Saya mempunyai seorang teman (sebutlah X) yang keluarganya bukanlah orang percaya. Suatu kali, gerejanya mengadakan retret di Singapura. Orang tua X tidak mengijinkannya untuk mengikuti retret tersebut. Hamba Tuhan di gerejanya mengutip Lukas 14:26 “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Dengan ayat ini ia mendorong X untuk ikut meskipun tanpa ijin orang tuanya. X pun akhirnya “kabur” dan mengikuti retret tersebut. Kedua orang tuanya sangatlah terpukul akan tindakan X ini.

Bagaimana pendapat rekan-rekan dari asksophia mengenai tindakan X ini? Apakah yang ia lakukan benar, apalagi masukan yang ia terima berasal dari hamba Tuhan? Bila tindakan tersebut kurang benar, apakah implikasi dari Lukas 14:26?

Terima kasih atas jawabannya.

F, Bandung.

[JAWAB]:

[DSB]:

Dear F,

Umumnya orang tua mempunyai alasan tertentu sehingga melarang anaknya pergi ke suatu retreat. Cobalah untuk membicarakannya dengan baik-baik ke orang tua apa sebenarnya alasan mereka melarang retreat. Bisa saja alasan keuangan, atau bisa juga alasan lain yang memang harus dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan. Setelah memperbincangkannya, cobalah untuk mengatasi permasalahannya, apabila permasalahan penyebab larangan orang tua sudah diatasi, mungkin orang tua akan mengijinkan X untuk pergi retreat.

Apabila masalahnya ternyata adalah masalah yang kurang dapat dipertanggungjawabkan, misalnya karena orang tua beda agama, maka cobalah terlebih dulu mengatakan baik2, namun apabila tetap dilarang, sebaiknya X tetap taat pada orang tua, karena kita pun wajib menghormati orang tua kita, dan masalah ikut/tidak ikut retreat adalah masalah kecil yang tidak layak untuk dipeributkan sehingga dapat menyebabkan orang tua malah melihat Kekristenan sebagai hal yang negatif, sehingga X malah menjadi batu sandungan untuk orang tuanya.

Mengenai Lukas 14:26, dalam budaya Ibrani saat itu, orang sering menggunakan antitesis yang ekstrim untuk menekankan suatu perbedaan yang signifikan. Ini termasuk dalam kalimat, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri…” maksudnya adalah bahwa mencintai Tuhan itu harus jauh lebih tinggi dari mencintai bapa/ibu/istri/anak/saudaranya sendiri. Begitu jauh lebih tingginya, sehingga mencintai manusia itu seakan-akan seperti benci dibandingkan dengan cinta kepada Tuhan. Jadi ayat ini sama sekali tidak bermaksud supaya kita membenci keluarga kita.

[MC]:

Dear F,

Bila kita lihat secara sekilas, ayat tersebut (Lukas 14:26), nampaknya memang membuka pintu bagi orang-orang Kristen untuk melakukan hal yang seperti dilakukan oleh rekan X. Akan tetapi ada beberapa hal yang tetap harus kita ingat dalam menyikapi ayat tersebut.

1. Hukum Taurat menuntut kita untuk menghormati orang tua kita. Apakah dengan kita “melarikan diri” (untuk alasan apapun) kita menghormati orang tua kita? Bukankah orang tua kita menjadi cemas?

2. Hukum yang terutama adalah untuk kita mengasihi Tuhan Allah dan hukum yang sama dengan itu adalah untuk mengasihi sesama kita. Sekali lagi, apakah tindakan tersebut adalah tindakan mengasihi sesama kita?

3. Tuntutan untuk memuliakan Tuhan dalam segala sesuatu yang kita kerjakan. Apakah dengan X melarikan diri, Tuhan dipermuliakan? Bagi orang-orang bukan Kristen, bukankah pelarian X akan membuat mereka berpikir bahwa keKristenan adalah agama yang mengajarkan anak untuk tidak taat dan hormat kepada orang tua? Bila hal itu terjadi, bukankah X sudah menjadi batu sandungan untuk membawa orang-orang kepada Kristus?

Sekalipun sebuah nasehat datangnya dari hamba Tuhan, sekalipun hamba Tuhan itu menggunakan sebuah ayat sebagai dasar nasehatnya, akan tetapi kita harus tetap selalu menguji nasehat tersebut dari sisi Firman Tuhan secara keseluruhan, bukan hanya sebagian.