Syalom,.

Bgaimana menanggapi paham islam mengenai gambaran wajah Yesus. Mereka berpendapat kalo wajah nabi tdk boleh d lukiskan, krn tidak ada yg tahu persis wajah Yesus seperti apa.. Seumpama, saya mengajar wajah anda, dan sangat berbeda. Tentu anda akan tersinggung kan.?

Gbu

Sardo

[JAWAB]:

[CKM]:

Halo,

Pertanyaan ini cukup komplek.

Singkatnya perlu diperhatikan beberapa hal:

1. Kita tidak tahu seperti apa sebenarnya wajah Yesus. Sebab itu, kita sebenarnya tidak punya apapun yg menyerupai penampakan fisikNya. Sewaktu seorang seniman/seseorang menggambar sebuah gambar dia tentu menggunakan imajinasinya. Si pelukis tentu tahu bahwa Yesus adalah orang Yahudi, sehingga ia tentu mencari data mengenai ciri fisik orang Yahudi dan setelah itu dengan data yg didapat ia mulai berimajinasi sendiri dan lalu ia bilang,”Ini adalah gambar Yesus Kristus”. Sadarkah, pada saat itu si pelukis sidah berbohong. Dan lukisan itu menurut Yer 51:17-18 adalah kesia-siaan, pekerjaan yang menjadi buah ejekan.

2. Sebetulnya membuat patung dan atau menggambar gambar dan sekaligus menggunakannya, itu sduah melanggar perintah ke 2 dalam 10 hukum. Perintah sudah dilanggar pada waktu manusia mencoba untuk membuat patung atau gambar dari Yesus Kristus. Tapi manusia suka membenarkan pembuatan patung atau gambar daripada Yesus Kristus dengan dalih bahwa kita harus berpikir/mengerti akan adanya perbedaan penting antara sebuah patung/citra dengan lukisan/keserupaan. Namun sayangnya, perintah kedua tidak mengenal perbedaan itu. Perintah kedua melarang kita untuk membuat lukisan atau patung apapun tentang Tuhan. Sewaktu kita membuat sebuah representasi Yesus Kristus, kita mengimajinasikan nature manusia Yesus terpsiah dari nature ilahiNya. Memang benar, Yesus adalah 100%  manusia, tapi dia adalah juga 100% Allah. Dia adalah Allah dan manusia dalam satu pribadi. Kita tidak bisa/boleh pada saat apapun memisahkan satu nature dari nature lainnya (lih. Yoh 5:23).

3. Kalau bagitu apakah kita sama sekali tidak boleh untuk membuat patung dan gambar Yesus? Kalau patung dan  gambar Yesus itu untuk tujuan penyembahan dan ilustrasi Alkitab maka hal tsb tidak diijinkan. Waktu kita membuat suatu representasi Kristus, kita juga tidak menghormati Alkitab. Karena hanya Alkitab yang memberi “hikmat” kepada kita “dan menuntun” kita “pada keselamtan” (2 Tim 3:15). Karena Alkitab sejalah umat Kristen diperlengkapi secara menyeluruh. Kita tidak perlu menambahkan gambar2 Yesus pada Alkitab.
Maka perhatikan apa kata katekismus Heidelberg:
Question 97. Are images then not at all to be made?

Answer: God neither can, nor may be represented by any means: (a) but as to creatures; though they may be represented, yet God forbids to make, or have any resemblance of them, either in order to worship them or to serve God by them. (b)

Question 98. But may not images be tolerated in the churches, as books to the laity?

Answer: No: for we must not pretend to be wiser than God, who will have his people taught, not by dump images, (a) but by the lively preaching of his word. (b)

Maka kalau patung & gambar Yesus itu hanya sebatas karya seni, itu masih diijinkan dan itupun mesti dengan kehati-hatian.

[DSB]:

Memang hal ini dalam kekristenan juga masih ada perdebatan apakah boleh atau tidak menggambar wajah Yesus. Untuk menambahkan jawaban rekan saya di atas, ada pendapat lain yang mengijinkan menggambar wajah Yesus untuk ilustrasi Alkitab misalnya, karena di dalam Alkitab tidak ada larangan khusus mengenai hal ini.

Orang yang memegang pendapat ini menafsirkan Perintah kedua dari 10 perintah Allah yaitu: “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya,… ” (Keluaran20:4-5a) sebagai suatu kesatuan antara kalimat “Jangan membuat patung” dengan “jangan menyembah kepadanya” artinya kita tidak boleh membuat patung atau gambar apabila untuk kita sembah. Sedangkan untuk ilustrasi atau karya seni misalnya tentu masih diijinkan. Terutama apabila yang berusaha digambarkan orang adalah peristiwa atau apa yang Yesus lakukan, dan penekanannya bukan pada gambar wajah Yesus sendiri.

Namun karena memang tidak ada orang yang pernah melihat wajah Yesus yang masih hidup saat ini, sebaiknya kita tidak menggunakan gambar Yesus yang sama untuk berbagai ilustrasi sehingga tidak ada kesalahan dalam menganggap bahwa gambar itu benar-benar gambar Yesus.

Selain itu, gambar Yesus juga sebaiknya tidak dipasang di tempat ibadah karena dalam ibadah kita tidak boleh mengacu kepada patung/gambar buatan tangan manusia.

Mengenai statement bahwa kalau yang digambar itu berbeda dengan sebenarnya maka orang yang digambar akan marah, cara pandang tersebut sebenarnya sangatlah subjektif. Karena dari sudut pandang lain, kalau lukisan seseorang yang sudah tidak ada lagi di dunia dipandang sebagai penghormatan yang khusus pada orang yang sudah tidak ada lagi tersebut, tentu misalnya Pangeran Diponogoro maupun Hasannudin tidak akan marah apabila melihat gambar mereka sekarang dipajang di kelas-kelas di seluruh nusantara. Dengan cara pandang yang sama, maka argumen bahwa Yesus akan marah karena gambarnya beda dengan dirinya tidak dapat dijadikan suatu pandangan yang objektif.