dear sophia

bolehkah kita menerima hadiah atau bonus dari rekan bisnis yang terlibat dealing atau kita kenalkan dengan perusahaan tempat kita bekerja (disini kita tidak meminta), tolong penjelasannya

terima kasih

FAL

JAWAB:

[DSB]:

Dear FAL ykk,

Tentunya ada suatu perasaan yang kurang damai sejahtera sehingga Sdr FAL menanyakan kepada kami perihal menerima bonus dari rekan bisnis tersebut. Memang dalam dunia bisnis khususnya di Indonesia kita mengenal dengan apa yang sering disebut dengan Bonus/Komisi pihak ketiga. Namun apakah secara iman Kristen hal tersebut dapat dibenarkan?

Kekristenan tidak menjalankan iman berdasarkan hukum legal yang mengandung serentetan perintah dan larangan. Kekristenan menjalankan imannya berdasarkan kasih kepada Allah dan kepada sesama. Maka prinsip utama yang dapat kita gunakan dalam menggumulkan permasalahan tersebut adalah:

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.  (I Kor 10:23)

Kita harus mengamati apakah bonus pihak ketiga itu merupakan sesuatu yang berguna/membangun ataukah menerima bonus pihak ketiga itu dapat menjadi batu sandungan bagi saudara seiman yang lain.

Kalau kita memandang bonus/hadiah tersebut dengan kacamata yang polos dan naif, maka awal mulanya bonus tersebut mungkin sama sekali tidaklah kotor. Melainkan suatu tanda terima kasih yang tulus dari perusahaan/sales kepada orang yang membantu penjualan mereka. Dalam hal ini pihak ketiga yang mengenalkan tersebut seharusnya tulus mengenalkan dan bukan karena mengharapkan adanya imbalan, sehingga tanda terima kasih yang diberikan pasti dapat diberikan dan diterima tanpa adanya keberatan hati nurani tertentu.

Namun pada kenyataannya pemberian bonus pada pihak ketiga telah ini sudah bukan lagi tanda terima kasih melainkan sesuatu yang disengaja dan dibudgetkan sehingga bukan terjadi pada proses yang naif tadi, melainkan pihak ketiga memang mengenalkan (bukan hanya mengenalkan malah juga menggolkan proyek) dengan mengharapkan bayaran/bonus dari perusahaan/sales yang dikenalkan tersebut. Di sinilah bonus pihak ketiga menjadi suatu potensi dosa yang terselubung. Seringkali yang paling dirugikan dengan praktek ini adalah perusahaan yang membeli jasa/produk yang dikenalkan. Karena sebenarnya komisi/bonus pihak ketiga ini diperhitungkan masuk ke dalam harga produk/jasa yang dijual, sehingga harganya pasti menjadi lebih mahal. Sekalipun praktek ini menyebabkan bisnis biaya tinggi, tapi mengapa tetap perusahaan yang nilainya lebih mahal yang menang tender? Karena adanya peran pihak ketiga tadi. Kalau memang begini yang terjadi, tentunya Sdr FAL sudah tahu apa yang harus dilakukan bukan?

Sekarang dengan kondisi bangsa yang penuh korupsi terselubung seperti ini, dan juga dengan praktek komisi pihak ketiga yang sudah sangat mendarah daging hampir ke semua institusi dan perusahaan, bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen yang baik? Maka menurut saya, sebaiknya apabila mengenalkan rekan bisnis (tanpa adanya mengharapkan imbalan), adalah lebih baik menjadi teladan dengan menolak bonus/hadiah (apalagi dalam bentuk uang) tersebut secara baik-baik, dan biar kita serahkan pada Tuhan saja yang menyediakan dan mencukupkan kebutuhan finansial kita. Percayalah bahwa Allah sanggup dan ingin mencukupkan kebutuhan kita, tidak perlu kita mendapatkan sesuatu dari hal yang seperti ini. Kalaupun dari sisi perusahaan yang dikenalkan ingin memberikan gratitudenya yang tulus, cukup dengan mengajak makan atau memberikan parsel yang secukupnya saat hari raya, tidak perlu memberikan yang lebih besar daripada itu.