syalom sophia,

saya mau bertanya sebentar lagi sekitar 4 bln lg saya akan menikah dan calon suami saya adalah katolik. sya sudah berpacaran dgn dia selama 7th.

saya tau dr awal saya telah membuat keputusan yg salah krn berpacaran dgn tidak seiman. dan saya bisa merasakan apa yg nantinya akan terjadi stlh kehidupan rumah tangga kami. yg pastinya akan banyak konflik dan masalah krn byk ketidakcocokan prinsip dan iman.

namun saya sudah terlanjur memilih dia. dia bukan katolik yg taat tetapi dia ga pernah mau untuk pindah mengikuti saya.yg ada adalah keributan2 klo membahs soal itu. yg akhirnya diputuskan untuk sendiri2 dlm soal iman.

memang dalam keimanan saya benar2 merasa timpang, saya benar2 percaya pada kelamatan hanya tuhan yesus saja sedangkan dia boro2 baca alkitab, klo saya ceritakan kebaikan Tuhan Yesus aja dia acuh ta acuh.

tp dalam hati kecil saya, saya ingin sekali memenangkan jiwa dia, dan sudah selalu saya bawa dalam doa.

yg ingin saya tanyakan:

1. dapatkah saya memenangkan jiwa dia?

2. apakah benar dia sbnrnya jodoh dr tuhan, mengingat pernah setahun putus, kemudaian nyambung lg?

3. mungkinkan Tuhan secara sengaja mempertemukan daya dgn dia agar dia bisa menerima tuhan yesus n mengenal Tuhan Yesus lebih dalam?

4. apa yg harus saya lakukan jika sudah menjadi suami-istri nantinya?

5.apakah selamanya saya akan kegeraja sendiri2 setiap hari minggu?

6. bagaimana dgn anak2 saya nanti, saya ingin membawa iman saya kepada anak2 saya, tapi dilain sisi suami berbeda iman. pernah dibahas oleh kami berdua, tp dia minta supaya “setiap minggu gantian bawa anak kegereja, jadi minggu ini si anak ikut ke gereja saya, minggu depannya si anak ikut ke gereja dia, ntar klo udah besar si anak akan memilih sendiri iman nya. bukankan akan membingungkan si anak?

tp jujur dalam hati kecil saya tidak rela, saya ingin mendidik anak2 nanti sejak dini untuk mengenal Yesus.

7. bagaimana agar calon suami saya bisa mengikuti iman saya, saya ga pernah berhenti berdoa untuk itu tp tuhan blm menjawab doa2 saja apakah memang jawabannya tidak. saya percaya tiada yg mustahil bagi Dia. krn sekeras apapun batu, bisa hancur klo tuhan sudah berfirman. saya yakin klo tanpa campur tgn Tuhan, suami saya akan tetap keraskan hatinya.

apa yg harus saya perbuat???

mohon saran2 nya, saya bimbang sekali saat ini krn kehidupan berpacaran dan stlh menikah nanti tentunya akan berbeda sekali.

terima kasih

Tuti (bukan nama sebenarnya)

[JAWAB]:

[DSB]:

Dear Tuti,

Saya bersyukur Tuti sudah dapat melihat bahwa ada banyak ketimpangan yang terjadi dalam hubungan Tuti dengan pacar Tuti. Dan Tuti pun sudah menyadari betapa banyaknya potensi konflik apabila Tuti menikah dengan si dia. Di antaranya masalah iman anak, pergi ke gereja mana dll. Memang pernikahan beda prinsip hidup (nilai2 keyakinan dan agama) termasuk merupakan masalah yang paling berat dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan seperti suku, umur, dll. Karena itu saya percaya Tuhan masih begitu baik kepada Tuti sehingga Dia menyatakan berbagai hal tersebut kepada Tuti, sebelum Tuti menikah.

Firman Tuhan sudah jelas sekali mengatakan bahwa kita tidak boleh menjadi pasangan yang tidak sepadan (tidak seiman) dengan orang lain. Karena itu bukanlah hal yang bijaksana untuk pacaran dengan orang yang tidak seiman. Mengapa? Karena kita harus jujur bahwa perasaan itu sulit dikendalikan. Sekali sudah jatuh cinta, tidaklah mudah untuk menyangkali diri dan memutuskan hubungan itu. Terlalu banyak emosi yang terlibat, dan namanya pacaran, hubungan itu akan mengikat cukup mendalam.

Namun sayang sekali Tuti membiarkan hubungan itu terlalu lama sampai begitu dekat dengan pernikahan. Saya menduga bahwa pernikahan kalian malah telah dipersiapkan dan mungkin sudah 80% siap. Kalau Tuti masih punya waktu untuk menggumulkan pacar Tuti, saya bisa menyarankan agar Tuti mendoakan dan coba menginjili dia. Namun kalau sudah begitu dekat dengan pernikahan, mungkin kesempatan itu sudah terlalu kecil kemungkinannya. Tentu tiada yang mustahil bagi Tuhan, tapi kita tidak boleh mencobai Tuhan dan bermain-main dengan ketetapan-Nya. Atau memainkan taruhan “siapa tahu nantinya akan bertobat”. Kenyataanya adalah, begitu banyak orang-orang yang menyesal dan begitu menderita karena setelah menikah pasangan yang tidak percaya itu menjadi musuh dalam selimut, duri dalam daging.

Sekarang pilihan semua ada di tangan Tuti sendiri. Kalau Tuti pilih lanjutkan, tentu Tuti sudah tahu apa yang akan dihadapi. Memang ada kemungkinan calon suami Tuti akan bertobat, namun tidak ada yang bisa menjamin. Kalaupun bertobat, kapan? 1 bulan lagi? 1 tahun lagi? ataukah 20 tahun lagi? Kalau mengambil keputusan untuk putus, memang dengan persiapan pernikahan yang sudah dilakukan sungguh tidaklah mudah. Terlebih kalau pihak keluarga kedua belah pihak sudah terlibat dalam hal ini. Tapi berarti Tuti sudah berjuang melaksanakan Firman Tuhan. Dan Tuhan akan sangat bangga dengan Tuti. Saya percaya Tuhan tidak pernah melupakan pengorbanan yang sudah dilakukan oleh anak-anak-Nya untuk taat pada-Nya. Semuanya tidak akan sia-sia.

Semoga ini bisa membantu Tuti. Saya akan mendoakan Tuti. Tuhan memberkati.