Bagaimana para Calvinis memahami relevansi Matius  28:19 untuk umat Kristen saat ini?

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”

Apakah untuk zaman sekarang, seorang Kristen harus dengan semangat berkobar-kobar “mempertobatkan” orang-orang nonKristen? Kalau saya berhasil membaptis seorang muslim, saya akan ditimpuki batu, Bung!

Ataukah pluralitas agama kini sudah diamini para Calvinis sebagai suatu keniscayaan–bahwa Allah memang menghendaki adanya keberagaman agama? Bagaimana para Calvinis menanggapi fenomena ini?

Terakhir, menurut Calvinis, apakah para nonKristen yg sepanjang hidupnya menghayati ajaran agama mereka masing-masing tetap tidak memperoleh keselamatan seperti yang dijanjikan Yesus?

Hireka


[JAWAB]:

[MC]:

Pertanyaan saudara akan saya bagi menjadi 3 bagian.

1. Apakah ada banyak jalan untuk ke surga (diselamatkan)?
2. Bagaimana relevansi Mat 28:19?
3. Bagaimana dengan toleransi hidup beragama?

Untuk pertanyaan pertama, kita dapat melihatnya secara filosofis dan secara Firman Tuhan.

A. Secara filosofis.

Memungkinkah ada banyak jalan menuju keselamatan?

Pertama-tama, mari kita lihat kembali HUKUM LOGIKA.

Salah satu bagian dari hukum logika adalah bahwa 2 hal yang bertentangan (berkontradiksi) tidak mungkin keduanya benar. Mungkin saja keduanya salah, tapi TIDAK MUNGKIN KEDUANYA BENAR.

Misalkan X dan Y datang dan menanyakan siapa Presiden Amerika saat ini.

Bila saya menjawab “Bush” kepada X dan “Clinton” kepada Y, apakah mungkin kedua jawaban tersebut benar?

Tidaklah mungkin, karena hanya ada 1 Presiden Amerika.

Dalam hal ini, kedua jawaban saya salah, karena Presiden Amerika saat ini adalah “Obama”.

Maka kita lihat, 2 hal yang berkontradiksi, tidaklah mungkin keduanya benar. Namun mungkin saja keduanya salah.

Bagaimana dengan “agama”?

Setiap agama yang ada, mengajarkan hal-hal yang saling bertentangan satu sama lain, contoh:

a. Kristen dan Islam tidak percaya reinkarnasi, tetapi bagi Hindu dan Buddha, reinkarnasi adalah doktrin yang tidak dapat diganggu gugat.

b. Kristen menyatakan bahwa keselamatan adalah anugerah semata, tidak ada perbuatan kita yang perlu dilakukan. Bagaimana dengan agama lain yang rata-rata mengajarkan bahwa perbuatan baik adalah salah satu syarat untuk mendapatkan keselamatan?

Jadi kita lihat, agama-agama yang ada, semuanya saling berkontradiksi. Dan seperti yang kita telah bahas di awal, 2 (atau lebih) hal yang berkontradiksi, tidak mungkin semuanya benar.

Jadi dapat kita simpulkan bahwa TIDAK MUNGKIN SEMUA AGAMA BENAR. Mungkin saja semua agama salah, tetapi MEMUNGKINKAN ADA 1 YANG BENAR.

B. Secara Firman Tuhan.

a. Kisah Para Rasul 4:11-12. “Sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

b. Markus 16:16. “Siapa yang percaya dan dibaptis, akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum”

c. Yohanes 14:6. “I AM THE way, THE truth, and THE life. No man come to the Father, but by Me.”
Perhatikan bahwa terjemahan Inggris menggunakan kata “THE” yang menyatakan hal yang sangat spesifik. Dalam hal ini, Yesus menyatakan bahwa Ia adalah SATU-SATUNYA JALAN, KEBENARAN, DAN HIDUP.

Jadi, kami mengklaim bahwa KRISTUS ADALAH SATU-SATUNYA JALAN KESELAMATAN, tidak ada cara lain atau jalan lain.

2. Relevansi Matius 28:19.

Kami percaya bahwa ayat ini (dan juga seluruh isi Alkitab) tetaplah relevan dengan kehidupan kita saat ini, karena Alkitab adalah Firman Tuhan.

Jadi, panggilan untuk memberitakan Injil HARUSLAH TETAP DILAKSANAKAN. Dan kita tetap harus dengan sepenuh hati mengabarkan Injil. Hal ini tidaklah bisa ditawar-tawar.

Namun, saya juga hendak meluruskan sebuah kekeliruan pandangan.

