Bagaimana dengan pacaran beda suku?

Aldo

[JAWAB]:

[DSB]:

Bung Aldo, dalam Firman Tuhan juga tidak ada aturan spesifik yang mengatur bahwa orang Kristen boleh/tidak boleh menikah dengan yang berbeda suku. Jadi tentunya menikahi orang yang berbeda suku sah-sah saja. Secara biologis pun pernikahan beda suku ini sangat baik, karena dapat menumbuhkan sifat-sifat baru pada keturunan mereka.

Namun seringkali pacaran dengan suku yang berbeda menghadapi tantangan dari orang tua mereka. Misalnya masih ada keluarga suku Jawa yang tidak mengijinkan anaknya berpacaran dengan orang bule misalnya, karena stereotipe orang bule dianggap tidak setia pada pasangannya. Atau ada juga keluarga tionghoa yang tidak memperbolehkan anaknya berpacaran dengan suku sunda karena dianggap punya tingkat sosial yang lebih rendah misalnya. Apabila orang tua kita sendiri yang mempunyai persepsi negatif tersebut, tentunya cukup menyulitkan bagi Anda. Anda perlu melobi orang tua Anda dan terus menunjukkan hormat dan kasih kepada orang tua Anda (juga orang tua pasangan Anda) sambil menjalin kasih dengan pasangan Anda. Banyak orang tua yang luruh juga melihat kegigihan dan ketulusan anaknya / calon menantunya dalam memperjuangkan pasangannya. Yang penting dalam masa-masa seperti ini adalah kesabaran dari Anda dan pasangan Anda.

Perbedaan suku juga berarti perbedaan budaya dan kebiasaan. Kadang-kadang karena beda kebiasaan, tindakan seseorang dapat dianggap tidak sopan. Misalnya kebiasaan di Jawa, kalau bertamu dan disediakan minuman, jangan dihabiskan, karena kalau dihabiskan dianggap rakus dan tidak sopan. Tapi di pulau lain mungkin kebalikannya, di mana dengan menghabiskan minuman tersebut berarti menghargai tuan rumah.  Karena itu bagi yang berpacaran beda suku, hal-hal semacam ini perlu diketahui sehingga dapat mengurangi potensi konflik di kemudian hari.

Untuk mempelajari budaya/adat pasangan kita membutuhkan waktu. Anda perlu menghadiri berbagai acara dan kesempatan dari kerabat pasangan Anda untuk mempelajari dan mengenal adat dan kebiasaan sukunya. Pada umumnya perbedaan adat dapat dilihat dari acara kelahiran, pernikahan dan kematian. Misalnya pada budaya tionghoa untuk kelahiran ada yang disebut man yue atau peringatan 1 bulanan bagi bayi yang baru melahirkan. Pada pernikahan harus melalui tahap “diminta” dan “tukar baki” terlebih dahulu baru menikah. Dan pada saat kematian adalah tabu menggunakan pakaian berwarna merah. Nah, hal-hal detil seperti itu haruslah diperhatikan agar memudahkan Anda memasuki keluarga pasangan Anda.

Perlu diingat bahwa budaya Asia umumnya masih bersifat kekeluargaan, sehingga kita bukan hanya akan menikahi seorang pria/wanita saja, tetapi kita akan menikahi seluruh keluarga besarnya. Demikian juga pasangan kita. Seringkali salah paham dan persepsi negatif muncul bukan dari pasangan yang akan menikah, namun dari saudara atau keluarga besar mereka. Hal ini memang sulit dicegah dalam pernikahan beda suku. Dibutuhkan banyak pengertian, kesabaran dan toleransi baik dari pasangan, maupun dari keluarga mereka.

Yang paling penting adalah tetap bersikap hormat pada keluarga pasangan bagaimanapun sorotan negatif yang muncul, dan terus menunjukkan bahwa pernikahan Anda didasarkan dengan cinta dan ketulusan serta kekudusan. Maka lama-lama pihak keluarga yang kurang simpati pun dapat melunak, dan akhirnya akan menerima pasangan yang beda suku tersebut.