Berhubung masih dalam momen Natal, mau tanya dong, sebenernya boleh ga sih Gereja menggunakan ikon-ikon Natal seperti Sinterklas? (misalnya dalam hal dekorasi atau dalam hal lain) Terima kasih

Pandu

[JAWAB]:

[DSB]:

Saya melihat Natal saat ini sudah menjadi tradisi internasional, bukan lagi perayaan suatu agama. Natal saat ini bukan saja menjadi perayaan umat Kristen namun bahkan seluruh dunia merayakan Natal. Sebagai tradisi, sama seperti tradisi-tradisi lain seperti Imlek atau lainnya boleh-boleh saja kita menggunakan simbol-simbol perayaan tersebut (misalnya kain merah dan ampau pada waktu imlek, atau topi sinterklas dan pohon natal pada waktu Natal) di gereja, namun tentunya dengan syarat kita tetap harus mengutamakan Yesusnya daripada simbol-simbol tersebut. Penggunaan simbol-simbol tersebut tidak boleh mengalihkan fokus utama kita dari Kristus kepada objek lain misalnya Sinterklas.

Dalam Film Polar Express misalnya, Santa Claus telah menjadi objek yang dipuja-puja dan sangat dimuliakan, dan Yesus sama sekali tidak disebutkan. Jadi Natal digeser dengan hadiah, perayaan dan Santa, bukan lagi Yesus. Ini tentunya sangat tidak benar. Anak-anak akan belajar menantikan Santa lebih daripada merayakan kehadiran Kristus.

Kita harus ingat bahwa tokoh utama Natal adalah Yesus Kristus yang sebenarnya adalah Tuhan, rela turun ke dunia menjadi manusia dan mengalami penderitaan demi menebus dosa kita.

Jadi, untuk para guru-guru sekolah minggu, apabila ada drama di gereja waktu Natal, cobalah untuk membuat suatu drama yang menunjukkan bahwa Sinterklas menyembah Yesus Kristus, dan kembalikan fokus sinterklas kepada kelahiran Kristus (seperti pada buku 1 Narnia). Ini akan mengubah pola pikir anak untuk memuja Yesus lebih daripada Santa Claus.

[CKM]:

Pertanyaan yg baik.

1. Pohon Natal masih diperbolehkan.

Memang ada kemungkinan bahwa asal usul pohon Natal berbau kekafiran. Tetapi Encyclopedia Britannica membedakan pohon Natal kuno dan yang modern. Pohon Natal modern dikatakannya berasal dari Jerman Barat, dan tidak berurusan dengan penyembahan berhala atau kekafiran, tetapi berhubungan dengan pohon di Taman Eden (“The Christmas tree comes from medieval German mystery plays centred in representations of the Tree of Paradise (Genesis 2:9) – Encyclopedia Britannica – )”., dan digunakan pada tanggal 24 Desember, yang merupakan hari raya untuk memperingati Adam dan Hawa. Penggunaan pohon yang terus menerus hijau / tidak terpengaruh oleh musim dingin, seperti cemara, dimaksudkan sebagai simbol dari kehidupan yang kekal. Kalau ini benar, maka pohon Natal modern tidak bersumber pada kekafiran / penyembahan berhala.

2. Nah hiasan Santa Claus, salju-saljuan yg harus dibuang. Karena hiasan yang tidak sesuai dengan fakta. Dengan memberikan salju-saljuan, maka itu menunjukkan bahwa seolah-olah Natal terjadi pada musim dingin. Padahal boleh dikatakan tidak mungkin bahwa Natal terjadi pada musim dingin, mengingat bahwa para gembala berada di luar / di padang pada malam hari, pada saat mereka mendapat berita Natal dari malaikat-malaikat.

Dari Encyclopedia Britannica 2000 ini bisa didapatkan bahwa Santa Claus berasal dari St. Nicholas, yang keberadaannya tidak dibuktikan oleh dokumen sejarah manapun. Jadi tidak ada yang pasti yang diketahui tentang hidupnya. Yang diketahui tentang dia berasal dari tradisi. Mungkin ia menjadi uskup di kota Myra pada abad ke 4. Ia dipenjara pada masa pemerintahan kaisar Diocletian, tetapi lalu dibebaskan pada masa pemerintahan kaisar Konstantine yang Agung, dan menghadiri Sidang Gereja Nicea (tahun 325 M.). Setelah kematiannya ia dikuburkan di Myra, dan pada tahun 1087 seseorang mencuri jenazahnya dan membawanya ke Bari, Italia. Ini menjadikan dia populer di Eropah dan Bari menjadi tempat yang dipenuhi oleh orang-orang yang berziarah. Reputasi Nicholas berkenaan dengan kedermawanan dan kebaikannya menyebabkan munculnya dongeng-dongeng berkenaan dengan mujijat-mujijat yang dilakukannya terhadap orang-orang yang miskin / tidak bahagia, bahkan mujijat kebangkitan orang mati. Di Belanda, variasi dari Santa Claus ini adalah Sinterklaas.

Dari semua ini kita bisa melihat bahwa ini jelas-jelas merupakan sesuatu yang salah, karena bukan hanya tidak ada urusannya sama sekali dengan Natal, tetapi bahkan bersifat dusta / takhyul. Karena itu Santa Claus / Sinterklaas, baik gambarnya, patungnya, beserta lagu-lagunya, harus disingkirkan.

Kesimpulan: Harap diperhatikan, bahwa kehadiran pohon natal pada saat natal tidaklah hal yang mutlak. Bahkan kalau mau jujur, pohon natal, santa claus dll tidak ada hubungannya sama sekali dengan natal. Jdai kenapa kehadariannya harus mutlak ada? Ini yg saya lihat masih menjadi kemutlakan kehadiran pohon natal pada gereja & keluarga Kristen. Semua hal dalam kekristenan yang menjadi terlalu penting, bisa menggeser apa yang seharusnya merupakan hal terpenting dalam Natal, yaitu Yesus Kristus sendiri. Saya tidak mengharuskan untuk membuang pohon Natal secara total; itu rasanya tidak mungkin. Tetapi setidaknya kita harus mengurangi penekanan yang berlebihan pada pohon Natal ini, supaya jangan pohon Natal, yang sebetulnya tidak ada hubungannya dengan Natal, mengaburkan / menggeser fokus yang sebenarnya dari Natal.