“…semangat berkobar-kobar “mempertobatkan” orang-orang”

Pertobatan bukanlah usaha manusia, melainkan karya Roh Kudus semata. Kita tidak dapat mempertobatkan orang, yang dapat kita perbuat adalah mengabarkan berita Injil.

Kembali lagi ke topik pekabaran Injil, harus kita akui bahwa tempat kita berdiam bukanlah tempat yang ramah bagi pemberitaan Injil.

Akan tetapi kita tetap dapat memberitakan Injil dengan perbuatan kita.

Matius 5:16 mencatat:
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Artinya, kita dapat memberitakan Injil dengan perbuatan kita. Maka dari itulah orang-orang Kristen dituntut untuk menjadi berbeda dengan orang-orang dunia.

Biarlah kita tetap memberitakan Injil Kristus melalui perbuatan dan tutur kata kita.

3. Pluralitas dan Toleransi

Dengan banyaknya agama dan kepercayaan di Indonesia, kita mungkin bertanya-tanya bagaimana sikap kita seharusnya terhadap rekan-rekan kita yang berbeda kepercayaan.

Indonesia sebenarnya memiliki sebuah semboyan yang sangat baik, yaitu Bhinneka Tunggal Ika.

Makna paling mendasar dari semboyan ini adalah bahwa setiap perbedaan yang ada di antara kita, tidaklah harus memisahkan kita. Sebaliknya, perbedaan-perbedaan tersebut haruslah ditoleransi.

Jadi, perbedaan kepercayaan seharusnya tidaklah memecah belah kita.

Sebagai orang Kristen, memang kita percaya bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan dan kita ditugaskan untuk memberitakan Injil. Tetapi, hal ini bukan berarti kita tidak perlu menghargai dan menghormati orang lain.

Sebaliknya, kita harus mengasihi mereka. Hormatilah kepercayaan mereka. Tetapi kita juga tidak boleh mengkompromikan kepercayaan kita demi menyenangkan mereka.

Akhir kata, pekabaran Injil dan toleransi sebenarnya sangatlah erat hubungannya. Rata-rata orang yang akhirnya mau menerima Kristus karena mereka dapat melihat kasih yang nyata dari dalam diri orang-orang Kristen. Kasih yang berasal dari Sang Kasih itu sendiri.

[CKM]:

Bagaimana para Calvinis memahami relevansi Matius 28:19 untuk umat Kristen saat ini?

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”

Apakah untuk zaman sekarang, seorang Kristen harus dengan semangat berkobar-kobar “mempertobatkan” orang-orang nonKristen? Kalau saya berhasil membaptis seorang muslim, saya akan ditimpuki batu, Bung!

Ya. ‘Jadikanlah semua bangsa muridKu’ adalah satu-satunya kata perintah dalam bagian ini. Sedangkan kata-kata ‘pergilah’, ‘baptislah’, dan ‘ajarlah’ merupakan participles. Ini menunjukkan bahwa penekanan utama dari bagian ini adalah ‘menjadikan murid Yesus’. Sedangkan ‘pergi’, ‘membaptis’ dan ‘mengajar’ adalah hal-hal yang harus dilakukan untuk bisa menjadikan murid. Ini juga secara implicit menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan ke surga, karena kalau tidak mengapa Yesus menyuruh menjadikan semua bangsa muridNya? Kalau memang Yesus bukan satu-satunya jalan keselamatan, untuk apa ada perintah untuk memberitakan Injil / membawa semua orang untuk datang kepada Yesus?

Sesuatu hal lain yang perlu diingat adalah bahwa dalam rasul-rasul melaksanakan perintah ini, mereka memberitakan Injil kepada orang-orang yang sudah beragama sekalipun (agama Yahudi). Dan bagaimanapun mereka diancam untuk tidak memberitakan Injil, mereka tetap memberitakan Injil! (baca Kis 3:11-5:42).

Pandangan yang mengatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga bukanlah fanatisme yang picik, tetapi memang merupakan kebenaran yang nyata sekali di ajarkan dalam Alkitab! Menolak kebenaran ini sama dengan menolak Alkitabi / Firman Tuhan! Mengejek orang kristen yang mempercayai kebenaran ini sama dengan mengejek Firman Tuhan!

Terakhir. Jangan berhenti hanya sampai ayat 19-20a, tapi masih ada 1 ayat lagi, yaitu ayat 20b. Perintah untuk memberitakan Injil dalam ay 19-20a memang berat, tetapi Tuhan berjanji untuk menyertai orang yang mau mentaati perintah itu! Kalau Anda mau untuk memberitakan Injil, Anda harus menyadari bahwa akan ada serangan setan bagi Anda. Tetapi jangan takut, karena Tuhan Yesus beserta dengan Anda!

