Kalau seorang Kristen yang pacaran dengan yang seiman tapi jatuh dalam dosa seksual (sekalipun tidak sampai bersetubuh), apakah harus putus?

dari seorang remaja pada Talk Show “Cewek / Cowok Ideal?” bersama Deny & Noviyanti Sumargo di GII Cicadas 16 February 2008
NB: kami juga menerima pertanyaan serupa dari beberapa pemuda.

[JAWAB]:

[DSB]:

Sedih sekali mendengar cerita-cerita pelanggaran batas seksual dalam pacaran yang ternyata dilakukan juga oleh pasangan-pasangan Kristen. Namun inilah kenyataannya. Mengenal Kristus tidaklah menghindarkan kita dari cobaan dosa seksual.

Untuk teman-teman yang pernah melakukan suatu dosa pada waktu pacaran, ada sebuah kabar baik: “Jika kita mengaku dosa kita maka Ia adalah setia dan adil sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (I Yoh 1:9).

  1. Akuilah dosa Anda kepada-Nya, minta ampun dan berjuanglah untuk tidak lagi melakukan perbuatan-perbuatan dosa tersebut.
  2. Setelah mengakui dosa, peganglah janji Tuhan pada I Yohanes 1:9 di atas, jangan biarkan iblis maupun diri Anda terus merasa berdosa, karena itu dapat merusak diri kita.
  3. Buat teman-teman yang terus melakukan dosa tersebut dan tidak mampu menahan diri sekalipun sudah berjuang keras, saya menganjurkan teman-teman untuk datang kepada hamba Tuhan gereja Anda. Biarkan orang lain yang lebih dewasa menolong Anda melalui cobaan ini.

Harus putus atau tidaknya pasangan itu, bergantung pada banyak hal, misalnya seberapa sering melakukan hal tersebut, berapa usia keduanya, apakah ada rencana menikah? Namun pada prinsipnya apabila hal tersebut baru pertama kali dilakukan dan keduanya kemudian bisa menahan diri untuk tidak jatuh lagi dalam dosa seksual, mengambil jalan putus tidak perlu dilakukan. Tetapi bila hal tersebut sudah menjadi kebiasaan, saya benar-benar menganjurkan Anda berdua untuk segera ditolong oleh hamba Tuhan setempat. Semoga dengan demikian Anda bisa terhindar dari bencana karena sudah melewati point of no return (melewati titik tidak bisa kembali lagi).