Syaloom mau tanya…
ada Cwo yang mendekati saya saat ini.. sebelum menjalin hubungan yang lebih jauh (berpacaran), tentunya saya mencari tahu latar belakang cwo ini.. dia tergabung juga dalam pelayanan..namun ,Saya mendengar dari beberapa orang bahwa dahulu kehidupan berpacarannya tidak kudus (tidak sampai ML).. Saya pun agak menyayangkan jadinya.. namun suatu saat dia mengakui dan menceritakan masa lalunya tersebut karena hendak serius dengan saya,

Saya sangat menghargai pengakuannya itu,, dan berusaha ingin menerimanya… namun terkadang terlintas “apa kata orang, kalo saya berpacaran dengan dia”. seringkali takut cibiran orang, takut saya terbawa ke arah yang kurang baik, dll
Saat ini saya melihat dia cukup baik dan serius, Dia pun berpuasa untuk memutuskan apakah dia perlu mengatakan masa lalunya ini. namun terkadang banyak ketakutan dalam diri saya untuk membina hubungan yang lebih jauh..terkadang saya merasa yakin, terkadang juga merasa ragu…
Jadi apa yang harus saya lakukan? apakah lebih baik menerimanya atau menolaknya??


Saya menyadari siapa tahu saya mempunyai kesempatan untuk menjadi saluran pengampunan dari Tuhan, berharap rasa kecewa tidak menyebabkan saya pahit hati dan merasa lebih suci dibanding dengan cwo itu, ..
Bagaimana cara mengetahui dia benar2 menginggalkan dosa lamanya?
hal-hal apa saja yang perlu disepakati untuk memulai berpacaran dengan kondisi yang seperti ini?

 

Natalia (bukan nama sebenarnya)

 

 

JAWAB:

[DSB]:

Kami bersyukur, di tengah jaman yang sudah bengkok ini, masih banyak anak Tuhan seperti Natalia yang mau menjaga kekudusan hidup dalam berpacaran. Kerinduan ini adalah suatu modal yang kuat dalam menjaga kekudusan pacaran Anda. Namun sayangnya semangat dan komitmen untuk kudus barulah modal minimal untuk bisa mempertahankan diri kita dan kekasih kita dari bahaya dosa seksual. Diperlukan banyak usaha, ketergantungan dengan Tuhan secara penuh, dan kerjasama antara si pria dan si wanita juga dengan rekan-rekan seiman lainnya.

Apabila ada seorang dari antara pasangan sejoli ini yang pernah melakukan berpacaran melebihi batas yang seharusnya, memang ini akan menjadi lebih sulit. Karena dosa seksual mirip dengan candu, sekali pernah merasakan, maka orang yang pernah melakukannya akan memiliki hasrat yang lebih kuat (dari orang yang belum pernah melebihi batas) untuk kembali melakukan pacaran yang tidak kudus tersebut. Ini juga seperti orang belajar sepeda, permulaannya memang sulit, tetapi begitu sekali bisa, maka akan sangatlah mudah sekali untuk mengulanginya lagi di kemudian hari. Hal ini berlaku bahkan untuk pasangan yang belum sampai jatuh ke “The Point of No Return” alias ML (berhubungan badan).

Sulit mungkin ya, tapi mustahil jelas TIDAK. Berapa banyak pasangan Kristen yang sungguh-sungguh ikut Yesus yang sudah berusaha untuk berpacaran dengan kudus, namun pernah jatuh juga. Good newsnya, pertolongan Tuhan seringkali tepat pada waktunya sehingga kejatuhan mereka tidak sampai ML. Dan setelah itu banyak yang berhasil menjaga kekudusan mereka sampai pernikahan.

