Saya ingin bertanya ttg baptisan, mohon dijelaskan. Jujur saya bingung krna ada gereja yg mengatakan bhwa baptisan yg benar adlh dgn cara di SELAM, tp ada jg gereja yg melakukan baptisan dgn cara dipercik. Sekedar info, saya sdh dibaptis sejak masih bayi dgn cara dipercik. Apaka itu sah? Bila tdk, apakah aku hrs dibaptis lagi? Mohon penjelasan. Terima kasih

Terkirim dari Samsung Mobile

Polce Pesik

JAWAB:

[CKM]:

Ada beberapa hal yang harus dicermati:

1. Baptisan dan Perjamuan Kudus adalah sakramen yang ditentukan oleh Kristus untuk ditaati orang percaya. Kedua sakramen ini mempunyai makna rohani yang sangat dalam berkaitan dengan apa yang telah Allah kerjakan bagi keselamatan manusia berdosa melalui pribadi Yesus Kristus.

2. Baptisan  tidak melahir-barukan orang berdosa. Pandangan Katolik mengajarkan tentang “Baptismal regeneration” yaitu suatu keyakinan bahwa sakramen baptisan pada dirinya sendiri memiliki kuasa untuk menyebabkan terjadinya peristiwa kelahiran baru pada orang yang dibaptiskan. Konsep ini bertentangan dengan ajaran Alkitab yang jelas sekali menekankan kedaulatan karya Roh Kudus dalam peristiwa kelahiran kembali orang berdosa (Yoh. 3:5-8). Hanya Roh Kudus yang berkuasa melahirkan manusia berdosa menjadi satu pribadi yang baru di dalam Tuhan, bukan kuasa sakramen baptisan. Dengan demikian, maka “Baptism logically follows, not precedes, the new birth.”

3. Baptisan adalah suatu tanda kelihatan (visible & external sign) dari peristiwa yang tidak kelihatan dalam proses keselamatan orang berdosa yang dikerjakan Roh Kudus. Jadi, baptisan air adalah suatu tanda kelihatan dari karya Roh Kudus yang tidak kelihatan, yakni pekerjaan-Nya melahir-barukan orang berdosa. Baptisan air melambangkan baptisan Roh Kudus. Dalam Alkitab, air adalah simbol untuk melukiskan Roh Kudus (Yoh. 7:38-39). Air berfungsi untuk menyucikan, membasuh dan membersihkan sehingga noda dan kotoran menjadi hilang. Dengan demikian, maka baptisan air adalah lambang yang tepat untuk menyatakan baptisan Roh Kudus.

4. Para penganut baptisan selam berkeyakinan bahwa kata Yunani untuk membaptis yaitu “baptiz” atau kata infinitive-nya “baptizein”  selalu bermakna utama mencelupkan atau menenggelamkan ke dalam air. Berlandaskan arti hurufiah kata ini, mereka sangat menekankan bahwa makna literal ini dengan sendirinya sudah menunjukkan cara baptisan yang tidak lain adalah dengan diselamkan.

Apakah benar demikian (makna menentukan cara)?  yang harus diingat adalah arti kata “baptizo” dan “baptizein” tidak bersifat “single-meaning” melainkan “multy-meanings”. Selain, ‘mencelupkan’ kata-kata ini bisa juga mengandung arti as ‘to wash’, ‘to bathe’, and ‘to purify by washing’. Karena tidak bersifat “single-meaning” maka jika kelompok yang memegang baptisan selam telah memakai salah satu maknanya yaitu ‘mencelupkan’ untuk dijadikan penentu metode baptisan, maka golongan yang melaksanakan baptisan percik juga berhak mengambil makna lain dari kata ini (yaitu ‘to wash’ atau ‘to purify by washing’) untuk dipakai sebagai penentu cara baptisan.

Maka arti dari kata “baptizw“ dan “baptizein” tidak bisa menjadi argumentasi yang definitif untuk menentukan satu-satunya cara yang sah dalam pembaptisan.

Jika kita ngotot bahwa arti kata ini mempunyai “single-meaning” maka kita akan menemukan masalah, contohnya adalah  kita bisa dalam Markus 7:4, kata yang diterjemahkan oleh LAI sebagai “membersihkan dirinya” dalam bahasa Yunaninya adalah membaptis. Apakah setiap kali orang Farisi pulang dari pasar mereka pasti menenggelamkan dirinya ke dalam air? Tentu saja tidak. Dalam Luk. 11:38 tercatat bahwa orang Farisi menjadi heran karena “Jesus did not first wash before the meal” (NIV). Terjemahan “wash” dalam bahasa Inggris ini adalah berdasarkan kata “membaptis” dalam bahasa Yunaninya.  Robert Rayburn berkomentar, “Dapatkah seseorang menjadi sedemikian bodoh dengan menganggap bahwa Yesus diharapkan menyelamkan diri-Nya sendiri secara keseluruhan ke dalam air setiap kali sebelum makan?”

Jadi, pada kedua bagian Alkitab ini, kata membaptis tidak dapat dipahami dengan pengertian hurufiah (mencelup, menenggelamkan) melainkan harus dimengerti secara simbolis yaitu pembasuhan, pembersihan atau penyucian. Ritual penyucian dalam Perjanjian Lama umumnya dilakukan dengan cara pemercikan darah (Ibr. 9:18-22). Sebab itu, penyucian yang dilakukan oleh Roh Kudus terhadap manusia berdosa dapat dilambangkan dengan cara baptisan secara percik.

Ada satu bagian yang menarik dalam 1 Kor. 10:1-2, Paulus menulis bahwa umat Israel yang keluar dari tanah perbudakan Mesir adalah mereka yang telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. Jelas yang dialami bangsa Israel dalam peristiwa ini adalah mereka berjalan melewati tanah kering. Jika dikatakan mereka telah dibaptis dalam lautan, kemungkinannya adalah mereka hanya terkena percikan air laut yang telah menjadi ‘tembok air’ di sebelah kanan dan kiri mereka (Kel. 14:21-22). Percikan air bisa terjadi karena angin yang menerpa ‘tembok air’ tersebut. Justru yang ditenggelamkan dalam air laut bukan bangsa Israel melainkan bangsa Mesir. Berdasarkan realita sejarah umat Israel yang sudah dibaptis dalam laut namun sama sekali tidak dicelupkan atau ditenggelamkan melainkan kemungkinan besar hanya terkena percikan air laut, maka bisa dinyatakan bahwa sakramen baptisan dapat dilakukan dengan cara dipercik.

5. Berdasarkan argumentasi singkat dari poin 1-4, baptis bayi dengan cara percik adalah sah. Dengan catatan, baptisan tersebut dilaksanakan dengan formula Tritunggal. Maka tidak perlu baptis ulang.  Karena soal selam atau percik bukanlah hal yang prinsipil. Siapa yang menganggapnya sebagai suatu yang prinsipil, itu berarti ia mempersamakan lambang dengan kenyataan.