabat:

Ada 3 hal yang perlu kita ingat berkenaan dengan kita menguduskan satu hari dalam satu minggu.

Pertama, kita perlu berhenti bekerja agar Tuhan dapat bekerja di dalam kita. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak dapat meminta Tuhan bekerja tanpa kita harus menyediakan waktu secara khusus dengan tidak mengurusi urusan kita sendiri. Sebuah contoh: kita sering merasa bahwa kita dapat beribadah sambil sekaligus mengurus urusan kita setelah ibadah selesai, seperti kita dapat membuka toko atau berekreasi sepulang dari gereja. Pertanyaannya adalah, seberapa jauh kita dapat menjaga pikiran kita tetap terfokus di dalam ibadah jika setelahnya kita tahu kita akan melakukan berbagai hal yang kita nanti-nantikan. Bukankah banyak jemaat gelisah ketika ibadah tidak kunjung selesai karena itu berarti gangguan terhadap apa yang mereka rencanakan setelah ibadah? Bukankah banyak jemaat yang “terpaksa” meninggalkan ibadah sebelum ibadah itu selesai karena ada urusan mendesak lain yang harus diselesaikan? Salah satu alasan mengapa Calvin berbicara begitu positif tentang kemerdekaan Kristen, termasuk yang berkenaan dengan hari sabat, adalah karena ia begitu menyadari kelemahan-kelemahan manusia seperti ini. Calvin sadar bahwa orang Kristen adalah orang yang merdeka. Tetapi ia juga sadar bahwa orang Kristen seringkali tanpa sadar membelenggu kemerdekaan mereka sendiri. Kesadaran seperti inilah yang sering tidak kita miliki sehingga setelah kita memakai kebebasan dengan tidak bertanggung-jawab, kita menjadi ketakutan dan jatuh pada ekstrim yang lain. Kita menjadi ketakutan untuk memakai kebebasan sama sekali. Dan hal ini pun yang sering kita alami berkenaan dengan hari Sabat.

Kedua, kita perlu mengkhususkan hari minggu demi ketertiban gereja dan kesehatan rohani kita sendiri. Hari minggu seharusnya menjadi hari khusus di mana kita belajar dan merenungkan Firman Tuhan. Hari sabat juga harus kita khususkan untuk mengingat apa yang telah Tuhan kerjakan untuk kita. Setiap hari mungkin kita telah mengucap syukur atas makanan dan berkat-berkat yang lain, tetapi pada hari sabat seharusnya kita bisa merenungkan secara khusus apa yang telah Tuhan kerjakan di dalam dan melalui kita selama 6 hari sebelumnya. Apa yang sudah diberikan-Nya dan apa pula yang sudah kita berikan kepada-Nya? Di hari minggu kita juga bisa mengevaluasi hidup kita yang tidak pernah sempat kita lakukan selama 6 hari sebelumnya. Melupakan semua ini akan membuat rohani kita kering kerontang.

Dan yang ketiga, pada hari sabat kita juga perlu memberikan waktu istirahat kepada orang-orang yang telah Tuhan percayakan kepada kita. Menurut Calvin, sudah sepatutnya kita juga memberikan istirahat kepada orang-orang yang bekerja kepada kita. Selama 6 hari kita mau mereka bekerja sungguh-sungguh untuk kita, maka pada hari sabat kita harus memberikan kesempatan mereka untuk beristirahat, beribadah, dan berkumpul bersama keluarganya. Kita perlu memberi mereka kesempatan untuk menarik nafas, karena sesungguhnya itulah arti harafiah dari sabat.

Kalau kita memelihara hari sabat dengan baik dan seimbang, maka kita akan melihat bagaimana Tuhan memelihara kita dalam 6 hari yang lain. Tidak berati ini yang menjadi motivasi kita. Tetapi Tuhan Yesus berkata bahwa barangsiapa yang terlebih dahulu mencari Kerajaan Allah, maka segala sesuatu akan ditambahkan kepadanya. Biarlah kita boleh mengingat bahwa hari Sabat diberikan untuk kebaikan kita. Kita tidak mensakralkan hari itu tetapi kita juga tidak seharusnya melupakan arti pentingnya. Biarlah keseriusan Perjanjian Lama akan Perintah Sabat mengingatkan kita bahwa melupakan segala yang Allah lakukan adalah awal dari semua pelanggaran kita yang lain.

Pembahasan mengenai Sabat ini sangat kompleks, sehingga saya batasi sampai sini.