1. apakah boleh kita bermain2, atau mendemonstrasikan kuasa Roh Kudus?
pernah saya diajar untuk mendoakan orang yg tidak ada masalah apa2(tidak sakit, tidak stress, jadi normal2 saja) jadi sesi ini memilih teman kita sendiri secara acak untuk didoakan sebagai bahan latihan, dikatakan bahwa bila saya sungguh2, orang yg saya doakan itu akan tumbang/jatuh. Apakah benar Roh Kudus dijadikan bahan untuk demonstrasi seperti itu? ada sesi latihannya lagi?

Maria di Jakarta

[JAWAB]:

[MC]:

Pertanyaannya sebenarnya bukannya boleh kita bermain-main atau mendemonstrasikan. Pertanyaan yang sebenarnya adalah bisakah kita?

Ada baiknya kita kembali melihat tatanan semesta ini. Semesta ini dapat digolongkan menjadi 3 ”bagian”, yaitu: Allah, Manusia, dan Alam. Bagaimanakah korelasi antara ketiga bagian ini?

Allah adalah Sang Pencipta. Secara otomatis, Ia menjadi Sang Penguasa dan Sang Tuan (Tuhan) atas semua ciptaannya. Tidak ada ciptaan yang posisinya dapat melampaui Allah. Manusia dan Alam adalah ciptaan. Secara otomatis, posisinya berada di bawah Allah. Kita tidak akan membahas lebih lanjut mengenai posisi antara Manusia dan Alam.

Nah, setelah kita tetapkan bahwa secara hierarki atau struktur organisasi, kalau kita gunakan istilah dunia bisnis, maka posisi Allah sebagai pencipta berada di atas Manusia.

Kita kembali kepada pertanyaan modifikasi kita. Bisakah kita bermain-main dengan kuasa Roh Kudus (RK)? Siapakah RK? RK adalah Allah sendiri. Artinya, manusia berada di bawah RK, bukan di atas RK.

Dengan common sense saja kita mengerti bahwa SESEORANG YANG MEMILIKI KEDUDUKAN LEBIH RENDAH TIDAK BERHAK DAN TIDAK BISA MENGATUR SESEORANG YANG MEMILIKI KEDUDUKAN LEBIH TINGGI! Maka dari itu, tidaklah mungkin bagi manusia untuk mengatur Allah.

Kuasa RK adalah nyata, mujizat juga nyata. AKAN TETAPI, KUASA RK DAN MUJIZAT TIDAK AKAN TERJADI BILA ALLAH TIDAK BERKEHENDAK. Manusia bisa meminta dan mencoba apapun juga, tetapi sekali lagi, Allah tidak diatur oleh manusia. Dan bila Allah tidak berkehendak, latihan apapun tidak akan membuat Kuasa Allah nyata. Sebaliknya, kita perlu bertanya seperti para orang Farisi, “Dengan kuasa manakah engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepadamu?” (Mat 21:23) kepada orang-orang yang mempraktekan hal-hal tersebut.

[DSB]:

Jelas tidak boleh. Roh Kudus adalah Allah, bukan kekuatan. Kalau kita sudah memandang Roh Kudus sebagai power/kekuatan, kita sudah menjadi sama dengan orang yang mengembangkan tenaga chi/prana/reiki/cakra. Kitalah alatnya dan Roh Kudus adalah Tuannya, bukan terbalik seakan-akan kita bisa ‘pakai’ Roh Kudus semau kita sendiri.

Fenomena tumbah/jatuh juga bisa jadi perdebatan karena bukan kalangan Kristen saja yang bisa tumbang/jatuh. Hal-hal seperti ini banyak terjadi dalam ritual spiritisme. Selain itu ada penjelasan psikologisnya untuk masalah ini. Terlebih lagi ada sesi latihan, kekristenan bukanlah pendukunan sehingga kuasa Roh Kudus seakan-akan perlu latihan. Sama sekali tidak ada ayat Alkitab yang mendukung tumbang/jatuh dan juga tentang latihan.

Sebaliknya dalam Markus 16:15-20 kita dapat membaca bahwa kuasa Roh Kudus (menyembuhkan orang, dan mujizat lain) diberikan dalam konteks pengabaran Injil. Sama sekali bukan dalam konteks kepentingan diri kita sendiri (misalnya untuk menghemat biaya supaya tidak usah ke dokter, cari jodoh, atau untuk mendapatkan berkat jasmani yang lain).