Kepercayaan tentang Kristus sebagai satu-satunya jalan ke surga bisa ada bersama-sama dengan kasih kepada orang non kristen, dan ini diwujudkan dengan memberitakan Injil kepada orang non kristen itu, supaya ia bisa diselamatkan.

Ataukah pluralitas agama kini sudah diamini para Calvinis sebagai suatu keniscayaan–bahwa Allah memang menghendaki adanya keberagaman agama? Bagaimana para Calvinis menanggapi fenomena ini?

Kami mengakui akan adanya pluralitas agama dalam arti bahwa kami mengakui bahwa di sekeliling kami banyak agama-agama lain. Kemunculan berbagai macam agama bukan karena Allah menghendaki demikian. Timbulnya berbagai macam agama adalah karena manusia mengakui bahwa ada sesuatu di luar dirinya yang lebih besar, lebih berkuasa, dll sehingga dalam diri manusia timbul akan adanya perasaan takjub dan mengakui adanya kekuatan besar di luar sana selain manusia, misalnya ada kekuatan yang bisa mengeluarkan petir, dan lainnya. Itu disebut sensus deititas, yaitu Allah menanam dalam batin manusia bahwa ada ilah yang lebih besar dari dirinya yang menguasai dunia. Dengan potensi ini, maka setiap manusia jika hendak jujur, pasti mengakui bahwa memang Allah ada. Namun pengetahuan ini kabur, siapakah allah itu? Hal ini menjadi kabur oleh sebab dosa. Maka manusia tidak bisa mengetahui allah yg sejati, manusia hanya bisa mereka-reka bahwa allah adalah seperti ini itu. Maka dalam hal inilah Alkitab menyatakan, bahwa Allah yang benar adalah siapa? Allah yang kami kenal dalam Tritunggal adalah Allah sejati yang dinyatakan oleh Alkitab.

Alkitab ditulis dalam konteks pluralistik. Sepanjang Perjanjian Lama Allah Israel mengingatkan agar umatNya berbalik dari berhala dan hanya menyembah Dia saja. Yosua memberi pilihan pada bangsa Israel: : “If serving the LORD seems undesirable to you, then choose for yourselves this day whom you will serve, whether the gods your forefathers served beyond the River, or the gods of the Amorites, in whose land you are living. But as for me and my household, we will serve the LORD” (Josh. 24:15 – NASB). Orang Israel tidak sembarangan memilih: mereka kenal dengan semua pilihan agama itu. Berikutnya, nabi Elia memberi pilihan yang sama kepada bangsa Israel: “How long will you hesitate between two opinions? If the LORD is God, follow Him; but if Baal, follow him”… (1 Kings 18:21 – NASB). Umat Tuhan dalam Perjanjian Lama memerlukan peringatan yang terus menerus akan keunikan Allah karena mereka dikelilingi dewa-dewi asing. Hal yang sama juga berlaku di Perjanjian Baru. Dosa global bukanlah berita baru bagi Kekristenan. Jemaat Kristen pertama hidup di kota-kota kosmopolitan seperti Antiokhia, Korintus, dan Roma, dan di persimpangan pertukaran budaya. Ini berarti mereka dikelilingi ajaran-ajaran lain. Mereka bukan menjadi Kristen karena tidak pernah mendengar yang lainnya.

Sebaliknya, mereka beralih menjadi Kristen dari agama-agama lain. Saat berkata, “Yesuslah satu-satunya jalan,” mereka tahu apa saja jalan lain itu: Yudaisme, agama mistik timur, agama kekaisaran Romawi, dan berbagai sekolah filosofi Yunani. Contoh baik mengenai pertentangan antara Kekristenan dengan ajaran lain terdapat dalam Kisah Para Rasul. Buku ini menceritakan saat Paulus mengunjungi Athena dan berdebat dengan filsuf Epikuros dan Stoa (Kis 17:18 – LAI TB). Para ahli pikir sangat menyukai perdebatan, maka mereka mengundang Paulus ke pertemuan Areopagus, kelompok filosofis yang berkumpul di Bukit Mars memandang kota Athena. Kelompok itulah pusat intelektual dunia Mediteranian. Penulis Kisah Para Rasul mengamati, “Adapun orang-orang Athena dan orang-orang asing yang tinggal di situ tidak mempunyai waktu untuk sesuatu selain untuk mengatakan atau mendengar segala sesuatu yang baru” (ay 21). Paulus telah melihat semua mezbah dan patung penyembahan, maka ia memulai pembicaraannya dengan mengakui betapa religiusnya orang Yunani: “Paulus pergi berdiri di atas Areopagus dan berkata: ‘Hai orang-orang Athena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal’” (ay 22-23a). Paulus kemudian menjelaskan Kekristenan kepada para filsuf. Ia tidak berkata, “Sekarang aku akan menjelaskan seorang dewa lain untuk ditambahkan di kuilmu.” Sebaliknya ia berkata, “Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang” (ay 24-25). Paulus bersikukuh bahwa Allah yang benar dan hidup melebihi semua allah lain. Ia lebih lanjut menjelaskan bahwa membuat patung untuk sesuatu yang ilahi dari emas atau perak atau batu adalah tindakan kebodohan (ay 29-30). Dalam pembelaannya Paulus menyatakan Kekristenan melawan latar belakang pluralisme empiris, seperti yang setelahnya orang Kristen harus terus melakukannya.

