Mengapa Allah mengijinkan penderitaan kepada manusia? Apakah tujuannya? Ayub dapat melewati penderitaannya karena Iman dan ketaatannya kepada Allah, namun saya bukan Ayub, mungkin saja saya terlarut dalam penderitaan sehingga jatuh kedalam dosa. Dan jika berdosa, artinya salah satu akibat penderitaan adalah dosa, dan ujungnya dosa adalah maut. Dan andaikan kita bisa melewati penderitaan tersebut (saya yakin juga bahwa Allah sudah tahu saya bisa melewatinya) dan Allah sudah mengetahuinya, kenapa harus diberikan penderitaan?

NN

[JAWAB]:

[MC]:

Selama masih hidup di dalam dunia ini, manusia memang tidak akan pernah bisa lepas dari yang namanya penderitaan. Manusia selalu mencoba mencari alasan mengapa penderitaan mereka terjadi. Ada yang mengatakan bahwa semua penderitaan adalah akibat karma, ada yang mengatakan bahwa semuanya hanyalah kehendak yang Maha Kuasa, dll.

Dalam Kekristenan, kitab Ayub sering kali disalah tafsirkan sebagai kitab yang menjelaskan tentang penderitaan. Padahal, kalau kita teliti lebih jauh, kitab Ayub SAMA SEKALI TIDAK MEMBAHAS TENTANG PENDERITAAN, apalagi mengenai alasan manusia menderita.

Saat Ayub mengalami ujian, Ayub terus menerus mempertanyakan alasan di balik penderitaannya. Rekan-rekannya berkeras kalau Ayub telah berbuat dosa terhadap Tuhan, sehingga ia mendapat hukuman berupa penderitaan. Pernyataan mereka ini sejalan dengan cara pandang umat Israel yang memiliki paham “KALAU KITA BERBUAT BAIK (TAAT KEPADA TUHAN), MAKA KITA AKAN DIBERKATI. SEBALIKNYA BILA KITA BERDOSA, KITA AKAN MEMPEROLEH KUTUK (PENDERITAAN)”.

Akan tetapi Ayub berkeras bahwa ia tidak melakukan dosa apapun sehingga ia layak dihukum sedemikian rupa. Ayub menyatakan bahwa cara pandang “baik = berkat, jahat = kutuk” tidaklah valid. Maka Ayub terus mempertanyakan kepada Tuhan mengapa ia menderita.

Sebagai pembaca, kita mengetahui bahwa di awal kitab terjadi sebuah “taruhan” antara Tuhan dan Iblis, dan “taruhan” inilah yang mengakibatkan segala penderitaan Ayub.

Akan tetapi coba perhatikan, Tuhan terus berdiam diri dan tidak menjawab pertanyaan Ayub. Dan ketika Tuhan berbicara, apa yang Ia katakan? Apakah seperti ini, “Yub, kamu itu menderita untuk membuktikan bahwa si Iblis ngaco. Jangan sedih, ya.”

Tidak! Malah sebaliknya, Tuhan memberikan sebuah daftar pertanyaan yang tidak dapat Ayub jawab sama sekali. Dan pada akhirnya Ayub hanya bisa memohon ampun dan mengaku kalau Tuhan adalah Raja Semesta. Bahkan Ayub pun tidak lagi mempertanyakan alasan penderitaannya kepada Tuhan.

Mengapa kita menderita? Mungkin kita tidak akan pernah tahu. Yang pasti, penderitaan adalah akibat langsung dari kejatuhan manusia ke dalam dosa. Yang paling penting adalah bagaimana kita menghadapi penderitaan tersebut.

Saat kita mengalami penderitaan, apa yang kita lakukan? Seperti yang Ayub lakukan, kita harus terus menaruh iman kita kepada Tuhan dan percaya bahwa Ia adalah Allah yang Kasih, Adil, dan Maha Tahu.

Karena Ia adalah Kasih dan Adil, Ia tidak akan membiarkan kita menderita terus menerus. Dan karena Ia adalah Maha Tahu, maka Ia tahu bahwa apa yang kita alami, sepahit apapun itu, akan menjadi kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia. Ia juga tahu bahwa kita pasti mampu melalui semua itu, bukan karena kita mampu, tapi karena Ia pasti menyertai kita sampai pada kesudahannya.

Maka, saat penderitaan meningkat, biarlah kita belajar untuk semakin percaya dan taat kepada Dia yang telah memberikan nyawaNya bagi kita.

[DSB]:

Melengkapi jawaban dari Sdr MC, perlu diketahui bahwa Tuhan kita tidaklah pernah menciptakan kejahatan. Ia juga tidak pernah menciptakan penderitaan. Ingat pada kisah Penciptaan yang diceritakan di kitab Kejadian. Di sana dicatat berulang kali Allah mengatakan bahwa semua ciptaan-Nya itu baik adanya (Kej 1:10, 18, 21, 25 dan 31).

PENDERITAAN dan KEJAHATAN BUKANLAH CIPTAAN TUHAN, melainkan AKIBAT dari PILIHAN MANUSIA. Manusia memilih meninggalkan Tuhan dan menjadi “allah” bagi dirinya sendiri, dan itu terjadi bukan hanya pada Adam dan Hawa, melainkan sudah menjadi dosa turunan yang menjangkiti seluruh umat manusia. Demikianlah seluruh manusia sudah berdosa dan sudah selayaknyalah mengalami penderitaan akibat dosanya itu.

Maka yang seharusnya menjadi fokus kita bukanlah bagaimana melenyapkan penderitaan, melainkan bagaimana mengatasi penyebab penderitaan itu; yaitu DOSA.