4. Bagaimana dengan: Mendengar Suara Tuhan, sama seperti kita berdialog dengan diri kita sendiri, serta mudahnya beberapa teman saya mengaku “mendengar suara Tuhan” , atau “Tuhan memberi saya inspirasi…”

Maria di Jakarta

[JAWAB]:

[MC]:

Mudah mengatakan kita mendengar suara Tuhan karena hal itu tidak dapat dibuktikan. Yang harus kita ingat selalu adalah peringatan Yesus ketika Ia berbicara mengenai akhir zaman dalam Mat 24:11 ”Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang.”

Apakah Tuhan masih berbicara kepada seseorang di zaman ini? Saya percaya ya. Tapi kita harus benar-benar mencermati dan menguji pernyataan orang tersebut, karena jangan-jangan orang tersebut adalah nabi palsu.

Beberapa kriteria yang dapat dipakai.
a. Tidak mungkin berkontradiksi dengan Alkitab, karena Tuhan kita bukanlah Tuhan yang berubah-ubah dan kontradiktif. FirmanNya pasti koheren dari yang paling pertama sampai yang paling akhir.
b. Tidak mungkin menambah hal baru di luar Alkitab, karena kita percaya bahwa kanon Alkitab telah ditutup. Sekiranya ada Firman yang baru, berarti kita harus menambahkannya ke dalam Alkitab kita. Bayangkan bila tiba-tiba ada sebuah kitab dalam Alkitab yang bernama ”Surat Ming Chen”!
c. Semuanya pasti terjadi. Bila ia mendengar suara Tuhan 1000 kali, pasti tingkat keakuratannya adalah 100%. Bila ada satu saja yang meleset (apalagi banyak yang meleset), sebaiknya kita mulai berhati-hati dengan pernyataan-pernyataan orang tersebut.

Selain itu, janganlah kita lupakan bahwa karunia bernubuat sebenarnya tidak hanya berarti karunia untuk ”meramalkan” hal-hal di masa yang akan datang. Karunia bernubuat adalah karunia untuk menyampaikan kebenaran Firman Tuhan sehingga orang yang mendengar Firman tersebut akhirnya dapat lebih mengasihi Tuhan, atau bila ia adalah orang belum percaya, orang tersebut akan menjadi percaya kepada Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan.

[DSB]:

Tentunya kita harus bisa membedakan manakah suara hati, dan mana suara yang benar-benar terdengar dari luar diri kita sendiri. Suara Tuhan tentu akan terdengar sangat jelas, tidak akan membuat kita bertanya-tanya apakah itu suara hati kita sendiri/seseorang yang lain yang berbicara.

Kita tidak boleh begitu saja menerima klaim “itu suara Tuhan”, atau merasa bahwa yang kita dengar itu suara Tuhan. Iblis pun bisa menyamar sebagai malaikat terang. Yang penting kita harus menguji setiap roh tersebut. (I Yohanes 4:1-6)

Kalau memang benar orang tersebut mendengar suara Tuhan ada syarat yang harus dipenuhi:

1.      Perkataan Tuhan tidak mungkin berlawanan dengan Firman Tuhan (tentunya dengan pengertian yang benar sesuai konteks bukan menurut pengertian sendiri)

2.      Perkataan Tuhan tidak mungkin salah dan tidaklah mungkin berlawanan dengan perkataan-Nya yang lain. Misalnya ada yang mengklaim mendengar Tuhan akan datang tahun 2000, terus ternyata Tuhan tidak datang, jangan malah mengoreksi bahwa Tuhan menunda kedatangan-Nya, tapi BERTOBAT! Kalau Tuhan mau mengoreksi tentu Tuhan akan lakukan sebelum ‘semua umat-Nya’ menantikan kedatangan-Nya  tgl 31 Desember 1999. Tapi yang terjadi tempo hari adalah sudah lewat waktunya baru dikoreksi, jelas ‘pernyataan Tuhan’ nya sangat diragukan! Apalagi setelah di Alkitab sudah jelas-jelas tertulis bahwa yang tahu waktunya hanya Bapa saja (Matius 24:36).

3.      Dalam keseluruhan Alkitab, pernyataan Tuhan selalu berhubungan dengan kekekalan dan mengenai rencana kerajaan-Nya, tidak pernah sekedar memberitahu siapa jodoh kita (di surga nggak ada suami-istri – Matius 22:30), atau bisnis yang bagus, atau bahkan sekedar memberitahu apa yang harus dilakukan hari demi hari. Tuhan sudah memberikan Firman-Nya sebagai pedoman dan kita punya tanggung jawab untuk mempelajarinya untuk menuntun kita setiap hari. Ingat dalam perumpamaan orang kaya yang masuk Neraka dan Lazarus yang miskin di Injil Lukas 16:19-31, saat orang kaya minta supaya ia diijinkan memberitahu orang yang masih hidup (artinya menunjukkan mujizat/penampakan kepada manusia yang masih hidup) Abraham mengatakan “Ada pada mereka kesaksian Musa dan para Nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.” dan kemudian ia mengatakan pula “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”