Matius 5:27-28. Pria seringkali/kadang-kadang menghayalkan hal yang “menyimpang”, dan seringkali terjadi pada orang yang sudah lahir baru (padahal tidak diinginkan dan terlintas dengan cepat saja, tidak sengaja terpikir). Bagaimanakah kaum pria menanggapi dan mengatasi hal tersebut? Sampai batas mana bisa disebut “menyimpang” ?

NN

[JAWAB]:

[CKM]:

Dari Matius 5:27-28, kita mendapatkan teguran/peringatan bahwa perzinahan/percabulan tidak hanya bisa terjadi secara fisik, tetapi juga dalam hati/pikiran kita. Kata-kata ‘setiap orang yang memandang’ dalam bahasa Yunaninya menggunakan bentuk masculine / laki-laki. Mengapa ditekankan pada laki-laki?  Karena pada umumnya orang perempuan baru terangsang melalui sentuhan, sedangkan orang laki-laki sudah terangsang melalui penglihatan.

Bagaimanakah kaum pria menanggapi dan mengatasi hal tersebut?
Sebetulnya jawabannya ada pada ayat 29. Namun ayat ini jangan/tidak boleh ditafsirkan secara hurufiah. John Stott memberikan penafsiran tentang ay 29-30 ini sebagai berikut: John Stott menjelaskan bahwa,”Kalau matamu menyebabkan engkau berdosa karena ada pencobaan datang kepadamu melalui matamu, maka ‘cungkillah matamu’. Artinya: jangan melihatnya. Berlakulah seakan-akan engkau betul-betul telah mencungkil matamu dan membuangnya, dan sekarang engkau buta dan tidak bisa melihat hal itu. Demikian juga kalau pencobaan datang melalui tangan atau kaki. Penggallah tangan/kakimu. Artinya: Jangan lakukan hal itu/jangan pergi ke sana. Berlakulah seakan-akan engkau betul-betul telah memenggal tangan/kakimu, sehingga engkau tidak bisa melakukan hal itu pergi ke sana.”  Perhatikan juga komentar dari John Calvin,”Engkau harus memilih untuk berpisah dengan matamu dari pada berpisah dari perintah-perintah Allah’. Tetapi Kristus tidak memaksudkan bahwa kita harus membuntungi tubuh kita, supaya bisa mentaati Allah: … Kristus menggunakan ungkapan yang melebih-lebihkan untuk menunjukkan bahwa apapun yang menghalangi kita dari penyerahan dan ketaatan kepada Allah yang Ia kehendaki dalam hukumNya, harus dibuang.”

Sampai batas mana bisa disebut “menyimpang” ?
Jadi  kita harus menjauhi godaan / pencobaan.
Dalam doa Bapa Kami ada kata-kata ‘janganlah membawa kami ke dalam pencobaan’ (Mat 6:13a). Kita sering berdoa seperti itu, tetapi dalam tindakan kita kita justru mencari pencobaan, dengan tidak membatasi mata/telinga kita. Jadi, tindakan kita bertentangan dengan doa kita! (Bdk. Ayub 31:1,7,9-11 )

John Stott mengomentari text Ayub ini dengan berkata: “Kontrol dari hatinya disebabkan oleh kontrol dari matanya.”
John Stott mengatakan bahwa ia tidak mau memberikan peraturan/batasan tentang buku/majalah apa yang boleh atau tidak boleh dibaca oleh orang kristen. Ia berkata bahwa setiap orang berbeda. Ada orang-orang yang sangat mudah terangsang dan ada yang tidak. Jadi batasan untuk setiap orang berbeda. Yang jelas, apa yang menyebabkan berdosa perzinahan dalam hati bagi dia, itu dilarang.

[MC]:

Dosa sexual memang adalah sebuah dosa yang sangat “menarik”. Kalau diibaratkan barang dagangan, mungkin kita bisa menyatakan bahwa dosa sexual adalah “barang dengan kemasan paling menarik”.

