Saya seorang aktivis di sebuah gereja injili di Bandung, dan gereja kami percaya bahwa teologi reformed adalah teologi yang benar. Namun saya melihat bahwa saya dan orang-orang yang saya bimbing dengan teologia reformed, ternyata tidak menunjukkan dampak yang signifikan dalam hidup kami dan lingkungan kami, malah saya melihat teman saya yang tidak mengerti teologi reformed dan menerima saja apa yang dia anggap benar, malah lebih sukses hidupnya dan lebih berdampak pada teman-temannya. Saya berpikir apakah kita ini sombong dan seharusnya membuka diri kepada teologi-teologi lain selain reformed ini? Dan kalau teologi reformed memang adalah teologi yang benar, mengapa tidak terjadi perubahan hidup?

Joice di Bandung

JAWAB:

[CKM]:

Sebetulnya, belajar itu ada banyak macamnya. Bhs Inggris menggunakan dua kata: study dan learn. Dua kata itu mempunyai perbedaan yang besar. Study hanya memakai otak yg bersifat cognitive (knowing), sedangkan learn mencakup aspek2 lain selain cognitive (knowing), yaitu misalnya praktek/pengalaman (doing) dan penjiwaan/the embodiment of truth to our very self (being). Itulah yang dinamakan dengan Knowing, Being & Doing yang di dalam Theologi Reformed sgt ditekankan.

Belajar yg baik harus menghasilkan transformasi hidup. Terlepas dari Teologi Reformed apa nggak. Teologi yg sejati harus merubah hidup, tetapi perubahan hidup ada yang karena perubahan luar, dan ada yg karena perubahan internal. Kalau perubahan itu hanya perubahan external, akan berdampak buruk, karena hanya merupakan show off. Itu akan menimbulkan sifat kemunafikan, dimana tekanan pada perubahan tampilan. Teologi sejati harus merubah dari dalam. Jadi Teologi Reformed jangan dimengerti hanya dari aspek kognitif, tetapi harus ada tuntutan utk orang itu bertobat. Teologi Reformed sekali lagi sgt mementingkan transformasi hidup.

[DSB]:

Adalah mungkin seseorang mengaku percaya Yesus namun tanpa iman. Seringkali Injil yang diberitakan tidak lengkap sehingga menciptakan petobat-petobat palsu yang menerima Yesus sebagian. Maksud saya adalah Yesus diberitakan sebagai Allah yang mengasihi kita dan mengampuni segala dosa kita, juga menolong kita dari segala kesulitan, namun tidak disampaikan mengenai bagaimana DOSA itu menghancurkan/merusak diri semua orang yang belum percaya. Tidak disampaikan betapa Allah adil dan Dia akan MENGHUKUM DENGAN BERAT DOSA sekecil apapun itu karena Allah juga KUDUS tanpa noda setitikpun. Akibatnya banyak orang Kristen yang tidak menyadari tentang betapa mengerikannya DOSA itu dan bahwa dia pasti MATI kalau tidak menyerahkan hidupnya pada Kristus. Percaya yang menyelamatkan adalah orang yang mempercayakan seluruh hidupnya pada Kristus, dan sebagai konsekuensinya hidup dia bukan lagi ditangannya sendiri lagi, melainkan harus taat kepada Kristus. Nah hal seperti ini kurang ditekankan saat tantangan untuk menerima Kristus dilakukan.

Maka untuk masalah seperti yang Joice sampaikan di atas, maka yang perlu dipertanyakan mungkin memang bukan teologia atau penafsiran Reformednya, tapi apakah Anda dan lingkungan Anda sudah sungguh-sungguh bertobat ataukah hanya menggunakan Yesus sebagai kepercayaan agama saja?