Salam Kenal..
Saya baru hari ini membuka web ini karena ada postingan tentang artikel di web ini..Ternyata cukup memberkati buat saya..

Perkenalkan saya adalah seorang perempuan berusia 22 tahun. Kini saya sudah bekerja setelah menyelesaikan S1 saya. Kini saya sedang berhubungan dengan seorang pria Kristen yang aktif melayani di gereja, sudah lahir baru dan takut akan Tuhan. Menilik usianya yang sudah 30 tahun, dy sudah berpikiran serius untuk hubungan
kami.
Namun saya sendiri masih terbayang-bayang dengan mantan yang seusia dengan saya, namun berbeda agama (Mantan beragama Katolik). Setelah membaca beberapa artikel mengenai perbedaan agama tersebut, saya ingin memastikan beberapa hal.


Mantan masih berharap saya untuk kembali. Di 1 sisi, kami putus karena dia tipikal pria yang keras. Walaupun tidak sampai “ringan tangan”, namun kadang suka membentak. Juga dengan latar belakang keluarganya yang juga Katolik yang cukup kuat, mungkinkah dia bisa berubah menjadi Kristen (karena saya pernah bilang kalau saya hanya mau dengan pasangan yang seagama)? Namun saya sayang sama dia. Baru dia laki-laki yang bisa membuat saya tidak bosan dalam berhubungan dekat dengan pria (saya tipikal wanita yang cukup cepat merasa bosan dengan hubungan yang monoton)

Sedangkan pacar saya sekarang cenderung orang yang monoton.Sehingga kadang suka timbul perasaan membandingkan dengan mantan saya itu. Saya sudah putus dengan mantan selama stahun. Namun sampai sekarang mantan masih mengharap saya kembali walaupun tahu saya sudah punya pacar. Namun masalah agama dan keraguan ttg sifatnya yang saya khawatirkan tidak bisa berubah membuat saya ragu.
Sedangkan pacar saya tipikal orang yang dewasa, mengingat usianya juga. Namun secara ekonomi, mantan saya berlatar belakang dari keluarga yang berkecukupan sekali, sehingga kemungkinan besok saya akan hidup berkecukupan. Namun saya khawatir mantan tidak rajin bekerja karena sudah sedikit terlihat gelagatnya selama berpacaran dulu. Sedangkan pacar saya sekarang berlatar belakang dari ekonomi kurang. Namun dia rajin bekerja mesti hanya sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta.

Saya berpikir, apakah saya bisa hidup layak bersama dia mengingat pekerjaannya hanya seperti itu dan kurang memiliki sifat ambisius. Sedangkan orang tua saya juga berpesan bahwa ketika dia melepaskan saya untuk menikah, maka mereka ingin hidup saya di tangan pria itu harus lebih baik daripada bersama orang tua saya. Saya sendiri dibesarkan di keluarga yang berkecukupan walaupun tidak luar biasa kaya.

Mungkin ini dulu saja. Terimakasih sebelumnya.

Abbie

[JAWAB]:

[DSB]:

Dear Abbie,

Memilih pasangan hidup memang bukanlah suatu hal yang mudah. Sama seperti yang Abbie hadapi saat ini di mana seakan-akan ada 2 pilihan antara pacar yang sekarang yang kelihatannya lebih benar namun kurang menyenangkan, atau mantan Abbie yang lebih menyenangkan bagi Abbie, namun meragukan. Tentunya pilihan akan jauh lebih mudah apabila Abbie mendapatkan pacar yang lebih baik, lebih benar, takut akan Tuhan dan juga hidupnya berkecukupan serta berkepribadian menarik. Sayangnya pilihan semacam itu tidaklah tersedia saat ini.

Kalau dari cerita Abbie, Abbie sudah dapat memilah mengenai hal yang terpenting dalam memilih pasangan hidup, yaitu: sudah lahir baru dan giat melayani Tuhan. Hanya nampaknya bayang-bayang sang mantan masih terus muncul  sekalipun dia mempunyai perangai yang kurang baik (kurang rajin, pemarah). Nah, dalam hal ini mungkin Abbie perlu mengingat-ingat kembali kisah cinta Abbie dengan pacar Abbie yang sekarang ini. Misalnya bagaimana kalian bertemu, dan bagaimana Abbie akhirnya menerima cinta sang pacar. Abbie juga perlu mengingat lagi atau menemukan alasan yang sebenarnya mengapa Abbie mencintai dia.

Abbie, saya percaya Cinta bukanlah sekedar perasaan. Cinta juga adalah suatu pilihan. Kita dapat menyukai lebih dari satu orang karena orang yang memiliki kepribadian yang menarik tidak hanya satu. Tapi cinta kita tentu tetap hanya 1 orang saja. Di kemudian hari, Abbie mungkin akan menemukan adanya orang lain yang punya kepribadian yang jauh lebih menarik dari mantan Abbie. Dan kalau Abbie pada saat itu sudah menikah misalnya, tidaklah mungkin hanya karena perasaan Abbie pindah ke lain hati bukan? Karena itu saat memutuskan memberikan cinta kepada seseorang, tentunya kita harus memilih dengan tepat, dengan pengenalan yang cukup mengenai orang tersebut.

Kalau kita sudah memilih menerima cinta seseorang, maka tanggung jawab kita adalah mencoba menumbuhkan benih cinta tersebut, dan sambil terus menguji ‘bibit, bobot dan bebet’ dari sang kekasih sehingga bisa sampai kepada satu keputusan: entah lanjut ke pelaminan kalau sudah yakin, atau malah putus karena cintanya tidak bertumbuh atau karena hal lain. Kalaupun harus putus, orang ketiga tidaklah boleh menjadi penyebabnya. Karena kalau itu sampai terjadi, akan menimbulkan banyak masalah di kemudian hari.

Mengenai masalah monoton atau tidak dan juga masalah kebutuhan finansial, apabila itu menjadi masalah bagi hubungan kalian berdua saat ini, cobalah untuk membicarakan hal tersebut dengan pasangan Anda. Utarakanlah apa yang menjadi harapan Anda secara spesifik, namun dengarkanlah juga kebutuhan-kebutuhan dari pacar Anda. Kemudian bawalah kepada Tuhan pergumulan-pergumulan kalian ini bersama-sama. Berikanlah waktu bagi Tuhan dan kalian berdua untuk melihat bagaimana dengan pergumulan-pergumulan ini cinta kalian dapat bertumbuh.

Last but not least, kami harus terus mengingatkan bahwa memilih orang yang sudah serius lahir baru adalah harga mati yang tidak mungkin ditawar lagi bagi kita orang Kristen. Dan kami selalu meragukan orang yang mau jadi Kristen hanya karena kekasihnya ke gereja. Bagi kami keKristenan adalah penyerahan diri total tanpa syarat kepada Kristus. Jadi sekalipun misalnya akhirnya karena satu dan lain hal putus dengan sang kekasih, imannya kepada Kristus seharusnya tidaklah berubah.

Semoga cukup menolong Abbie dalam menentukan pilihan. GBU