Saya mengerti bahwa Tuhan tidak menciptakan kejahatan, tapi karena itu adalah pilihan manusia dalam kehendak bebas yg diberikan.Namun pertanyaan saya adalah kenapa ada anak kecil yang dibawah umur bisa menjadi korban pemerkosaan, pelecehan seksual atau pelacuran di bawah umur, padahal anak kecil itu belum bisa memilih dengan benar?
Apa yang terjadi dengan Tuhan saat anak kecil itu sedang diperlakukan dengan tidak wajar oleh para hidung belang tersebut?

Saya seorang kristen, saya tau Tuhan ada, namun dengan pertanyaan ini saya hanya ingin memastikan jawaban dari asksophia.wordpress.com trima kasih dan Tuhan memberkati.

Stiven

[JAWAB]:

[MC]:

Dear Stiven,

Memang pertanyaan seputar kejahatan dan penderitaan memiliki banyak sisi yang kadang membingungkan.

Asal mula dari segala kejahatan dan penderitaan adalah pilihan manusia untuk tidak menuruti kehendak Allah. Saat Adam memilih untuk memakan buah yang Tuhan larang untuk ia makan, maka ia telah memberontak kepada Tuhan.

Kejatuhan Adam ke dalam dosa tidak hanya mempengaruhi Adam seorang, tetapi alam semesta juga menjadi jatuh ke dalam keadaan berdosa, kejatuhan ini juga mempengaruhi keturunan-keturunan Adam selanjutnya.

Untuk lebih jelasnya mengenai topik ini, silakan baca artikel kami mengenai dosa asal.

Kembali kepada pertanyaan Stiven, kalau begitu mengapa anak kecil seringkali menjadi korban, padahal mereka belum mengetahui benar dan salah.

Sayang sekali asumsi bahwa seseorang tidak bersalah (berdosa) bila ia tidak tahu bahwa apa yang ia lakukan adalah salah, tidaklah sesuai dengan Firman Tuhan.

Perbuatan dosa tidaklah terpengaruh oleh pengetahuan kita akan apa yang benar dan apa yang salah. Selama kita melakukan sesuatu yang Tuhan tidak kehendaki, maka kita telah berdosa. Tidak menjadi masalah apakah kita tahu atau tidak perbuatan kita itu salah.

Saat Daud mengambil Batsyeba sebagai istri, ia melakukan sebuah dosa yang sangat besar, bahkan bukan hanya satu dosa yang ia lakukan, melainkan beberapa dosa (minimal ia telah berzinah dan membunuh).

Daud tidak sadar bahwa ia berdosa sampai saat nabi Natan menegurnya.

Saat Yesus disalib, ingat bahwa Ia berdoa “Ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”? Artinya jelas bahwa mereka yang menyalibkan dia tidak menyadari bahwa apa yang mereka perbuat adalah salah. Tetapi apakah artinya mereka tidak bersalah? Sayang sekali tidak, mereka bersalah walaupun mereka tidak sadar bahwa mereka bersalah, maka dari itulah Yesus meminta pengampunan bagi mereka.

Kitab Roma juga mencatat bahwa “semua orang telah berbuat dosa” (Roma 3:23). Selain itu, Roma 2:12-15 mencatat bahwa bila seseorang yang belum pernah mendengar hukum Taurat melanggar hukum Taurat, maka ia tetap berdosa. Selain itu, di ayat 15 telah ditegaskan bahwa Taurat Tuhan tertulis dalam hati manusia. (bandingkan

Jadi, perlu kita tegaskan bahwa KETIDAK TAHUAN kita tidak menyebabkan kita TIDAK BERSALAH (ignorance doesn’t mean innocence).

Jadi seorang anak kecil, sekalipun ia belum mengerti, bukanlah tidak bersalah bila ia berdosa.

Namun, seandainya, seorang bayi baru saja lahir dan belum berbuat apa-apa (misalnya kasus aborsi di mana sang bayi bahkan belum lahir), bagaimanakah kita menjelaskannya?

Penderitaan (dan juga maut / kematian) sebenarnya telah menjadi “tanggungan” semua orang ketika Adam berdosa. Roma 5:12 menyatakan “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.”

Firman Tuhan tidak mengajarkan akan adanya karma. Seringkali penderitaan yang dialami oleh seseorang, bukanlah karena akibat langsung dari dosa yang ia lakukan. Mungkin saja penderitaan yang ia alami adalah karena rencana Tuhan (bandingkan Yohanes 9:1-3).

Hal ini juga terjadi pada kasus Ayub. Ayub berkeras bahwa ia tidak berbuat apapun yang menyebabkan ia layak dihukum. Selain itu, memungkinkan juga penderitaan yang terjadi adalah akibat tidak langsung dari dosa orang lain.

Dalam kasus kita, penderitaan anak-anak tersebut bukanlah karena kejahatan mereka sendiri, melainkan karena kejahatan pelakunya. Sayang sekali memang akhirnya yang menjadi korban adalah anak-anak yang belum mengerti apa-apa.

Pada akhirnya, semua penderitaan adalah akibat baik langsung maupun tidak langsung dari setiap dosa yang pernah dilakukan oleh manusia.

[DSB]:

Di mana Tuhan saat kejahatan terjadi pada anak-anak itu?

Yang pasti Tuhan hadir di sana. Kalau kita bisa merasa sedih, meringis, sakit dan sekaligus marah kepada si penjahat yang melecehkan anak-anak tersebut, apalagi Tuhan kita. Dialah yang menciptakan mereka. Tuhanlah yang menenun mereka bahkan sejak dari kandungan (Maz 139:13). Tuhan tidak pernah melihat seorang manusia sebagai hanya salah satu orang dari milyaran orang yang Dia ciptakan. Kata menenun dalam Mazmur 139:13 merupakan pemilihan kata yang sangat tepat, karena menenun berarti merencanakan, dan menciptakan setiap individu satu per satu (bukan produksi masal) dengan teliti dan unik. Dia mengenal satu demi satu ciptaan-Nya secara personal. Dia merasa sedih dan hati-Nya sangat sakit jauh melampaui perasaan kita.

Dalam Injil Lukas, Yesus berkata:

bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Lukas 12:7

Artinya Tuhan begitu berkuasa atas segala manusia. Tidak ada hal yang dapat terjadi tanpa ijin daripada Tuhan. Nah, kalau begitu bagaimana mungkin Tuhan mengijinkan hal yang seburuk itu terjadi pada manusia? Jawabannya adalah:

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya55:8-9

dan

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Pikiran kita begitu terbatas, kita hanya mampu melihat seorang anak telah terluka dan akibatnya bagi anak tersebut berdasarkan pengalaman dan teori psikologi atau lainnya. Kita tidak mampu melihat lebih daripada itu. Tapi tidak Allah kita. Allah kita dapat melihat jauh ke depan, Dia mampu melihat efek kejadian tersebut secara mendetail bagi orang-orang yang terlibat bahkan di luar orang-orang tersebut. Dan tak diragukan bahwa Dia memutuskan yang terbaik bagi orang yang percaya kepada-Nya.