2. Bagaimana dengan hal ini: untuk jemaat yg blom memiliki PH (Pasangan Hidup) harap mendaftar ke Ketua Komsel, agar nantinya didoakan sampai mendapat pasangan hidup, saya juga terganjal atas dogma ini, serta aturan yg dibuat2 sendiri, misalnya dalam 6 bulan tidak boleh contact dengan calon pasangan kita agar tau ini pasangan dari TUhan atau bukan.

Maria di Jakarta

[JAWAB]:

[DSB]:

Di sini kurang jelas ganjalan apa yang sebenarnya jadi masalah. Kalau hanya menyangkut didoakan ketua komsel saja sih sebenarnya OK saja, asal bukan menjadi hukum gereja yang baru. Tiap orang punya hak juga untuk menyimpan masalah pribadinya sendiri tanpa harus memberitahukan kepada gereja.

Mengenai peraturan dalam 6 bulan tidak boleh contact memang aneh, karena untuk menjadi pacar kita justru harus mengenal dulu dengan baik. Yang lebih baik mungkin begini: dalam 6 bulan tidak boleh jadian dulu, nah ini baru bagus, jadi nggak cuman kenal 1 bulan terus langsung jadian. Mungkin yang jadi masalah justru adalah apabila ketua komsel menyatakan bahwa menurut suara Tuhan jodoh si A adalah si B.

Mengenai pasangan dari Tuhan atau bukan, perlu ditegaskan bahwa MANUSIALAH YANG BERTANGGUNG JAWAB MEMILIH PASANGANNYA SENDIRI. Tuhan memang berdaulat dalam menentukan segala sesuatu, tetapi tidak menghilangkan kebebasan sekaligus tanggung jawab manusia untuk memilih pasangan. Jangan sampai ada orang yang berpikir dirinya menikahi seseorang karena ‘suara’ Tuhan mengatakan demikian, tapi kemudian setelah menikah ternyata hidup menderita dan menyalahkan Tuhan sebagai “yang menentukan” jodohnya. (Untuk penjelasan lebih lengkap silakan membaca Pasangan Hidup: Jodoh atau Pilihan?)

Banyak orang menggunakan cara “suara Tuhan” ini untuk membenarkan rasa cintanya kepada seorang wanita/pria yang menarik hatinya. Mencari tanda untuk memastikan “suara Tuhan” akan pasangan yang akan kita pilih merupakan suatu cara yang menunjukkan bahwa kita kuranglah dewasa untuk menentukan dan memilih pasangan hidup dengan benar sesuai dengan tuntunan Firman Tuhan.

[MC]:

Terlepas dari apakah kita percaya akan adanya jodoh atau tidak, didoakan untuk mendapatkan pasangan hidup (PH) sah-sah saja. Bukankah Yesus sendiri mengatakan, ”mintalah apa saja yang kamu kehendaki” (Yoh 15:7). Jadi minta didoakan mengenai PH boleh-boleh saja, malahan sangat perlu dilakukan agar kita tahu kehendak Tuhan bagi kita.

Yang menjadi masalah adalah aturan-aturan tambahan yang dibuat. Mengingat informasi yang Saudara berikan sangat terbatas, maka saya tidak dapat menyimpulkannya. Akan tetapi, saya percaya bahwa Tuhan kita bukanlah Tuhan yang terpaku pada metode. Dia adalah Tuhan yang kreatif yang seringkali bertindak di luar akal kita.

Kalau kita berkaca pada Alkitab, kita akan melihat berbagai metode yang dipakai Tuhan untuk mempertemukan seseorang dengan PH-nya. Ishak dipertemukan dengan Ribka melalui acara percomblangan, Yakub dengan Lea dan Rahel dipertemukan saat Yakub sedang bekerja di rumah mertuanya, Rut bertemu Boas ketika Rut sedang memunguti gandum di ladang Boas.

Bahkan ada cara-cara yang ”nakal”. Yehuda bertemu Tamar dengan tipu muslihat Tamar yang menyamar menjadi pelacur, Daud bertemu Batsyeba ketika Daud “mengintip” Batsyeba mandi dan akhirnya jatuh ke dalam dosa perzinahan, bahkan pembunuhan.

Melalui berbagai cara inilah akhirnya Yesus lahir.

Jadi, didoakan untuk masalah PH hidup adalah sesuatu yang baik sekali kita lakukan, tetapi adakah metode tertentu yang harus dilakukan dan pasti berhasil? Tidak ada.