Saya seorang wanita saat ini berusia 19 tahun. Saya dulunya bukan seorang percaya. Dan saat itu saya sedang menjalin hubungan pacaran dengan seorang yang nonkristen juga. Beberapa lama kemudian, saya terpanggil oleh injil yg diberitakan oleh kakak saya yg sudah menjadi Kristen (dan skg menjadi penginjil). Dari segala hal yang boleh terjadi(trmasuk pertentangan dari saya thd Kristen saat itu), kesaksian dan pemberitaan injil yg saya dengar dari kakak, hamba-hamba Tuhan dan Alkitab, membuat saya pun menyadari, mengerti dan bertobat untuk berkomitmen percaya pada Yesus Kristus saja sbg juruslamat satu-satunya. Mulai dari itu saya bersungguh-sungguh untuk mengikut Tuhan dan mencari apa yang menjadi kehendak-Nya di hidup saya, setiap hari membaca Alkitab, mlakukan ibadah dan mendengarkan khotbah (tentunya dari hamba-hamba Tuhan yg mengajarkan fiman Tuhan scr benar, spt Pak Stephen Tong). Dari itu muncul suatu problema, saya baru menyadari bahwa ternyata sebagai seorang Kristen, pasangan kita seharusnya jugalah seorang Kristen. Saat itu benar-benar suatu dilema apakah saya harus memutuskan dia atau tidak, padahal kami saling mencintai. Saat itu saya berdoa dan minta pimpinan Tuhan, coba mencari-cari penjelasan tentang hal ini dari sudut pandang Kekristenan. Namun tdk terlalu menjwab. Akhirnya saya putuskan untuk berusaha mengabarkan injil padanya.

Awalnya dia mnunjukkan ketertarikan yg ckup besar, tapi bagi saya tetap ada keragu-raguan untuk menanyakan apakah dia mau menjadikan Yesus Kristus sbg juruslamatnya. Keraguan ini muncul karna dia adlah seorg penganut Budha yg rajin beribadah dan mndengar ajran Budha, semua keluarganya Budha dan sering berkumpul dengan teman2 viharanya, jd dari kecil ia dididik dgn ajran Budha. Tapi bukan ini yang terutama menjadi keraguan saya, ada dua dilema  besar yaitu jikalau pun dia menjadi Kristen, apakah motivasinya benar?dan juga apakah motivasiku benar menjadikannya Kristen. Kedua keselamatan bukan usaha manusia, apakah dia diselamatkan/tidak semua ditangan Tuhan.
Meski begitu akhirnya pada satu waktu, saya memberanikan diri untuk menginjili dia secara penuh dan menanyakan komitmennya untuk percaya dan menerima Yesus (namun hanya melalui telepon karena saat itu kmi mulai pacrn jarak jauh karena kuliah yg berlainan daerah). Namun, seperti yang ku khawatirkan dia tidak bisa meninggalkan agama lamanya dan dia takut menyakiti orang tuanya. Akhirnya dengan berat hati saya memutuskannya. Sungguh saat itu suatu hal yang sulit bagi kami, sulit baginya untuk menerima alasan itu. Tapi akhirnya dia mau menerima meskipun dengan berat hati. Akhirnya kami mulai menjalani hubungan sbg sahabat saja. Meski sbg sahabat saya mempunyai kerinduan yg besar sekali untuk boleh membawanya pada keselamatan. Sudah lbh dr setgh tahun ini kmi bersahabat dekat dan seringkali dia memintaku utk balik kyk dulu lg. Seringkali aku luluh, tp sblm mmutuskan aku kmbali minta waktu dan berdoa serta meminta saran dari seorang teman seimanku. Dan saya tetap mengambil kputusan kami
tetap bersahabat saja. Jujur sampai saat ini saya masih mencintainya. Baru-baru ini dia kembali memohon. Yang jadi pertanyaanku, bagaimana saya harus bertindak?

NN

[JAWAB]:

[DSB]:

Hi NN,

Apa yang NN lakukan berkaitan dengan pasangan hidup NN sudah sangat benar, yaitu:

1. Mencoba memberitakan kebenaran Injil Tuhan kepada pasangan Anda

2. Memutuskan hubungan pacaran saat sang pacar tidak bersedia mengambil keputusan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dalam hidupnya

Saya yakin keputusan untuk memutuskan si dia memang bukan merupakan keputusan yang mudah diambil. Tapi ini memang suatu keputusan penting yang benar yang harus diambil demi masa depan dan hubungan NN dengan Tuhan. Tentu hati NN begitu sedih atas keputusan itu, tapi kami sungguh merasa bangga dengan NN yang berani mengambil keputusan yang tegas itu.

NN, putusnya hubungan pacaran memang akan mengakibatkan banyak hal yang berubah dalam hidup kalian berdua.  Yang biasanya bisa pergi berdua sekarang sudah tidak bisa lagi. Yang biasanya malam minggu berdua, sekarang mungkin sendirian. Yang biasanya punya teman untuk berbagi perasaan, sekarang sudah tidak bisa lagi melakukannya dengan si dia. Itu merupakan akibat yang memang harus diterima oleh kedua belah pihak yang memutuskan hubungan. Dalam banyak kasus pemutusan hubungan pacaran yang bukan disebabkan karena salah satu pihak kehilangan cintanya, kondisi seperti NN sering terjadi. Kedua pihak masih saling berkomunikasi dan saling berhubungan dengan baik, seringkali dilindungi dengan atribut seperti “sahabat”. Banyak kasus seperti ini berakhir dengan kembalinya hubungan pacaran atau disahkannya status TTM (teman tapi mesra).

NN, memutuskan hubungan cinta bukanlah hanya menghilangkan status hubungan antara NN dengan si doi saja, tapi juga mencabut hak-hak keduanya sebagai pacar. Komunikasi dan perhatian antara NN dengan si dia sudah tidak boleh lagi sama seperti waktu kalian masih berpacaran. Memang hal ini pasti akan menyakitkan, tapi ini perlu dilakukan untuk recovery dari kedua belah pihak. Memang putus hubungan pacaran bukan berarti lantas menjadi musuh, namun diperlukan suatu waktu bagi NN dan dia untuk saling menjaga jarak dulu, sampai kalian berdua bisa menetralkan perasaan cinta kalian, baru kalian berdua bisa benar-benar menjadi teman. Dengan demikian barulah hubungan kalian berdua bisa menjadi sehat. Tanpa melalui fase saling menjaga jarak, recovery NN dan juga dia akan semakin lama. Dan worst case-nya ini akan menyulitkan NN menerima pria lain.

Jadi sebagai kesimpulannya, apabila NN tetap pada keputusan NN sekarang, segeralah mengambil jarak dan coba untuk menggunakan waktu lebih banyak untuk bergaul dengan orang lain. Ambillah kegiatan-kegiatan yang mengisi waktu luang NN. Atau bisa juga NN mencoba melakukan pelayanan yang baru. Ini akan membantu NN melupakan dia dan akan membantu NN lebih dekat dengan Tuhan. Pada waktunya tentunya Tuhan akan membuka jalan buat NN bagi pria yang takut akan Tuhan yang mencintai NN. Ingat, “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai”. (Mazmur 126:5)