Masalah pluralisme agama dibicarakan dalam pemberitaan Kristen karena masalah ini adalah bagian penting dari pemberitaan Injil. Paulus berkata di dalam Kis 14:15, “Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup”. Bertobat berarti menolak pengertian pluralis tentang kehadiran ilahi dalam tiap berhala.

Dari Alkitab, kita bisa belajar atau mencontoh dari Paulus bahwa tetap ada eklsuvisme di dalam iman Kristen. Mereka (Tokoh-tokoh Alkitab) tidak sedikitpun mengurangi keyakinan bahwa hanya di dalam Kristuslah Allah (YHWH) dapat di kenal dengan benar.

Terakhir, menurut Calvinis, apakah para nonKristen yg sepanjang hidupnya menghayati ajaran agama mereka masing-masing tetap tidak memperoleh keselamatan seperti yang dijanjikan Yesus?

Ya. Dalam Kis 4:12 menyatakan bahwa ‘keselamatan itu ada di dalam Yesus’, dan 1 Yoh 5:11-12 menyatakan bahwa ‘hidup yang kekal itu ada di dalam Yesus’. Bayangkan Yesus sebagai sebuah kotak yang di dalamnya berisikan keselamatan / hidup kekal. Kalau seseorang menerima kotaknya (Yesus), maka ia menerima isinya (keselamatan / hidup yang kekal), dan sebaliknya kalau ia menolak kotaknya (Yesus), otomatis ia juga menolak isinya (keselamatan / hidup yang kekal). Perhatikan juga kata-kata ‘di bawah kolong langit ini’ dalam Kis 4:12, dan kata-kata ‘barangsiapa tidak memiliki Anak’ dalam 1 Yoh 5:12 itu. Ini menunjukkan bahwa tidak mungkin kata-kata ini ditujukan hanya untuk orang kristen. Ayat-ayat tersebut di atas ini berlaku untuk seluruh dunia!

Orang tidak bisa menyembah / mentaati / melayani Allah, tetapi pada saat yang sama menolak Yesus. Menolak Yesus berarti menolak Allah, dan tidak percaya kepada Yesus berarti tidak percaya kepada Allah. Melihat pada semua ini bisakah orang yang tidak percaya kepada Yesus masuk surga? Semua manusia membutuhkan Penebus, karena semua manusia berdosa, dan dosa tidak bisa ditebus dengan perbuatan baik / ketaatan.

  • Ef 2:8,9 Gal 2:16 Ro 3:24,27-28 menunjukkan bahwa kita selamat / dibenarkan hanya karena iman.
  • Gal 3:2,14 menunjukkan bahwa kita menerima Roh Kudus karena iman.
  • Kis 15:1-21 menunjukkan bahwa kita bisa selamat karena iman saja, bukan karena ketaatan pada hukum-hukum Musa.
  • Dalam Yoh 19:30 Yesus berkata ‘sudah selesai’. Ini menunjukkan bahwa keselamatan kita sudah Ia selesaikan, sehingga kita tak perlu berusaha apa-apa lagi! Kita hanya menerima keselamatan itu dengan iman!

Jadi, Alkitab dengan jelas sekali mengajarkan bahwa kita selamat hanya karena iman kepada Yesus Kristus. Perbuatan baik hanya merupakan bukti iman, dan kalau perbuatan baik itu tidak ada maka iman itu sebetulnya mati / tidak ada (Yak 2:17,26), tetapi bagaimanapun juga, perbuatan baik itu sama sekali tidak punya andil dalam keselamatan kita. Maka jika kami mengatakan bahwa orang yang tidak per­caya kepada Yesus pasti masuk neraka, maka kami bukan menghakimi, tetapi percaya pada kebenaran Alkitab!