Saya mengerti bahwa kita harus memiliki pasangan yang seagama, tapi bagaimana dengan Kristen dan katolik?

(NN di jkt)

[JAWAB]:

[MC]:

Apakah iman Kristen Protestan dan Roma Katolik sama? Keduanya “mendasarkan” diri pada Alkitab, keduanya mengakui Kristus sebagai Allah dan Juru Selamat. Jadi, apakah sebetulnya kedua iman ini berbeda?

Bila kita lihat secara sepintas, memang mirip, kita bahkan dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa Roma Katolik hanyalah salah satu denominasi (aliran) Kristen. Akan tetapi, sebetulnya ada beberapa hal yang membedakan iman Kristen dan iman Katolik.

Perbedaan yang paling mendasar dan paling penting adalah soal keselamatan. Iman Kristen berpegang teguh pada prinsip “sola gratia” dan “sola fide”. Keselamatan adalah anugerah semata dan melalui iman semata. Tidak ada perbuatan manusia yang dapat membawa keselamatan. (bdk. Efesus 2:8-9)

Iman Katolik menyatakan bahwa agar kita diselamatkan, kita masih harus berbuat baik dan memohon pengampunan dosa secara terus menerus. Mereka bahkan masih mendoakan kerabat mereka yang telah meninggal agar dapat diterima di surga. Betapa berbeda dengan iman Kristen!

Perbedaan lain adalah dalam hal doa. Iman Kristen mengajarkan bahwa doa kita harus ditujukan kepada Allah saja dengan pengantara Yesus Kristus, sementara iman Katolik mengajarkan kita untuk berdoa kepada para orang kudus.

 

[DSB]:

Firman Tuhan menyatakan bahwa kita harus menjadi pasangan yang SEIMAN, bukan seagama. Seiman artinya sama-sama orang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat pribadi nya. Jadi bukan sekedar agama, tapi apa orang tersebut sudah merupakan orang yang sudah dilahirkan kembali atau belum. Bahkan kalau sekalipun keduanya sama-sama Kristen, tapi apabila salah satu dari mereka itu hanyalah orang Kristen KTP, dan tidak menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, maka tidak dapat dikatakan seiman, dan karenanya sebaiknya dihindari untuk dijadikan pasangan hidup.

(penjelasan lebih lengkap dari https://asksophia.wordpress.com/2012/08/28/seagama-namun-tak-seiman/)Hal ini bukan berarti kita bebas memilih pasangan beragama mana saja, melainkan justru mempertajam pengertian “seiman” yaitu orang-orang yang mempunyai iman sejati yang percaya bahwa hanya Yesus Kristus sajalah satu-satunya Tuhan dan juruselamat, dan hanya mengandalkan Yesus semata untuk mendapatkan hidup yang kekal. Dalam pengertian ini bukan hanya orang Katolik, ada orang karismatik, pentakosta bahkan orang Injili dan Reformed yang mengaku memiliki iman tersebut, namun kenyataannya NOL besar. Mengaku beriman pada Yesus, tapi juga menyatakan harus berbuat baik untuk bisa masuk surga. Atau sekalipun mengaku beriman pada Kristus tapi juga berdoa kepada ilah yang lain yang mana Allah sudah larang dengan tegas tidak boleh menyembah kepada siapapun selain DIA. Sebagian lagi memperlakukan Yesus sebagai “Jin Lampu” yang diclaim PASTI mengabulkan permintaan kalau kita BERIMAN. Ada lagi yang mengaku beriman namun di hatinya memuliakan dirinya sendiri. Orang-orang semacam ini sekalipun menjalankan agama Kristen (apapun alirannya) dengan baik, namun BUKAN seiman.

 

[CKM]:

Halo NN,

Kedua rekan saya sudah memberikan masukan yang baik & cukup untuk Anda renungkan. Saya hanya akan menambahkan sedikit dari sisi doktrinal saja.

1.Loraine Boettner, “Orang Roma Katolik sering mencoba untuk menunjukkan / menggambarkan Protestanisme sebagai sesuatu yang baru, yang berasal mula dengan Martin Luther dan John Calvin di abad ke 16. … Protestanisme yang muncul di abad ke 16 bukanlah permulaan dari sesuatu yang baru, tetapi pengembalian pada kekristenan Alkitab dan pada kesederhanaan gereja rasuli dari mana gereja Roma sudah sejak lama menyimpang. Karena itu, protestanisme bukanlah suatu agama baru, tetapi suatu pengembalian pada iman dari gereja mula-mula. Itu adalah kekristenan yang dibersihkan, dengan semua sampah / kotoran yang terkumpul selama abad pertengahan dibuang” Dari Kis 11:26 kita bisa membaca,” Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.” Jadi jelas, sejak jaman Perjanjian Baru orang-orang yang percaya kepada Kristus dan menggunakan Alkitab sebagai dasar hidup / kepercayaan, disebut Kristen. Perhatikan bahwa Kristen sudah ada pada abad pertama, jauh sebelum Roma Katolik ada!

