Pertanyaan: Mengenai isu seputar kartu GSM dengan brand AXIS

Banyak isu yang beredar saat ini mengenai keberadaan operator GSM baru ini dikaitkan dengan gereja setan. Mulai dari tarifnya yang disusun menjadi angka 666, nama AXIS yang diartikan menjadi antikris, atau jika dibalik membentuk kata SIX dengan huruf A yang menyerupai gambar kepala kambing, dll.
Sejujurnya saya sendiri tidak terlalu terpengaruh dengan isu ini, toh saya juga sempat menggunakan kartu AXIS ini untuk promo internet gratisnya🙂 Namun seringkali pertanyaan dari beberapa rekan remaja di gereja saya melayani mengenai kebenaran isu ini menggelitik niat saya untuk menanyakan akan hal ini kepada asksophia. Dibalik dari benar atau tidaknya isu yang telah saya sebutkan di atas atau motif apapun dibalik isu tersebut (politik atau bisnis), satu pertanyaan penting di balik itu semua (dan puluhan isu sejenis tentang produk lain sehubungan dengan gereja setan), bagaimanakah seharusnya orang kristen bersikap terhadap isu seperti ini? Apakah tanggapan iman kristen akan isu seperti ini? Terima kasih.

note: asksophia menerima banyak pertanyaan serupa baik melalui blog, e-mail maupun secara lisan.

[JAWAB]:

[MC]:

Menarik sekali melihat isu-isu seperti ini terus berkembang. Sekitar 15 tahun lalu perusahaan Procter & Gamble (P&G) dikabarkan sebagai perusahaan setan. AskSophia tergelitik untuk menanyakan apakah di antara rekan-rekan yang menanyakan pertanyaan tersebut ada yang memakai produk P&G, seperti Pantene, Gilette, dll. Dan apakah rekan-rekan tersebut terus menonton drama-drama Jepang (J-Dorama) yang cukup banyak disponsori oleh P&G.

Mengenai AXIS sendiri, perusahaan AXIS saat ini dimiliki oleh sebuah gabungan antara perusahaan Arab Saudi (National Telecom), Malaysia (Maxis), dan saham minoritas oleh sebuah perusahaan Indonesia. Nah, siapakah perusahaan Indonesia tersebut?

Para pengguna AXIS mungkin sudah tahu, karena kadang-kadang nama perusahaan tersebut (yang merupakan nama lama dari AXIS) muncul di daerah-daerah tertentu yang kemungkinan sistem jaringannya belum sepenuhnya diupdate. Perusahaan tersebut adalah Lippo Telecom (LippoTel), yang merupakan anak perusahaan Lippo Group. Sebelumnya AXIS sendiri bernama Lippo Telecom, namun untuk membuat image baru, nama tersebut diganti dengan AXIS.

Dunia bisnis di Indonesia pasti tahu figur di balik Lippo Group, yaitu keluarga Riady. Lebih lagi, dunia keKristenan di Indonesia rasanya cukup mengenal figur keluarga Riady sebagai keluarga yang Kristen. Bahkan seorang James T. Riady (putra Mochtar Riady) pernah menempuh pendidikan di salah satu sekolah teologi.

AskSophia hendak mengajak rekan-rekan untuk terus waspada terhadap isu-isu seperti ini. Bila kita diperhadapkan dengan isu seperti ini, ada baiknya kita membuat penelitian lebih lanjut untuk memastikan bahwa isu tersebut mempunyai dasar yang kuat. Seandainya isu tersebut tidak benar, bukankah kita turut berdosa dengan menyebarkan isu tersebut?

Sebagai sebuah ilustrasi, bagaimana reaksi rekan-rekan bila mendapat sebuah SMS / email yang berbunyi demikian:
“Kita harus berhati-hati dengan kuasa si jahat! Ternyata waktu (time) adalah alat si jahat! Mengapa?
1 tahun = 12 bulan (kelipatan 6)
1 hari = 24 jam (kelipatan 6)
1 jam = 60 menit (kelipatan 6)
Dengan begitu dapat kita simpulkan bahwa WAKTU adalah CIPTAAN SETAN!”

Nah, bila kita menerima pesan seperti itu, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan percaya begitu saja dan mengatakan bahwa kita tidak boleh menggunakan waktu? Bila reaksi kita seperti itu, bisa-bisa kita ditertawakan orang dan dianggap orang yang sangat bodoh, bukan? Lebih dari itu, kita tahu bahwa waktu diciptakan oleh Tuhan.