Sex sebenarnya adalah ciptaan Tuhan yang baik. Sex sebenarnya adalah model dari relasi Tuhan dengan manusia, yaitu sebuah relasi yang sangat intim di mana kedua belah pihak tidak lagi memiliki suatu hal pun yang tertutup. Sama seperti seorang suami seharusnya hanya memiliki satu istri, demikian pula kita seharusnya hanya memiliki satu Tuhan.

Sayang sekali seiring dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa, sex pun akhirnya mengalami penyimpangan-penyimpangan. Mulai dari perilaku sexual yang menyimpang sampai kepada poligami. Sedemikian dalamnya kerusakan sex ini sampai-sampai ada peneliti yang menyatakan bahwa seorang pria rata-rata berpikir tentang sex setiap 52 detik!

Matius 5:27-28 adalah sebuah bagian ayat yang sangat keras, bunyinya:
“Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.”

Mungkin perlu sedikit diperjelas pengertian kata “menginginkannya” di ayat 28, karena kata tersebut dapat memiliki banyak penafsiran. Terjemahan NIV mungkin dapat membantu dalam memahami ayat tersebut, “… anyone who LOOKS AT A WOMAN LUSTFULLY …” (… seseorang melihat seorang wanita dengan nafsu berahi …).

Ayat ini adalah ayat yang sangat keras, karena ayat ini menyatakan dosa bukan lagi sebagai hasil sebuah tindakan / perbuatan semata-mata, tetapi juga dosa dapat berupa sebuah pikiran.

Karena itulah Kekristenan memandang pornografi sebagai dosa, karena mustahil kita melihat materi pornografi tanpa pikiran kita melayang ke arah yang tidak benar.

Jadi, apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi “perzinahan mental”?

Sama dengan dosa-dosa lain, caranya hanya satu. Terimalah Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Manusia yang telah berdosa mustahil dapat melepaskan dirinya dari belenggu dosa apabila tidak ada kekuatan di luar dirinya yang membebaskan. Hanya Kristuslah yang sanggup melepaskan kita dari segala dosa-dosa kita.

Setelah itu, bersandarlah kepada anugerah dan pengampunan kasih Kristus. Perjalanan untuk lepas dari dosa tidaklah mudah, tetapi penyertaan dan bimbingan Roh Kudus akan memampukan kita untuk terus maju.

Selain itu, larilah. Hal terbaik yang dapat kita lakukan dalam menghadapi dosa sexual mungkin adalah dengan melarikan diri jauh-jauh dari hal-hal yang mungkin menarik kita jatuh.

[DSB]:

Melihat seorang wanita cantik bukanlah suatu dosa. Kita tidak dapat menghindari bertemu dengan lawan jenis yang menarik. Tapi melihat seorang wanita dengan nafsu itu sudah dapat dikategorikan sebagai dosa. Istilah lain yang memiliki makna yang sama adalah menelanjangi wanita tersebut dengan mata kita. Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa saat pertama melihat wanita yang menarik itu tidak dosa, namun usaha untuk melihat yang kedua dan seterusnya, itulah yang dapat menjadi dosa. Mengapa demikian? karena saat pertama kali melihat, biasanya itu terjadi karena reflek manusia yang akan melihat sesuatu yang dianggapnya menarik. Biasanya manusia tidak dapat memilih untuk melihat/tidak melihat pada pandangan pertama kali ini. Namun manusia dapat memilih apakah dia akan melihat lagi dan apakah ia akan meneruskan melihat dan mulai menelanjangi wanita tersebut dengan matanya.

Maka suatu saran praktis yang dapat diikuti adalah, segera setelah pandangan reflek pertama yang melirik seorang wanita, arahkan pandangan ke tempat lain sebelum pandangan itu berubah menjadi dosa.

Mengenai sebagaimana baru dapat dikatakan menyimpang, kekristenan mempunyai standar yang berbeda dengan dunia. Bagi dunia, melihat dan membayangkan yang bukan-bukan tidak pernah dianggap sebagai tindakan yang menyimpang karena itu adalah hal yang biasa terjadi. Lagipula itu tidak menyakiti orang lain. Tapi menurut standar kekristenan sangat jelas, yaitu kita dilarang melihat seseorang dengan nafsu.