2. Apakah Roma Katolik seiman? JACK W. WILLIAMSON berujar dalam Thesisnya yang berjudul “ROMAN CATHOLICS: A MISSION FIELD?” sbb:

“The only conclusion that can be drawn, then, is that the Roman Church does not hold nor officially teach the Gospel according to Scripture. Though bits of the Gospel exist within its doctrinal standard, this truth is so shrouded and even condemned by other statements within the standard, that any member holding to the teachings of the Roman Church would not receive the Gospel of Christ. Since the Roman Catholic Church does not hold to the Scriptural teaching of the Gospel but instead teaches “another gospel”, we, those who are children of God, are under order by our King to go forth and teach the Gospel to Catholics, bringing them to an understanding of the Truth. Failure to do so is not politeness, though it may be politically correct, but outright disobedience to our King.”

Orang Katolik yang sejati bukan saudara seiman dengan kita sehingga perlu diinjili. Tetapi tidak semua orang Katolik tidak selamat, karena ada di antara mereka yang mengaku Katolik tetapi dalam prakteknya mereka percaya justification by faith alone.. Biarpun orang Katolik sejati percaya justification by faith, tetapi mereka tidak mau mengaku alone-nya itu. Karena mereka tidak mau mengaku alone, maka mereka sendiri yang membukan pintu untuk segala macam ajaran sesat.

Karena harus diakui, tidak semua orang Katolik tidak percaya Sola Fide, disisi lain, tidak semua yang mengaku Kristen percaya Sola Fide. Yang pasti satu, orang-orang Katolik dan orang-orang Kristen bukanlah musuh, sama seperti orang-orang Kristen tidak seharusnya bermusuhan dengan orang-orang karena mereka percaya ajaran Buddha, Hindu, atau agama yang lainnya. Tetapi untuk mengatakan apakah mereka seiman, dan jawaban dari ajaran Kristen adalah “TERGANTUNG berdasarkan 5 Solas (termasuk Sola Fide) atau bukan”. Bukankah “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus ” (Roma 10:17)? Kalau Injil sudah dikutuk (anathematized) oleh ajaran Katolik sejak jaman Council of Trent dan yang masih berlaku sampai hari ini, mau ada iman atau seiman dari mana kita dengan Katolik Roma?

Apakah mungkin terjadi Unifikasi antara Protestan dengan Katolik Roma? Untuk itu saya setuju dengan J. C. RYLE dalam tulisannya yang berjudul Evangelical Religion bagian EVANGELICAL PROTESTATIONS mengatakan,”We abhor the very idea of re-union with Rome, unless Rome first purges herself from her many false doctrines and superstitions”. Ya, kita harus berdiri teguh melawan usaha-usaha untuk unifikasi/penyatuan yang bisa melemahkan atau merendahkan Injil. Kita mempunyai standar sendiri, dan kita harus tinggal didalamnya. Memang benar bahwa unifikasi adalah tujuan yang sangat diinginkan, tetapi kita hanya bisa bersatu dengan anggota Tubuh Kristus yang sejati. Kebersatuan kita bukan dalam bentuk fisik tetap spritual/rohani yang berdasarkan pada satu kebenaran Injil yang Alkitabiah

Maaf, saya harus berkata dengan keras sekarang. Jadi, kalau orang-orang yang sudah mengerti mengenai perbedaan antara Protestan & Katolik Roma dan mengerti kesalahan ajaran Roma Katolik, tetapi orang tersebut tidak berusaha menginjili orang Roma Katolik, maka ada sesuatu yang tidak beres dalam kerohanian orang itu! Apalagi sampai menikahinya. Mungkin orang itupun adalah orang yang belum diselamatkan!

3. Bagaimana bila seseorang pada akhirnya menikahi seorang Katolik Roma? Saya asumsikan yang Katolik adalah sang pria & yg Protestan adalah sang wanita.