Alkitab dimulai dengan kata-kata “Pada mulanya Allah”. Waktu tidaklah berasal dari kekekalan, waktu dimulai saat Allah mulai menciptakan segala sesuatu, termasuk waktu itu sendiri.

Lalu bagaimanakah kita harus bersikap terhadap produk-produk yang “disponsori” oleh gereja setan, anti Kristus, dll?

AskSophia berpendapat bahwa adalah mustahil kita bisa terus hidup di dunia ini kalau kita menolak menggunakan produk yang dikeluarkan oleh pihak-pihak yang anti Kristus. Mengapa?

Berpulang kembali kepada arti kata “anti Kristus” sendiri. Apakah makna dari anti Kristus? Anti Kristus berarti “mereka yang menolak Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat”.

Dengan definisi demikian, bukankah berarti setiap orang yang berada di luar Kristus adalah anti Kristus? Kalau begitu, apakah kita tidak boleh menggunakan produk yang dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan yang pemiliknya bukan orang Kristen? Dan bila kita melihat seperti itu, bukankah mayoritas petani di seluruh dunia bukanlah pengikut Kristen? Jadi kita tidak boleh makan nasi, dong. Jelas mustahil!

Panggilan kita sebagai pengikut Kristus bukanlah untuk keluar dari dunia ini atau bersatu dengan dunia ini. Panggilan kita adalah untuk menjadi garam dan terang serta memberitakan Injil hingga ke ujung bumi. Masalah siapa yang mengeluarkan sebuah produk bukanlah sebuah masalah yang harus kita besar-besarkan, yang harus kita besar-besarkan adalah…

Apa yang telah kita perbuat bagi mereka-mereka yang berada di luar Kristus? Sudahkah kita pernah berdoa untuk mereka? Sudahkah kita mencoba mengabarkan Injil Kristus?

[DSB]:

Ayat-ayat dalam Alkitab khususnya dalam kitab Wahyu tidak dapat kita terapkan secara langsung secara harafiah. Kita harus menafsirkannya sesuai dengan konteks. Misalnya kalau kita di Jawa diajarkan kalau kita bertamu ke rumah orang lain kita tidak boleh menghabiskan minuman yang disuguhkan oleh tuan rumah. Tapi kalau kita ada di Amerika misalnya, yang punya budaya yang lain dengan kita, tidak menghabiskan minuman yang disuguhkan dapat berarti tidak sopan kepada tuan rumah. Jadi kalau seandainya ada di dalam kitab suci (kalau kitab suci ditulis oleh orang Jawa) di tulis “Janganlah menghabiskan minuman saat kita bertamu”, orang Amerika yang membacanya tidak bisa menerapkan hal tersebut secara harafiah. Orang Amerika tersebut harus mengerti dulu mengenai budaya orang Jawa (sebagai penulis kitab suci dalam contoh ini). Setelah tahu mengenai budaya bertamu tersebut, barulah dapat diambil kesimpulan bahwa ayat mengenai bertamu tersebut berbicara mengenai melakukan tindakan yang sopan dalam bertamu. Jadi orang Amerika yang membacanya harus menerapkannya justru dengan cara menghabiskan minum saat bertamu. Begitulah kira-kira.

Kembali ke masalah 666. Wahyu 13:18 mengatakan “Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.” Ayat inilah yang sering disalahtafsirkan sampai saat ini sampai seakan-akan orang kristen harus tabu dengan angka tersebut. Beberapa penafsir menafsirkan angka 6 yang ditulis 3 kali sebagai seorang manusia yang meninggikan dirinya seakan-akan menjadi Tuhan. Jadi ini merupakan suatu simbol pemberontakan manusia terhadap Allah. Angka 666 ini adalah simbol, bukan merupakan tanda fisik di tangan dan di dahi, juga bukan merupakan angka keramat yang akan dipakai oleh antikris. Seperti Kaisar Nero misalnya, Nero yang berkuasa di Romawi pada zaman para rasul, adalah sosok yang 100% memenuhi segala kriteria antikris yang tercatat dalam kitab Wahyu. Nero sama sekali tidak menggunakan tanda 666 seperti yang tertulis. Dia juga tidak membuat tanda di dahi dan di tangan, tapi dia membuat orang-orang Kristen sejati tidak dapat membeli dan menjual barang. Saat Yohanes menulis Wahyu, orang-orang Kristen sangat menderita, para pedagang Kristen tidak dapat membeli atau menjual barang karena perdagangan dikuasai oleh serikat-serikat dagang tertentu yang mempunyai dewanya masing-masing. Barangsiapa mau berdagang harus masuk menjadi anggota serikat. Dan menjadi anggota serikat dagang berarti harus menyembah dewanya. Orang-orang Kristen sejati yang tidak mau kompromi benar-benar tidak dapat membeli dan menjual barang-barang yang dikuasai serikat-serikat semacam ini.

