Dear Sophia, nama saya Katarina. Saya lagi dilema dengan seorang pria. Dia mengalami glaukoma yang katanya tidak bisa sembuh & bahkan bisa mengalami kebutaan & dia tidak bekerja tapi dia bermain valas. Pertama saya tau dia glaukoma, saya sempat tidak terima karena menurut saya dia pria baik & dia tidak pantas menerimanya. Tapi seiring berjalannya waktu, kami masih tetap menjalin hubungan & dia mengatakan bahwa dia seorang pemain valas. Jujur saya bingung, apakah saya hanya merasakan iba karena glaukomanya & saya juga bingung apakah saya bisa menerima pekerjaanya? Saya umur 28 tahun & dia 40 tahun, usia yang cukup jauh, tapi setiap kali kita ingin meng-cut hubungan, sll saja tidak pernah bisa, sampai akhirnya kita memutuskan untuk berteman tapi tetap saja kami tidak bisa menutupi perasaan masing2. Yang ingin saya tanyakan perasaan apa yang saya rasakan sekarang ya? Cinta ataukah hanya sekedar iba? Dengan penyakitnya seperti itu saya takut orang tua tidak mengizinkan kami untuk bersama & juga dengan pekerjaannya spt itu membuat saya ragu untuk memperkenalkannya ke orang tua. Saya bukan orang pembantah terhadap orang tua, jadi apapun yang orang tua katakan pasti akan saya turuti krn saya yakin orang tua sangat ingin yang terbaik untuk anak2nya.

Terkadang saya putus asa, mengapa Tuhan sll memberikan cobaan yang berliku2 ttg jodoh saya..tapi saya masih terus berharap yang terbaik. Di saat saya sudah sreg pasti ada saja yang membuat hubungan itu terhenti, entah itu dr pihak orang tua ataupun dari saya pribadi. Mohon sarannya.

Salam,

Katarina (nama samaran)

[JAWAB]:

[DSB]:

Dear Katarina,

Memang membingungkan apabila memiliki kekasih yang kemungkinan tidak akan disetujui oleh keluarga Anda. Apalagi buat Anda yang patuh pada orang tua. Dari e-mail Anda, kelihatannya Anda sudah menyadari berbagai kesulitan yang menghadang dalam membina hubungan dengan si dia, dan ingin memutuskan hubungan cinta Anda. Tetapi nampaknya ada hal yang membuat Anda berdua sulit untuk memutuskan hubungan ini. Mungkin Anda dapat coba merenungkan mengenai apa sebenarnya yang menyebabkan sulitnya memutuskan hubungan Anda dengan si dia.

Katarina, cinta itu bukan sekedar perasaan. Memang perasaan tertarik dengan lawan jenis seringkali sulit disangkal. Namun perasaan saja tidak akan membawa Anda kepada cinta yang sejati. Perasaan banyak dipengaruhi oleh keadaan. Perasaan juga banyak dipengaruhi oleh tampilan fisik (bagi pria) atau sikap yang manis (bagi wanita). Keadaan, rupa dan sikap ketiganya bisa berubah-ubah, dan perasaan Anda juga akan berubah-ubah menurut hal-hal tersebut. Tentunya Katarina setuju kalau cinta sejati tidak berubah-ubah seperti ini bukan?

Cinta sejati adalah pilihan. Cinta adalah memilih pasangan yang tepat dari sekian banyak orang yang menarik hati kita, dan memilih untuk memberikan hati kita kepadanya, kemudian menolak semua yang lain.

Nah… coba Katarina menimbang-nimbang dan menilai diri sendiri dengan jujur, apakah Katarina merasa si dia adalah orang yang tepat untuk diajak hidup bersama sampai maut memisahkan? Saya rasa dengan menjawab hal ini, Katarina dapat memutuskan dengan lebih mantap mengenai apa yang harus dilakukan.