Apakah orang Kristen percaya akan takdir? Saya punya teman yang sangat baik, dan dia tekun dan jujur dalam berusaha. Dia berjuang mati-matian dalam bekerja. Tapi dia nggak kaya kaya. Bukankah itu artinya memang udah takdir nggak akan kaya?

Martin – Jkt

[JAWAB]:

[DSB]:

Bung Martin ykk, dalam Kekristenan, ada banyak hal yang memang TUHAN TENTUKAN (yaitu dalam hal-hal yang menyangkut kekekalan), namun ada banyak hal lainnya yang TUHAN RENCANAKAN dan TUHAN IKUT CAMPUR TANGAN, tapi tidak menentukan cara dan detil kejadiannya, sisanya merupakan kehendak bebas dan tanggung jawab manusia. Misalnya dalam pekerjaan, Tuhan ikut campurt tangan dalam pekerjaan setiap orang percaya, tapi cara dan bagaimana menjalaninya merupakan kehendak bebas dan sekaligus tanggung jawab dari orang yang bersangkutan. Dalam Roma 8:28, dikatakan, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah“.

Kalau menanyakan kenapa teman Bung Martin tidak kaya-kaya, jawabannya adalah Allah punya rencana yang unik buat teman Bung Martin yang tidak lain dan tidak bukan semata-mata demi kebaikan dia sendiri dan demi Kerajaan Allah.

 

[CKM]

Jawaban mendetil tidak mungkin diberikan disini karena terlalu panjang, ini hanya summary.

Melengkapi jawaban di atas, agar tidak membuat bingung, demikian penjelasan kami:

 1.      Pertama, yang harus diingat adalah Allah adalah Allah yang berdaulat karena Dia juga mampu menjadikan keinginannya – A sovereign God is also an Omnipotent God who is more than able to bring to accomplishment anything that He wills. Namun, kedaulatan ini tidak dicapaiNya dengan memaksakan kehendak atau mematikan kehendak manusia. Jikalau demikian, pastilah hilang konsep kemerdekaan. Di sini, selain kedaulatan (sovereignty) dan kemampuan (omnipotence) kita juga diperkenalkan dengan kebijaksanaan Allah (God’s wisdom). Tuhan menciptakan manusia sebagai gambar dan rupaNya (Imago Dei), yang berarti bahwa setiap manusia adalah individu dengan pilihan, pemikiran, perasaan.

 

2.      Sepertinya memang perlu disamakan dulu pengertian takdir. Karena walau kita menggunakan istilah yang sama tapi bisa mempunyai pengertian yang beda. Kalau menurut KBBI arti takdir dan nasib adalah: a). ketetapan Tuhan; ketentuan Tuhan/sesuatu yg sudah ditentukan oleh Tuhan atas diri seseorang b). untung-untungan. Saya tidak mengartikan takdir sebagai ketentuan Tuhan (karena ada masalah, lihat bag 2) tetapi takdir adalah kebetulan yang acak (random/blind fate). Selain itu, setahu saya memang (hampir) semua agama mempunyai pengertian takdir seperti yang KBBI definisikan. Tetapi sebagai orang Kristen, yang menjadi pokok acuan kita bukan KBBI tapi pengertian dari seluruh Alkitab yang ternyata memberikan pengertian takdir yang berbeda ketika hal itu dibenturkan dengan kedaulatan Allah serta pemeliharaanNya terhadap umatNya.

 

3.      Walaupun dalam Alkitab kata kerja ini dan kata benda ‘ketentuan’ atau ‘ketetapan’ sangat jarang, tapi gagasan yang dimaksud mendominasi  kedua perjanjian (PL PB). Tapi ada masalah. Masalahnya adalah tidak ada kata Ibrani dan Yunani yang bisa diterjemahkan dengan tepat yang digunakan sehingga diterjemahkan menjadi “nasib” dalam Alkitab LAI. Contoh dalam Kej 44:29, Kata “nasib (celaka)” diterjemahkan oleh LAI dari kata Ibrani râ’, rêsy-‘ayin, yang sebenarnya bermakna “kejahatan” atau “kefasikan”. Maz 81:15,  Kata “nasib” ini pula diterjemahkan dari kata Ibrani ‘et, ‘ayin-tâv, ditulis ‘itâm yaitu kata dasar plus pronomina orang ketiga jamak. Kata ini lebih tepat bermakna “waktu”, “masa”. Kalau membandingkan dengan KJV yang menerjemahkan ungkapan terakhir dengan ‘but their time should have endured for ever’.

