Syalom, saya ingin tahu akibat dari pernikahan beda agama utnuk anak-anak dalam efek jangka panjang??

Saya seorang anak yg telah berumur 20 tahun. Orang tua saya menikah beda iman. Ayah saya Islam (dulu sempat katekisasi masuk Kristen tapi balik lagi setelah menikah) dan Ibu Kristen-Protestan. Saya ikut ibu masuk Kristen dan adik saya ikut ayah masuk islam (meskipun iman lebih condong ke Ibu. Akibat ada dari pernikahan itu saya mengalami suasana keluarga yang tidak haromonis selama 18 tahun lebih. Sejak kecil oleh ayah saya saya didik dengan diolo-olok, direndahkan, dan dipermalukan. Tidak pernah ada ucapan motivasi yang keluar. Saya selalu dikatai bodoh, goblok, dan untuk beberapa waktu sempat main tangan untuk setiap kesalahan kecil yang saya lakukan. Saya dan ibu saya dilarang ke gereja dengan alasan ayah saya juga tidak ke sholat masjid ini sehingga saya ke gereja curi-curi waktu klo ayah tidak ada dirumah. Saya sering mendapatkan tekanan mental juga.

Ayah juga tidak mencukupi kebutuhan ekonomi. Semua di back-up oleh ibu, beruntung Ibu saya bekerja dan Mujizat Tuhan secara luar biasa menyertai Ibu sehingga saya n adik bisa kuliah dan sekolah samapi sekarang. Oleh Ibu saya didik keras juga, keras sekali, waktu saya salah dalam melakukan sesuatu juga kadang main tangan, tapi masih lebih obyektif dibandingkan ayah saya. Ibu saya mendidik saya keras supaya saya pintar dan bisa membuktikan ke ayah saya, walaupun saya sudah disia-siakan saya masih bisa sukses. Saya sering merasa saya menjalani hidup ini dengan tidak normal. Saya tumbuh menjadi anak yang introvert, sering berbicara dengan diri sendiri, rendah diri, berpikir negatif oriented. Saya juga sering direndahkan oleh teman-teman saya,.Saya merasa ada yang aneh dengan diri saya sendiri, saya merasa tidak normal. Beberapa anak yang lahir dari keluarga Kristen sepertinya tidak merasakan yang saya alami. Saya jadi begini karena salah pernikahan yang dilakukan Ibu saya. menurut saya pernikahan ibu saya konyol sekali. Bagaimana mungkin Ibu saya tidak mencintai ayah saya tetap menikahinya dengan alasan mungkin ayah saya orang baik dan tidak enak menolak lamaran laki-laki menurut Kakek saya(dalam adat jawa demikian ). Mungkin Tuhan punya rencana atas hidup saya begitu kata Ibu. Menurut saya ucapan paling tidak bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuat!!! Saya sering ketakutan dengan masa depan saya, saya sudah menjalani 20 tahun hidup tidak menyenangkan, tidak memilki masa anak-anak yang cuckup baik. Saya khawatir terbentuk suatu kepribadian yang tidak wajar dalam hidup saya sehingga mempengaruhi diri saya ketika mandiri nanti.
Mohon bantuan / sarannya

Joni (bukan nama sebenarnya)

[JAWAB]:

[DSB]:

Joni, hidup dengan berbagai hinaan dan penderitaan memang sangat menyusahkan hati. Apalagi apabila hinaan dan penderitaan itu justru datang dari keluarga sendiri. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berteduh dan beristirahat baik secara jasmani maupun rohani, malah menjadi tempat yang penuh tekanan, sehingga membuat kita tidak betah berada di rumah. Tentunya bukan hal yang mudah untuk dilalui oleh Joni. Kami dapat merasakan betapa pahitnya dan sakitnya hati Joni melihat kenyataan ayah Joni yang terus-menerus menyakiti Joni dan juga ibu Joni yang sepertinya tidak mengambil keputusan dengan bijaksana sehingga Joni harus menghadapi penderitaan seperti sekarang ini.

Sdr Joni, saat kita mengambil keputusan untuk percaya kepada Kristus dan menyerahkan hidup kita kepada-Nya, Tuhan sudah memutuskan semua ikatan dan kutuk dari dosa. Tuhan juga memperbaharui seluruh hidup kita.

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. (2 Korintus 5:17)

Namun demikian, seringkali sesudah kita bertobat, karakter kita masih belum berubah. Kita masih membawa sifat-sifat dan kepribadian yang lama kita. Beberapa di antaranya merupakan bawaan dari lingkungan keluarga kita. Saat kita berusaha mempertahankan diri dan mental kita dari tekanan dan penderitaan di rumah, tanpa kita sadari kita sedang membentengi diri kita dengan suatu mekanisme pertahanan diri (defense mekanism). Defense mekanism inilah yang seringkali muncul sebagai suatu sifat buruk kita.

Misalnya, mungkin di rumah saat kita bercerita mengenai pengalaman kita, orang tua malah membodohi kita atau menghina cerita kita. Ini kemudian dapat menciptakan defense mekanism yaitu kita menjadi pendiam dan tidak berani menyatakan pendapat kita kepada orang lain, karena takut diolok-olok orang lain. Hal-hal semacam ini kalau tidak dibereskan memang dapat mengganggu kehidupan pribadi kita. Dan akibatnya dapat muncul pada saat kita menikah kelak.

Tetapi ada 1 kunci yang dapat membereskan problem ini. Kunci tersebut namanya: FORGIVENESS (PENGAMPUNAN).

Saat kita menghadapi kesulitan dan penderitaan karena orang tua kita, ampunilah mereka. Ampunilah mereka untuk segala yang telah mereka lakukan. Saat hati Anda disakiti berulang kali oleh orang tua Anda, ampunilah orang tua Anda. Dan saat Anda kembali mengingat pedihnya hidup Anda, ampunilah sekali lagi orang tua Anda. Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa kita harus mengampuni seseorang 70×7 kali! 7 adalah angka sempurna. Artinya ampunilah berulang kali, dan ampunilah sekali lagi. Terus ampuni orang tua Anda, sama seperti Tuhan Yesus telah mengampuni segala dosa Anda.

Setelah itu, lupakanlah apa yang ada di belakang, arahkan pandangan Joni ke depan. Jangan biarkan masa lalu Joni menghantui Joni dan mengurung Joni. Ingat, Tuhan sudah melepaskan Joni. Masa depan Joni tidak terletak di masa lalu, tetapi masa depan Joni terletak pada bagaimana Joni menjalani hidup ini, hari demi hari bersama Tuhan. Dengan demikian, saya percaya Tuhan mampu mengubahkan segala hal yang buruk di masa lalu, termasuk segala defense mekanism Joni, menjadi indah pada waktunya.

Untuk bimbingan lebih lanjut, saya menyarankan Joni untuk konseling kepada hamba Tuhan setempat, atau ke konselor Kristen yang dapat menolong Joni lebih lanjut. Apabila membutuhkan kontak, silakan menghubungi kami kembali dengan alamat e-mail. Kami akan memberikan kontak tersebut melalui jalur pribadi.