Mengapa kita harus menerima kisah Penciptaan sebagai peristiwa nyata?
Bukankah bila kita bandingkan kisah Kejadian sebetulnya memiliki banyak paralel dengan kisah-kisah “Penciptaan” lainnya yg rata-rata kita anggap mitos.

Sebagai contoh, hampir dalam setiap mitos tentang penciptaan, ada sebuah ular. Dalam mitologi Chinese, ular tersebut malah berubah menjadi salah satu dewa. Lalu kisah Nuh mempunyai paralel.

Mengapa kita tidak bisa menyimpulkan bahwa Musa mengambil mitos* tersebut dan merubahnya menjadi kitab Kejadian?

Terima kasih.

RH

[JAWAB]:

[MC]:

Apabila kita perhatikan, memang ada kesamaan antara pasal-pasal awal kitab Kejadian dengan berbagai macam mitos yang ada di dunia ini. Ada beberapa pola yang memang muncul berulang kali di dalam cerita-cerita tersebut. Sebutlah keberadaan “ular”. Dalam kisah Kejadian, ular adalah “samaran” sang Iblis yang akhirnya menjatuhkan manusia. Dalam mitologi Babilonia kuno, sang ular adalah Tiamat, dewa laut berbentuk ular.

Kisah Nuh pun memang memiliki berbagai paralel. Bangsa Sumeria menamakan tokohnya Ziusudra, bangsa Babilon kuno menyebutnya Utnapishtim. Kisahnya tidak jauh berbeda dengan Nuh. Seorang dewa memutuskan untuk membanjiri bumi, lalu tokoh tersebut dianggap baik dan diperintahkan untuk membuat perahu.

Bila dibandingkan, penulisan Kejadian dan mitos-mitos bangsa Sumeria dan Babilon kuno, harus kita akui bahwa mitos-mitos tersebut ditulis terlebih dahulu dibandingkan Musa menulis kitab Kejadian. Dengan begitu, apakah kita bisa menyimpulkan bahwa kisah penciptaan hanyalah sebuah mitos? Ataukah Musa memakai mitos-mitos tersebut sebagai dasar penulisan kitab Kejadian?

Kisah-kisah dalam kebudayaan-kebudayaan dahulu biasanya diturunkan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hal ini dikarenakan biasanya tulisan ditemukan lama setelah kisah-kisah tersebut dimulai. Setelah tulisan ditemukan, barulah kisah-kisah tersebut dicatat. Catatan-catatan tersebutlah yang sekarang ini menjadi dasar pengetahuan kita.

Sebuah kisah yang diturunkan secara lisan, mempunyai kecenderungan untuk menjadi “meluas” setelah beberapa generasi. Sebagai perbandingan, sebuah gosip yang beredar, cenderung bertambah “dashyat” dengan berjalannya waktu. Bila hari ini gosipnya si A memukul si B di tangan, setelah melewati beberapa mulut, kemungkinan gosipnya akan berubah menjadi si A memukul si B di muka. Setelah melewati beberapa mulut lagi, gosipnya akan menjadi si A memukuli si B sampai si B harus diopname.

Ya, penurunan berita secara lisan sering kali membuat sebuah berita menjadi simpang siur karena “bumbu-bumbu” yang ditambahkan agar berita tersebut menjadi lebih menarik, kontroversial, dll. Bila sekarang kita diperhadapkan dengan berita-berita tersebut, dan kita mengetahui beberapa versi dari berita tersebut, bagaimana kita menemukan kebenaran di tengah-tengah perbedaan yang ada?

Pertama, pasti ada hal-hal yang sama, dengan kata lain, paralel. Dalam perumpamaan kita, hal yang sama adalah bahwa si A memukul si B. Bila berita-berita tersebut benar, maka kesimpulan awal yang dapat kita ambil adalah bahwa A memukul B. Di mana dipukulnya? Bagaimana keadaan si B setelah dipukul? Hal-hal tersebut membutuhkan penyusuran lebih lanjut.

Kedua, prinsip umum adalah, kebenaran biasanya adalah hal yang paling sederhana. Prinsip ini bisa diterima bila kita mengingat bahwa penerusan berita secara lisan cenderung memberikan penambahan kepada berita tersebut.

