Shalom Dear Sophia, saya bertemu seorang gembala dan beliau AMAT MENEKAN KAN harusnya seseorang berbahasa roh. Mohon komentar Anda, karena kadang di persekutuan doa kami saya bisa tapi lebih sering saya mampu ketika kami praise dan worship di gereja.

Apakah seseorang itu HARUS SANGGUP berbahasa roh seperti yg digariskan gembala ini? terima kasih Tuhan memberkati!

EI

 

JAWAB

[CKM]

 

Saya akan mencoba menjawab pertanyaan Anda dengan menggali beberapa pasal:
1. 1 Korintus 14:2 -> Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia
a. ‘Berkata-kata dengan bahasa Roh’
Pertama kita lihat sepotong kalimat ini dulu, jika kita melihat ayat ini dari versi King James/KJV ada tertulis ‘unknown tongue’ (= bahasa Roh / lidah yang tidak dikenal). Hal yang sama terjadi pada ay 4,14,19,27.
Tetapi kata ‘unknown’ (= tidak dikenal) ini ini tidak ada dalam bahasa aslinya (Yunani). Karena itu NKJV yang merevisi KJV, dan juga semua versi bahasa Inggris yang lain, menghapuskan / tidak menggunakan kata ‘unknown’ (= tidak dikenal) ini. Mungkin s terjemahan KJV inilah yang mengilhami pemikiran / kepercayaan adanya bahasa Roh yang bukan merupakan bahasa manusia.
b) ‘Tidak berkata-kata kepada manusia tetapi kepada Allah’
Bagian ini memang seringkali dijadikan dasar dari doa menggunakan bahasa Roh.
Menurut hemat saya kalimat ‘Tidak berkata-kata kepada manusia tetapi kepada Allah’ ini jelas tidak bisa diartikan seperti itu, karena banyak bagian Alkitab yang menunjukkan bahwa pada saat seseorang berbahasa Roh, ia bukan berbicara kepada Allah, tetapi ia menyampaikan berita dari Allah kepada manusia, dan kita tidak boleh menafsirkan satu ayat Alkitab sehingga bertentangan dengan ayat Alkitab yang lain. Ini adalah prinsip penting di dalam ilmu menafsirkan Alkitab/Kitab Suci yaitu Sacra Scriptura sui interpres (Kitab Suci adalah penafsirnya sendiri) atau dengan istilah Calvin, “Scripture interprets Scripture” (= Alkitab menafsirkan Alkitab) atau Analogi iman. Jadi kita harus membanding-bandingkan semua bagian-bagian Alkitab yang berhubungan dengan ayat yang sedang kita tafsirkan, untuk bisa mendapatkan arti yang benar dari ayat tersebut. Disini kita menegakkan keutuhan dan integritas Alkitab. Jika Alkitab ditafsir dari luar, maka terjadi eisegesis, yaitu pihak luar sedang memasukkan idenya ke dalam Alkitab. Maka bagian Alkitab yang lebih jelas harus menafsirkan bagian-bagian yang kurang jelas. Ini dikenal juga dengan nama ”Analogi Iman”.
Coba kita bandingkan beberapa bagian Alkitab dibawah ini:
• Kis 2:4-13 jelas menunjukkan bahwa pada waktu rasul-rasul berbahasa Roh pada hari Pentakosta, mereka menyampaikan berita dari Allah untuk manusia.
• Ay 5 menunjukkan bahwa bahasa Roh yang disertai penafsiran / penterjemahan, menjadi sama seperti nubuat. Sedangkan bernubuat adalah menyampaikan sesuatu dari Allah kepada manusia.
• Ay 6 mengatakan bahwa bahasa Roh tidak berguna kalau tidak menyampaikan penyataan Allah, pengetahuan, nubuat, atau ajaran. Jadi jelas bahwa bahasa Roh harus ditujukan kepada manusia.
• Ay 13,27,28 menunjukkan bahwa bahasa Roh harus disertai penafsiran / penterjemahan. Ini jelas menunjukkan bahwa bahasa Roh itu ditujukan kepada manusia, karena kalau ditujukan kepada Allah, apa gunanya penterjemahan?