 

Ada tiga ayat dalam PB Yunani yang diterjemahkan oleh LAI dengan kata “nasib” yaitu Lukas 13:2 (“nasib” diterjemahkan dari ‘toitoutos’, harfiah “hal-hal demikian”) Yohanes 12:6 (“nasib orang-orang miskin” diterjemahkan dari ‘ptôkhos’, harfiah “orang miskin” saja) dan 2 Petrus 2:13, tetapi lagi-lagi tidak ada kata asli Yunani yang tepat di sana untuk menggambarkan “nasib” secara konseptual.  Segala sesuatu, yang menyangkut apapun, termasuk kehidupan manusia, sudah ditentukan oleh Allah sejak permulaan segala jaman. Pengertian ini sangat penting di dalam Predestinasi karena apabila kita tidak mengakui hal ini maka hal itu sama dengan menyebut Allah tidak mempunyai rencana sama sekali. Bagaimana mungkin Allah yang Maha Bijaksana tidak mempunyai rencana sama sekali. Seorang yang tidak mempunyai rencana berarti juga tidak mempunyai tujuan. Apakah mungkin Allah kita bertindak ngawur tanpa tujuan? Mustahil! Segala sesuatu sudah ditentukan Allah terlebih dahulu, berikut adalah dukungan Alkitab mengenai hal tersebut. (lih. 2Raja-raja 19:25; Efesus 1:5; Efesus 1:11; Roma 8:29,30; 1Korintus 2:7; Kisah Rasul 4:27,28; Kisah Rasul 13:48; Efesus 2:10; Roma 9:23; Mazmur 139:16). Segala sesuatu, termasuk alam, ditentukan oleh kehendakNya. Angin adalah utusanNya, api yang menyala-nyala adalah hambaNya, setiap kejadian alam adalah tindakanNya; segala kemakmuran/kesejahteraan adalah karuniaNya; dan segala bencana dan penderitaan adalah seijinNya. (lih. Ayub 25:2; Ayub 36:32; Amos 3:5-6; Ratapan 3:33-38; Amos 4:7; Mazmur 95:3-5; Yesaya 40:25-26; 2Tawarikh 20:6; Keluaran 9:29).

 

4.      Kedaulatan Allah juga dapat terlihat pada hal-hal yang kelihatannya kebetulan. Hal-hal tersebut sama sekali tidak mempunyai kemungkinan untuk keluar dari kehendak Allah. Misalnya, dapat kita lihat berkali-kali bahwa pelemparan undi juga tergantung atau secara langsung menggambarkan keputusan Allah. (bdk. Amsal 16:33; Kisah Rasul 1:24,26; Yunus 1:7) Saya kaitkan ayat-ayat tersebut itu dengan Roma 8:28. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”  Jadi, ‘Segala sesuatu’, – tidak kurang dari itu! – bekerja sama untuk kebaikan. Bukan hanya kemakmuran yang termasuk tetapi juga kesengsaraan / kemalangan; bukan hanya sukacita dan kebahagiaan tetapi juga penderitaan dan kesedihan (Ro 8:18,35-37). Rencana jahat dikuasai / dipengaruhi oleh Allah untuk kebaikan (Kej 50:20; Neh 4:15). Bukan hanya apa yang dialami oleh orang-orang kudus sendiri yang tercakup, tetapi juga apapun yang terletak di luar lingkungan pengalaman pribadi mereka. Khususnya, hal-hal berikut ini adalah hal-hal yang diatur / ditentukan dan diarahkan secara ilahi, sehingga mereka bekerja bersama-sama untuk kebaikan dari mereka yang mengasihi Allah: malaikat yang baik (Ibr 1:14) dan Setan bersama-sama dengan kelompoknya (Ro 16:20; Ef 6:10-16); bangsa-bangsa dunia dan pemerintahnya (Maz 2:2-9; 48:5-9; 149:9; Kis 9:15); hujan dan guntur (1Sam 12:18-20); sungai, gunung, dan awan (Maz 46:5; 72:3; Mat 24:30; Wah 1:7); dan bahkan bintang-bintang dalam peredarannya (Hak 5:20).”