1. Sungguh sulit dibayangkan bila ada pasangan yang satunya adalah orang percaya (Protestan yang percaya pada justification by faith alone) dan yang satunya tidak percaya. Seorang katolik yang tidak mempercayai justification by faith alone (hanya mempercayai justification by faith) percaya bahwa ketika dirinya meininggal maka dia akan masuk ke dalam purgatory untuk masa yang tidak jelas sampai kapan. Sedangkan sang istri yang Prostestan mempercayai bahwa kletika dirinya meninggal maka ia akan segera pulang ke rumah Bapa di sorga. Tentunya hal ini menjadi beban seumur hidup dan hal ini berpotensi menimbulkan konflik lebih besar di kemudian hari.

2. Kenapa sih orang Kristen hanya boleh menikah dengan orang Kristen lagi (Termasuk tidak boleh dengan yang katolik)? Memang Alkitab memberikan prinsip itu. Apakah ada alasan lain?

Ini adalah kutipan dari Melody Green yang saya ambil dari buku ‘Mencari pasangan hidup: Bolehkah saudara berpasangan dengan orang yang tidak percaya :

“Artikel ini saya tujukan khusus untuk gadis-gadis Kristen, sebab dari pengalaman-pengalaman konseling, saya melihat wanitalah yang lebih sering melakukan kesalahan ini” – hal 1

“Saya kira umumnya pernikahan didahului dengan berpacaran. Banyak orang Kristen yang terkecoh pada waktu taraf ini. Mereka rasa, tak salah untuk bergaul dengan orang-orang tak percaya asalkan ‘tak terlalu serius’. Mungkin mereka pikir, ‘Satu atau dua kali kencan tak akan menyakiti seorang pun. Disamping itu mungkin saya dapat membimbingnya kepada Tuhan. Saya sekedar bersenang-senang saja, bila sudah saatnya nanti saya pasti menikah dengan seorang Kristen’. Lalu, lihat dan perhatikan, tahu-tahu mereka telah ‘terperangkap cinta’, dan mereka berusaha mati-matian untuk membenarkan hubungan (pernikahan) yang akan dilakukan terhadap diri sendiri, terhadap teman-teman mereka, dan terhadap Tuhan. Saya berkata – orang Kristen yang cukup tolol untuk berkencan dengan orang yang tak percaya akan cukup tolol pula untuk menikahinya” – hal 3-4.

“Menikah adalah keputusan terpenting dan terbesar yang Anda buat setelah kebutusan untuk mengikuti Yesus”.

“Banyak gadis yang tak menyadari, jika mereka tak cukup kuat menahan godaan untuk menikah dengan orang tak percaya, pasti mereka tak cukup kuat pula untuk memenangkan suaminya bagi Tuhan” – hal 15.

“Acap kali untuk menikahi seorang gadis Kristen, ada pemuda yang ‘bertobat’, sebab ia sadar harus melakukannya demi gadisnya. … Saya tak pernah mempercayai ‘pertobatan’ semacam itu dan saya selalu mengatakan pada gadis-gadis yang konseling dengan saya, agar membiarkan pacar mereka membuktikan terlebih dahulu pertobatannya. … Masalahnya ialah, banyak gadis yang tak sabar untuk menguji buah-buah si pemuda. Segera setelah melihat ‘sang jodoh’ mengucapkan doa penyesalan, sang gadis mulai menyiapkan pakaian pengantinnya” – hal 15-16.

Saya tambahakan yang lain. Yang ini bukan dari Melody Green.

ü Jangan percaya pada slogan: “Marry now, reform later!” (Sewaktu pacaran, sangat toleran dengan kekristenan kita, sesudah menikah – sedikit-demi-sedikit – tidak lagi antusias mendukung hidup keagamaan yang bukan kepercayaannya? akan muncul kompetisi (persaingan untuk membuktikan siapa yang lebih benar) dalam nilai-nilai (values): antara nilai-nilai yang saya yakini dengan nilai-nilai yang dia pegang. Awas bahaya pengelabuan: “Saya akan berusaha komit untuk menjadi seorang Kristen.”

ü Mengkompromikan iman dengan nilai-nilai yang tidak sejalan dengan iman Kristen.

ü Jika punya anak: orangtua bisa menjadi sumber kebingungan anak untuk memilih agamanya. Anak-anak juga sulit untuk belajar dari teladan orangtuanya dalam hal hidup beriman kepada Allah. “Alangkah tidak fair menaruh beban kehidupan kepada anak-anak yang masih di bawah umur yang disebabkan oleh perbedaan kepercayaan orangtua.”

Saya pikir ketiga hal di atas juga perlu diperhatikan oleh mereka yang berpacaran dengan seorang mengaku Kristen tapi ternyata hanya Kristen-kristenan/Kristen KTP yang sebetulnya pada hakekatnya bukanlah orang Kristen alias sama saja tidak seiman.