Howdy ev’rybody,

gua mu sharing sekalian tanya juga nih.. tahun lalu seorang pria di kantor gua gave me a purpose… he asked me to be his girlfriend… saat itu gua jawab “no” karena gua beneran ga ada feeling apa2 sama dia. ga nyerah gitu aja, dia mulai sering datang ke ruangan gua meski cuman untuk berbicara satu ato dua patah kata. dia temen satu kantor and we spent almost the whole day together. lama kelamaan feeling suka itu timbul. in a few months, he tried to asked me again and i said “yes”.

He is a Moslem and 8 years older than me. gua sih ga mau bo’ong dengan diri gua sendiri. gua akui gua suka dia.

Awalnya gua merasa baik2 saja.. tapi lama kelamaan gua mulai merasa kemunduran rohani yang sangat tajam. Mungkin karena kita beda agama, gua jadi jarang banget berdoa apalagi saat teduh. gua mulai jadi ga peduli akan hati Allah… hal ini terjadi terus menerus hingga satu saat Allah yang baik nyadarin gua bahwa kami tidak akan dapat bersatu. Saat itu gua ga mudah menerima suara-Nya, gua masih maksa dengan perasaan gua. Gua yakin pasdti ada jalan untuk kami. Tidak pernah terlintas dalam pikiran ato hati gua untuk pindah agama. Satu hal yang pasti, pengalaman gua ama Tuhan jauh lebih luar biasa dibanding apapun juga termasuk cowok dan syukur kepada Tuhan, Dia Allah yang baik.. yang tidak pernah meninggalkan perbuatan tanganNya dan tidak pernah membiarkan gua jatuh sampai tergeletak. sedikit demi sedikit Tuhan melembutkan hati gua untuk berpisah dengan cowok itu and finally even i had a lot unanswered question, i gave up! I left him.

Now, he’s in relationship with other girl, Moslem one, and they’re gettting mariage next year. Melihat bagaimana mereka membangun hubungan mereka, gua mulai mengerti dan bersyukur Tuhan tidak membiarkan gua tetep berhubungan dengan dia. Melalui pengalaman ini, gua mulai mengerti arti kalimat “gelap tidak dapat bersatu dengan terang”.

Kami masih tetap satu kantor dan tetap berteman meskipun tidak sedekat dahulu meskiii terkadang dia masih suka mencoba menggoda saya.

Gua berharap pengalaman gua ini tidak terjadi pada orang2 Kristen yang lain. Jangan sampai Tuhan harus menggunakan hal yang buruk untuk mengajarkan kita hanya karena kedegilan diri kita. Demikian sharing gua.. semoga menjadi berkat

Nah, yang mu gua tanya,
kenapa Tuhan mengijinkan perasaan suka itu masuk dalam hati gua padahal Dia tahu bahwa cowo itu tidak seiman and of course He doesn’t allowed me to make a relation with him? Apakah ini semua emang salah gua dan tidak ada campur tangan Tuhan sama sekali?

Sampe saat ini gua ga tau apa yang ingin Tuhan ajarkan kepada gua melalui pengalaman ini?
Please help me to answerd my question. thx. Gbu!!

Regards,

Ms. X

[JAWAB]:

[DSB];

Hi X,
Bersyukurlah sebab Tuhan memang sudah terbukti baik buat X. Dia juga yang menolong X untuk dapat berpisah dengan cowo X.

Terang memang tidak dapat bersatu dengan gelap. Bahkan dalam kadar kepercayaan manusia yang umum pun, menikah dengan kepercayaan yang berbeda menghasilkan rupa-rupa kesulitan-kesulitan yang tidak semua orang mampu menanggungnya. Istilahnya sama-sama gelap aja dah repot, apalagi kalau ajaran terang menikah dengan gelap… walah tak terbayangkan tingkat kesulitan yang harus dihadapi.

Tuhan memang punya kehendak, namun hal itu tidak menjadikan Tuhan kita diktaktor yang menciptakan kita untuk meresponi perintahNya seperti robot. Ada kehendak bebas bagi manusia untuk memilih, namun tentunya kebebasan itu juga mengandung tanggung jawab bagi orang yang mengambil keputusan.

X, rasa suka bisa timbul kapan saja dan kepada siapa saja, itu adalah respon alami manusia, itu memang sudah kodratnya manusia untuk saling tertarik kepada lawan jenisnya. Saya percaya Tuhan tidak menetapkan siapa punya jodoh siapa, namun jodoh adalah sebuah pilihan. Pilihan yang Tuhan beri kepada kita, untuk kita pertanggungjawabkan kelak saat kita bertemu Dia. Kita tentu saja bisa memilih yang tidak seiman untuk dijadikan teman hidup, Tuhan juga bisa mengijinkan sekalipun Tuhan tidak berkehendak demikian, namun kita sendiri yang harus menanggung resikonya.
Kalau bagi X jatuh cinta pada cowo itu adalah suatu cobaan, ingatlah bahwa dalam Surat Yakobus, dikatakan “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” (Yakobus 1:13-14). Jadi mungkin bukan Tuhanlah yang membuat hati X mencintai pria itu, tapi X sendirilah yang jatuh hati kepada dia. Namun dikatakan pula “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” (Yakobus 1:12). So, tentu Tuhan punya rencana yang indah dengan mengijinkan X mengalami masalah seperti ini, misalnya tentunya sekarang X bisa semakin cinta pada Tuhan, betul? Dan X juga pasti secara otomatis akan menjadi lebih dewasa, lebih mampu memilih yang benar dan matang untuk mempersiapkan diri X memilih pasangan yang tepat, yang berkenan di hadapan Tuhan, yang saat ini juga dengan cara yang sama sedang dipersiapkan Tuhan untuk pasangan hidupnya.