 

5.      Diluar hal yang mungkin meruwetkan itu, yang perlu dicamkan adalah tidak ada sesuatu yang terjadi di luar lingkup pemeliharaan Allah yang berdaulat. Untuk itu kita harus mampu untuk melihat secara tegas perbedaan antara takdir, penetuan ilahi, jaminan bimbingan Tuhan yang dinyatakan dalam pemeliharaan-Nya, dan keberuntungan. Kunci perbedaan ini terletak pada karakter Allah. Keberuntungan adalah buta, sedangkan Allah melihat segala sesuatu dan bekerja dalam segala sesuatu. Takdir tidak berpribadi, sedangkan Allah adalah seorang Bapa. Kebetulan adalah bisu, sedangkan Allah dapat berbicara. Tidak ada kekuatan-kekuatan yang buta, tidak berpribadi yang bekerja dalam sejarah. Semua ini terjadi oleh karena tangan Sang Pemelihara yang tidak kelihatan. Jadi dapat dikatakan di dalam alam semesta yang diperintah oleh Allah tidak ada peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Pada dasarnya tidak ada yang disebut kebetulan. Kebetulan tidak pernah ada. Kata itu hanya kita gunakan untuk menjelaskan kemungkinan-kemungkinan secara matematika. Tetapi kebetulan itu sendiri bukanlah suatu keberadaan yang dapat mempengaruhi realitas. Kebetulan itu bukan sesuatu. Itu bukan apa-apa.

6.      Aspek lain yang kita perlu lihat dalam jaminan bimbingan Allah adalah aspek kerjasama. Kerjasama ini menunjuk pada kesatuan dari tindakan Allah dan manusia. Kita adalah makhluk ciptaan dengan kehendak kita sendiri. Kita dapat menjadikan sesuatu terjadi. Namun, kuasa yang kita keluarkan sebagai penyebab dari hal itu merupakan hal yang kedua. Kedaulatan dari pemeliharaan Allah yang dinyatakan dalam bimbingan-Nya melampaui tindakan-tindakan kita. Jadi kita tidak perlu kuatir dalam melaksanakan kehendak Allah. Apakah kita mengetahuinya secara persis atau tidak, yang pasti Allah tidak akan meninggalkan kita dalam melaksanakan kehendak-Nya melalui kita (Ul 29:29). Sekalipun kedaulatan Allah itu bersifat universal dan mutlak, tetapi itu bukanlah kedaulatan dari kuasa yang buta. Itu digabungkan dengan kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak terbatas. Dan doktrin ini, jika dimengerti dengan tepat, adalah doktrin yang paling menghibur dan menenteramkan. Siapa yang tidak lebih menghendaki perkaranya ada dalam tangan Allah yang mempunyai kuasa, kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak terbatas, dari pada menyerahkannya pada nasib / takdir, atau kebetulan, atau hukum alam yang tidak bisa dibatalkan, atau pada diri sendiri yang cupet dan sesat? Mereka yang menolak kedaulatan Allah harus mempertimbangkan alternatif-alternatif lain yang ada

 

7.      Nah, kalau begitu bagaimana seharusnya sikap kita?

 

Ada 2.

Berserah dalam hal yang tidak bisa diubah, berusaha maximal dalam hal yang bias diubah. Maksudnya adalah

a) Dalam hal-hal yang tidak bisa diubah, kita harus berserah, bukan sebagai seorang fatalist yang berserah kepada takdir / nasib, tetapi sebagai seorang anak yang berserah kepada kebijaksanaan, kasih, dan kesetiaan Bapanya

b)  Dalam hal-hal yang bisa diubah / diperbaiki, kita tidak boleh bersikap apatis seperti seorang fatalist, tetapi kita harus berusaha semaximal mungkin, selama masih dalam batas-batas Firman Tuhan.

Calvinist bukan fatalist; yang bersikap fatalist adalah Hyper-Calvinist! Calvinist mempunyai tanggung jawab untuk melakukan yang terbaik.

Memang segala sesuatu ditetapkan oleh Tuhan, tetapi: 

1)    Kita tidak tahu Tuhan menetapkan apa untuk masa depan. 

2)    Kita tidak boleh hidup sesuai dengan ketetapan Tuhan yang tidak kita ketahui itu; kita harus hidup sesuai dengan Firman Tuhan.

 

Ul 29:29 – “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini”.

 

Charles Haddon Spurgeon: Biarlah providensia Allah melakukan apapun, urusanmu adalah melakukan apa yang kamu bisa.”