Shalom! Saya ingin bertanya, menurut firman Tuhan kita dilarang untuk berdusta. Tapi terkadang ada beberapa hal dimana jika kita jujur tentang suatu hal kepada orang lain, maka akan merugikan orang lain. Dan akhirnya saya sempat mendengar mengenai “berbohong untuk kebaikan” apakah ini benar menurut standar Alkitab? Dan bagaimana dengan kisah Abraham ketika meminta istrinya Sarai untuk mengatakan bahwa dia adalah saudara Sarai (walaupun memang benar bahwa Abraham adalah saudara jauh Sarai)?
Mohon jawabannya, terima kasih!

RC

[JAWAB]:

Dear RC,

Pertanyaan RC memang tidak mudah untuk dijawab.

Ada bermacam-macam pandangan dalam menyikapi pertanyaan RC. Ada yang menyebutkan bahwa karena berbohong adalah salah, maka “berbohong untuk kebaikan” tidaklah boleh dilakukan dan kita harus berkata jujur setiap saat. Ada pula yang mengatakan bahwa karena kita berbohong demi kebaikan, maka kita tidak bersalah.

Namun bagaimana dengan pandangan Kristiani?

Pertama, Tuhan dengan jelas mengatakan agar kita jangan berbohong (Kel 20:16), maka berbohong jelas-jelas adalah suatu tindakan yang berdosa.

Lalu bagaimana dengan berbohong untuk kebaikan? Apakah kita menjadi tidak berdosa?

Tidak ada ayat di dalam Alkitab yang menyatakan bahwa ada alasan yang dapat membenarkan kita untuk berbohong. Maka, berbohong, untuk alasan apapun, adalah dosa, dan setiap dosa adalah perbuatan yang tidak berkenan kepada Tuhan.

Jadi bila kita diperhadapkan pada sebuah situasi, misalnya di mana kita harus berbohong untuk menyelamatkan nyawa seseorang, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita tidak boleh berbohong meskipun hal tersebut dapat berarti hilangnya nyawa seseorang? Apa yang seharusnya kita lakukan?

Di sinilah kita perlu benar-benar bergantung pada Tuhan dan memohon hikmat agar Tuhan memberikan jalan keluar sehingga kita tidak perlu berbohong. Namun apabila ternyata jalan itu tidak dapat kita lihat dan terpaksa kita berbohong, kita tetap harus memohon ampun kepada Tuhan atas dosa kita tersebut.

Sebagai anak Tuhan yang masih tinggal dalam dunia yang penuh dosa ini, memang kadang kala kita tidak dapat menghindar dari dosa (termasuk dosa berbohong ini). Namun di sinilah perbedaannya antara anak Tuhan yang sungguh-sungguh dan yang bukan. Anak Tuhan yang sungguh-sungguh tidak pernah suka berbohong, sekalipun dia terpaksa berbohong (karena alasan yang dapat dipertanggungjawabkan misalnya menyelamatkan nyawa seseorang). Dan saat dia terpaksa berbohong, dia tahu itu tetap adalah dosa. Dan tidak ada anak Tuhan yang sukacita saat dia berdosa. Tetapi kalau bukan anak Tuhan, dia tidak merasa bersalah dan tidak berduka karena dosanya itu, malah dia membenarkan dirinya dengan alasan “bohong putih itu tidak dosa”.

Dalam kasus Abraham (dan belakangan kasus Ishak), di mana dia berbohong mengenai Sara, Alkitab TIDAK PERNAH MENCATAT BAHWA TUHAN SETUJU dengan tindakan Abraham tersebut. Tuhan tidak pernah berkompromi dan menerima dosa, untuk alasan apapun.

Demikian pula dengan kita. Dalam kehidupan kita, seringkali pilihan kita tidak mudah. Pilihan kita bukanlah antara “putih” dengan “hitam”. Betapa mudahnya bila pilihan kita hanya antara putih dan hitam. Seringkali pilihan kita adalah “abu-abu” dan “abu-abu”.

Maka dalam memutuskan, kita harus meminta kebijaksanaan dan pimpinan Roh Kudus agar kita dapat memilih yang terbaik dari yang terburuk. Setelah itu, mintalah ampun atas dosa yang kita lakukan.