• Arti sebenarnya dari kalimat ini adalah: tidak ada orang yang mengerti kata-katamu kecuali Allah.
Ini adalah suatu sindiran bagi mereka/jemaat Korintus. Jadi Paulus menyindir mereka: apakah kamu mau berkhotbah kepada Allah?
c) Selanjutnya pada kalimat, ‘Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya’.
Disini saya kembali memberitahukan bahwa kata ‘bahasa’ dalam ayat ini sebetulnya tidak ada.
Bandingkan dengan versi:
NIV: ‘no one understands him’
KJV: ‘for no man understandeth him ‘
NASB: ‘no one understands’
Yang dimaksud dengan ‘tidak ada seorangpun yang mengerti’ adalah ‘tidak ada seorangpun dari orang-orang yang hadir saat itu di tempat itu yang mengerti’ (bukan ‘tidak ada seorangpun di seluruh dunia yang mengerti’). Bandingkan dengan 1Kor 14:16 yang mengatakan ‘yang hadir’.
Perlu saudara ketahui bahwa istilah ‘bahasa Roh’ dalam Alkitab selalu ditunjukkan dengan menggunakan kata bahasa Yunani GLOSSA. Kata Yunani ‘GLOSSA’ dalam Alkitab umumnya berarti bahasa manusia. Memang walaupun kata ‘GLOSSA’ sering diartikan ‘lidah’ biasa (Mark 7:33,35; Roma 3:13; Yak 3:5 Kis 2:3) tetapi kalau kata ‘GLOSSA’ ini menunjuk pada ‘bahasa’ maka itu selalu berarti ‘bahasa manusia’ (seperti dalam Wah 5:9 7:9 10:11; 13:7; 14:6 ; 17:15). Kalau kita perhatikan dari logika bahasa, ayat ini hanya memperjelas ayat sebelumnya.
d) ‘Oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia’
Kita perlu menyelidiki arti kata ‘rahasia’ (Inggris: mystery; Yunani: MUSTERION) yang digunakan dalam 1Kor 14:2 ini.
Kata ini dipakai juga dalam Ro 16:25; 1Kor 2:7; Ef 3:3 dan Kol 1:26. Untuk bisa mengerti artinya bacalah Roma 16:25-27; 1Kor 2:7; Ef 3:2-6; Kol 1:25-27! dan saudara akan melihat bahwa kata ‘rahasia’ (MUSTERION) ini pada umumnya bukan menunjuk pada sesuatu yang tidak dapat diketahui / tidak dapat dimengerti, tetapi sebaliknya menunjuk pada:
• suatu kebenaran yang bisa diketahui.
• suatu kebenaran yang dulunya tersembunyi, tetapi sekarang sudah dinyatakan / diberitakan sehingga bisa diketahui / dimengerti.
Dengan demikian, kalau ini mengatakan bahwa orang yang berbahasa Roh itu mengucapkan hal-hal yang rahasia, maka artinya adalah: orang yang berbahasa Roh itu menyampaikan kebenaran ilahi (yang dulunya tersembunyi, tetapi sekarang sudah dibukakan).
Bisa juga kata MUSTERION ini diartikan ‘hal yang tidak dimengerti’ (tetapi ini tetap tidak bisa dijadikan dasar untuk melakukan doa dengan bahasa Roh). Lalu ay 2 digabungkan dengan ay 3, maka kelihatan dengan jelas bahwa di sini dikontraskan antara bahasa Roh (ay 2) dan nubuat (ay3). Sehingga mungkin saja artinya hanyalah: bahasa Roh itu tidak dimengerti manusia, dan karena itu sia-sia; sedangkan nubuat itu dimengerti manusia sehingga bisa membangun, menasehati dan menghibur.
Tetapi mengapa dalam 1Kor 14:2 dikatakan bahwa orang itu berkata-kata kepada Allah? Ini lagi-lagi hanya suatu sindiran / bahasa sinis! Dengan kata lain, Paulus berkata: ‘Kamu yang berbahasa Roh, kamu sebetulnya memberitakan Injil, tetapi karena tidak ada yang mengerti kamu, kamu pada hakekatnya sedang berkhotbah kepada Allah!’
Jelas bahwa 1Kor 14:2 tidak bisa diartikan seakan-akan ‘bahasa Roh adalah bahasa rahasia yang tak dimengerti oleh siapapun juga termasuk setan’!
2. 1 Korintus 14:4 -> Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat.