Jadi antikris yang dicatat pada Kitab Wahyu tidak terbatas hanya kepada 1 orang tunggal di akhir zaman pada masa Yesus akan datang kedua kali, melainkan pada orang-orang atau segolongan orang yang pada masa dia (atau mereka) hidup menganiaya orang Kristen dan menyesatkan orang-orang percaya dengan teologi-teologi yang palsu, mujizat palsu, atau dengan kuasa politik menganiaya orang kristen secara massal.

Kalau begitu apa maksudnya dengan tanda di dahi dan di tangan pada Wahyu 13:16, “Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya” ? Kalau memang yang dimaksudkan adalah tanda fisik seperti chip atau barcode, maka seharusnya orang-orang Kristen sejati pun punya tanda fisik di dahi mereka seperti yang ditulis di Wahyu 7:3, “katanya: ‘Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memateraikan hamba-hamba allah kami pada dahi mereka'” dan Wahyu 22:4, “dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka.” Nah tapi kenapa orang-orang yang menafsirkan tanda 666 sebagai tanda fisik tidak menafsirkan tanda pada dahi bagi orang percaya sebagai hurufiah?

Keselamatan terjadi karena anugerah Allah oleh iman (Efesus 2:8-9). Dan keselamatan tidak dapat hilang. Paulus dalam Roma 8:35 jelas sekali mengatakan: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” juga Roma 8:38-39, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Bagaimana mungkin orang percaya sungguh-sungguh bisa kehilangan keselamatan hanya karena menerima tanda fisik di tangan atau di dahi?

Tanda pada dahi yang dimaksudkan pada ayat-ayat tersebut sebenarnya adalah suatu penekanan ada pembagian golongan antara orang percaya sejati (yang punya “tanda” nama-Nya di dahi) dengan orang yang menolak Kristus (yang punya tanda “angka manusia 666”). Tanda bagi orang percaya adalah materai Roh Kudus, artinya saat kita percaya kepada Kristus, Roh Kudus memateraikan kita bahwa kita ini milik Kristus yang tidak akan turut dihukum.

[CKM]:

1. Celaka semua yang punya nama AXIS. Nama ini (AXIS) bukanlah nama yang baru muncul di dunia ini. Kata “AXIS” dalam bahasa inggris adalah “POROS, SUMBU, SENDI”. Nah, apakah kata2 ini juga mau dikaitkan dengan anitkristus? Ini adalah penafsiran yang dibuat2 dan motivnya seeprtinya bisa ditebak. Yaitu persaingan bisnis. Pada abad ke 20, masihkah Anda ingat akan ajuran untuk tidak membeli sabun, pasta gigi dan sebagainya yang diproduksi oleh sebuah perusahaan tertentu yang dalam logonya ada lambang bilangan “666”, karena perusahaan itu sponsor gereja setan di USA? Mengkaitkan bilangan “666” untuk menunjuk perusahaan tertentu pada zaman sekarang ini agaknya terlalu berlebihan, sebab jangan-jangan isu seperti itu dibuat oleh saingan bisnis dengan tujuan saling menjatuhkan.

2. Soal 666.
Soal angka ini banyak sekali penafsiran. Saya setuju dengan William Hendricksen bahwa paragraf ini adalah paragraf yang paling sulit dalam kitab Wahyu 13:18. Ide2 utamanya jelas tetapi detil2nya kabur. Tapi saya tidak tulsikan apa saja penafsiran dari 666 ini. Mengapa binatang itu memakai simbol “666”? Dalam tradisi Yahudi sudah dikenal bahwa angka “7” adalah simbol kesempurnaan. Misalnya sewaktu Allah menciptakan alam semesta pada hari yang ketujuh Allah berhenti menciptakan dan menguduskan ciptaanNya itu (hari Sabath). Sedangkan angka “6” adalah simbol ketidaksempurnaan, atau iblis yang ingin menjadi seperti Allah (7) tetapi gagal (baru = 6), (bandingkan Yesaya 14:12-16). Sedangkan penekanan sampai 3 kali (“6-6-6”, bukan “enam ratus enam puluh enam”) menyatakan “amat” tidak sempurnanya. Williem Hendriksen menafsirkan 6-6-6 ini sebagai kegagalan atas kegagalan atas kegagalan! Tetap jelas angka “666” itu menunjuk pada Sang penganiaya, yang disebut juga anti Kristus, karena menganiaya jemaat Kristus.