Yang pasti seperti yang tadi telah saya utarakan, diperlukan kerjasama yang baik antara Anda dengan pasangan Anda, yaitu dalam:

1. Tetapkanlah batas-batas Anda berdua. Kalau Anda berdua hanya memberikan batas tidak melakukan ML, itu jelas bukanlah hal yang bijaksana. ML hanyalah puncak dari godaan yang diterima dan dipatuhi Anda. Ada serangkaian proses yang terjadi sebelum pasangan di luar nikah dapat melakukan ML. Misalnya berciuman, berpelukan, pegang-pegangan dan lain-lain. Proses inilah yang harus di cut sebelum rangsangannya menjadi begitu besar untuk dapat dikuasai kalian berdua.

2. Tempat terbuka. Sekali lagi, dosa seksual adalah masalah transparansi. Tidak ada dosa seksual yang dilakukan di tempat terbuka, kecuali kalau hati nurani Anda sudah mati. Maka semakin hidup anda transparan, dan juga semakin terbukanya tempat di mana Anda berpacaran, semakin mudah Anda menjaga kekudusan pacaran Anda. Hindari tempat-tempat pacaran yang gelap, dan memungkinkan dosa seksual dilakukan, termasuk rumah atau tempat kos Anda atau kekasih Anda yang kosong. Sebaliknya, rumah dengan orang tua Anda di dalamnya dapat menjadi tempat yang terbaik untuk berpacaran.

3. Kegiatan Pacaran. Saat kegiatan pacaran Anda dapat diarahkan kepada objek di luar diri Anda berdua (misalnya pelayanan, mengikuti persekutuan/ibadah, kehidupan sosial dengan teman-teman Anda berdua), pikiran untuk melakukan dosa juga akan menjauh dari Anda dan pasangan Anda. Memang tentu sebagai salah satu tujuan pacaran yaitu mengenal satu sama lain, tidak dipungkiri bahwa Anda berdua membutuhkan waktu yang cukup untuk secara ekslusif hanya berduaan saja. Namun terlalu banyak waktu berduaan tanpa ada tema yang jelas membuat pikiran dosa mudah hinggap kepada Anda atau pasangan Anda.

Kemudian, bagaimana cara mengetahui bahwa dia sudah meninggalkan dosa lamanya?

Sdr Natalia, saya tidak mengenal orang yang sedang Anda pertimbangkan itu, namun perlu diketahui bahwa bahkan para hamba Tuhan terbaik pun tidaklah immune atau bebas dari kemungkinan jatuh ke dalam dosa seksual ini. Buat para pria, kekudusan seksual adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga secara terus-menerus 24×7 sepanjang mereka hidup. Tidak pernah ada obat atau tips yang dapat menjamin seorang pria/wanita PASTI tidak akan jatuh lagi dalam dosa tersebut. Terus bagaimana? Diperlukan anugerah Allah yang sungguh luar biasa yang melebihi akal pikiran dan kekuatan kita supaya para pria dapat bertahan di tengah dunia yang mengeksploitasi seks secara besar-besaran ini. Hanya Allah sendirilah yang mampu menjaga kita dari kejatuhan.

Ini sama sekali bukan berarti bahwa Anda tidak perlu mencermati apakah si doi sudah berubah atau belum. Namun tentunya kita perlu kembali kepada prinsip utama dalam pacaran yaitu:  Keduanya (pria/wanita) haruslah orang Kristen sungguh-sungguh yang bertumbuh. Hal ini dapat dilihat di antaranya melalui:

a. Bagaimana hubungannya dengan Tuhan? Apakah mempunyai kerinduan yang besar akan doa dan mengerti Firman Allah? Bagaimana kehidupan saat teduhnya?

b. Apa yang menjadi prinsip hidupnya?

c. Bagaimana cara dia mengambil keputusan? Apakah selalu mengikutsertakan Allah dalam pengambilan keputusan yang menyangkut hidupnya?

d. Apakah mempunyai kerinduan untuk melayani orang lain?

Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas baik untuk si doi maupun untuk diri Anda sendiri, kami harap Anda dapat mengambil keputusan secara bijaksana.

Kami akan mendoakan Sdr. GBU Natalia.