a) ‘siapa yang berkata-kata dengan bahasa Roh, ia membangun dirinya sendiri’.
Bahasa Roh adalah salah satu karunia-karunia Roh Kudus (1Kor 12:7- 11,27-30). Tujuan karunia-karunia itu adalah untuk membangun jemaat /gereja (1Kor 12:7 1Kor 14:5,12,17,26 Ef 4:11-12 1Pet 4:10). Tuhan tidak pernah memberikan karunia yang berguna untuk membangun diri kita sendiri. Semua karunia diberikan untuk membangun gereja / tubuh Kristus dan bukannya diri sendiri! Alkitab mengatakan bahwa iman tumbuh karena Firman Tuhan (ay 4b,5,31 Ro 10:17 1Pet 2:2). Kalau seseorang menggunakan bahasa Roh yang ia sendiri tidak mengerti, maka jelas ia tidak mendapatkan Firman Tuhan, sehingga tidak mungkin imannya dibangun! Jikalau orang yang berbahasa Roh itu sendiri mengerti apa yang ia katakan, tetapi orang lain tidak. Karena itu hanya ia sendiri yang dibangun imannya. Jadi, 1 Kor 14:4 adalah sindiran / bahasa sinis. Surat Korintus memang banyak mengandung sindiran / bahasa sinis. (1Kor 4:8,10; 2Kor 10:1,2; 2Kor 11:1,5b ;2Kor 12:12-13). Jadi, adalah sangat beralasan untuk mengatakan bahwa 1Kor 14:4 juga suatu sindiran / bahasa sinis! Mungkin maksud Paulus dengan 1Kor 14:4 adalah untuk menunjukkan ketidakbergunaan bahasa Roh, dan sekaligus untuk menyerang / menyindir keegoisan orang Korintus. Tetapi ia sama sekali tidak memaksudkan bahwa bahasa Roh akan membangun diri sendiri! Ingat yang membangun iman bukanlah bahasa Roh, tetapi Firman Tuhan, karena Firman Tuhan adalah makanan rohani! (1Kor 3:2; Ibr 5:!2-14; 1Pet 2:2-3).
Alasan penafsiran ini: suatu karunia diberikan oleh Tuhan kepada seseorang, selalu dengan tujuan untuk membangun jemaat / gereja, bukan diri orang itu sendiri (ay 5b,12,17,26 12:7), sehingga tidak mungkin karunia bahasa Roh itu membangun iman sendiri.
b) ‘tetapi siapa bernubuat ia membangun jemaat’.
Jadi terlihat bahwa lagi-lagi dikontraskan antara karunia bahasa Roh dengan karunia bernubuat .
Saya tambahkan dengan 1 Korintus 14:5 -> Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.
Orang sering memotong bagian ini dan hanya melihat kata-kata ‘Aku suka supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa Roh’, dan menggunakannya sebagai dasar untuk mengharuskan orang kristen berbahasa Roh. Jikakalau bagian ini diartikan sebagai sesuatu yang menunjukkan keharusan berbahasa roh, maka jelaslah bahwa ayat ini (baca seluruh ayat 5a!) juga mengharuskan, atau bahkan lebih mengharuskan, orang kristen bernubuat! (bdk. Bil 11:29 (baca mulai Bil 11:26)). Tetapi kenyataannya, saya tidak pernah mendengar ada orang dari kelompok yang mengharuskan orang kristen berbahasa Roh mengharuskan orang kristen bernubuat. Ini menunjukkan penafsiran yang tidak konsekwen! Selain itu, keharusan mempunyai suatu karunia tertentu jelas bertentangan dengan 1Kor 12:7,8-10,28-30, yang jelas menunjukkan bahwa tiap orang kristen menerima karunia yang berbeda-beda, ada yang menerima karunia ini dan ada yang menerima karunia itu. Jelas bahwa tidak ada karunia apapun yang harus dimiliki oleh setiap orang kristen.
Perhatikan kata ‘sebab’. Kata ‘sebab’ pada awal ay 5b ini menunjukkan bahwa ay 5b ini adalah alasan dari kata-kata Paulus dalam ay 5a. Jadi, Paulus lebih senang orang bernubuat dari pada berbahasa Roh karena orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berbahasa Roh. Kalau orang yang berbahasa Roh itu bisa menafsirkan bahasa Roh-nya, maka bahasa Roh itu menjadi sesuatu yang bisa dimengerti, sehingga menjadi sama berharganya dengan nubuat.