Bagaimana penerapan kedua prinsip tersebut terhadap kisah-kisah kita?

Melalui prinsip pertama, persamaan yang ada membuat kita dapat menyimpulkan bahwa orang-orang jaman dahulu percaya akan penciptaan. Juga dapat diterima bahwa air bah terjadi.

Prinsip kedua mengajak kita untuk memperbandingkan perbedaan yang ada. Sebagai contoh, dalam kisah Ziusudra, hujan terjadi selama 7 hari, sementara dalam kisah Nuh, hujan turun selama 40 hari. Bagaimana kita harus menyikapi perbedaan tersebut?

Bila kita perbandingkan dua pernyataan tersebut, manakah yang lebih sederhana? 7 hari nampaknya lebih sederhana dibandingkan dengan 40 hari, akan tetapi, kita harus ingat bahwa air tersebut menutupi bumi. Jadi manakah yang lebih sederhana? Badai selama 7 hari yang membuat banjir menutupi gunung? Ataukah badai selama 40 hari? Dari sisi ini nampaknya badai 40 hari lebih sederhana, bukan?

Prinsip ketiga. Kita kembali lagi kepada perumpamaan berita A memukul B. Bagaimana cara kita mengetahui apa yang sebetulnya terjadi? Bila kita mengenal A dan B, lebih baik kita tanyakan langsung kepada mereka. Setelah bertanya, ternyata cerita aslinya adalah bahwa ada sebuah nyamuk di lengan B, melihat nyamuk tersebut, A secara refleks memukul dan membunuh nyamuk tersebut. Bukankah kebenarannya jauh sekali berbeda dengan berita “A memukuli B sampai B masuk rumah sakit”?

Jadi, apakah kitab Kejadian betul-betul dapat kita terima? Melalui kedua prinsip pertama, kita dapat simpulkan bahwa mitos-mitos yang ada bukannya membuat kitab Kejadian menjadi “tidak berarti”, sebaliknya, mitos-mitos tersebut memberikan peneguhan terhadap kitab Kejadian.

Melalui prinsip ketiga, kita mengetahui bahwa cara terbaik untuk mengetahui sejarah alam adalah dengan bertanya kepada Sang Pencipta. Jika kita mempercayai bahwa Alkitab adalah berdasarkan inspirasi Allah, maka kita seharusnya menerima kisah Kejadian sebagai sebuah fakta. Bukan tidak mungkin salah satu tujuan Allah memasukkan kisah penciptaan adalah untuk meluruskan “gosip-gosip” penciptaan yang beredar di jaman itu.

[CKM]:

Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya mengunakan prinsip yang sederhana, yaitu Law of Transitive.

Hal ini tidak bisa dilepaskan dari kesaksian Kristus terhadap PL, termasuk kitab Musa. Dalam Yoh 5:46-47, Kristus mengatakan,”Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepadaKu, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?” (Yohanes 5:46-47). Jadi kita tidak bisa membuktikan apakah PL itu benar atau salah tanpa menghubungkan dengan Kristus sendiri. Singkatnya, jika bisa dibuktikan bahwa Kristus bohong, berarti kejadian yang ditulis oleh Musa itu adalah mitos; tetapi kalau ada bukti bahwa Kristus adalah benar, berarti kejadian yang ditulis Musa itu adalah benar.

Jadi kalau PB bisa dipercaya, Kristus bisa dipercaya; dan kalau Kristus bisa dipercaya, PL juga bisa dipercaya. Kalau PL bisa dipercaya, pastinya catatan mengenai kejadian yang ditulis oleh Musa adalah benar.

Yah, pada prinsipnya adalah mengapa kita harus menerima Alkitab sebagai otoritas kebenaran mutlak? Ini karena Alkitab adalah wahyu Allah. Faith comes to Understanding. Alkitab menyatakan, “karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh Firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat” (Ibr 11:3). Inilah Prolegomena Kristen, ini bukan iman buta. Rasio dan Empiris harus tunduk kepada Allah dan Kebenaran-Nya, baru semua yang lain bisa dibereskan. Bagaimana cara Dia menciptakan? Ya bukan urusan kita.