Tetapi kalau ada seorang yang berbahasa Roh, lalu ada seorang lain yang menafsirkannya, kita tetap harus hati-hati, karena bagaimana kita tahu bahwa itu memang penafsiran yang benar? Bagaimana kalau 2 orang itu ternyata cuma bersandiwara supaya dianggap hebat / rohani / penuh Roh Kudus dsb? Ingat bahwa pada akhir jaman ada banyak nabi-nabi palsu yang tidak akan segan-segan menipu jemaat supaya diikuti banyak orang!
ayat selanjutnya, ‘Sehingga jemaat dapat dibangun’. Memang tujuan utama / tertinggi kita dalam hidup / pelayanan kita adalah untuk memuliakan Allah (1Kor 10:31), tetapi untuk mencapai hal itu, maka kita harus membangun jemaat / gereja. Jemaat / gereja bisa dibangun hanya dengan menambah pengertian Firman Tuhan. Bahasa Roh yang tidak diterjemahkan tidak bisa memberikan penger-tian, sehingga tidak bisa membangun jemaat. Tetapi nubuat, ataupun bahasa Roh yang diterjemahkan, memberikan pengertian Firman Tuhan kepada jemaat, sehingga jemaat bisa dibangun.
Ayat 6-12 juga penting. Ayat-ayat ini menunjukkan juga bahwa bahasa Roh seharusnya menyam-paikan berita dari Allah kepada manusia, dan bukan dari manusia kepada Allah (doa dengan bahasa Roh). Ayat ini juga menunjukkan bahwa bahasa Roh yang tidak bisa dime-ngerti adalah sia-sia (perhatikan kata-kata ‘apakah gunanya itu bagimu’). Bahasa Roh seharusnya menyampaikan penyataan Allah / revelation, pengetahuan (dalam hal rohani / Firman Tuhan), nubuat, pengajaran, dan jelas bahwa kalau hal-hal itu disampaikan dalam suatu bahasa yang tidak dimengerti, maka semua itu akan sia-sia belaka.
Kesimpulannya: bahasa Roh itu haruslah betul-betul suatu bahasa, yang mempunyai grammar (= tatabahasa), dan perbendaharaan kata / kata-kata yang berbeda-beda. Ayat ini jelas bertentangan dengan praktek bahasa Roh yang jaman ini banyak terdapat, dimana orangnya hanya menggunakan satu atau dua kata yang tidak ada artinya dan yang diulang terus-menerus. Ini jelas bukan bahasa (karena tidak adanya tatabahasa maupun perbendaharaan kata), dan juga bukan bahasa Roh!
Pada ayat 22 (dipisahkan dari ay 21) dikatakan Bahasa Roh merupakan tanda untuk orang yang tidak beriman, karena dalam Kis 2:1-13 rasul-rasul memberitakan Injil kepada orang-orang yang tidak percaya dengan menggunakan bahasa Roh. Sifat mujijat dari bahasa Roh itu menyebabkan orang-orang yang tidak beriman itu mau mendengar Injil itu.
Tetapi orang yang percaya tidak membutuhkan pemberitaan Firman Tuhan yang bersifat mujijat, dan karena itu untuk mereka tidak dibutuhkan bahasa Roh. Jadi nubuatlah yang cocok untuk mereka.
Terakhir, lihatlah ayat 23 (bdk. Kis 2:13):
Kalau tadi dalam ay 22a dikatakan bahwa bahasa Roh adalah tanda untuk orang yang tidak beriman, lalu mengapa ay 23 mengatakan bahwa pada waktu orang-orang tidak beriman itu melihat orang-orang kristen berbahasa Roh, mereka menganggap orang-orang kristen itu gila?
Ada 2 jawaban:
• Walaupun bahasa Roh merupakan tanda untuk orang tidak beriman, tetapi itu tidak berarti bahwa bahasa Roh itu akan mempertobatkan mereka (bdk. ay 21b yang menunjukkan penggunaan bahasa asing ternyata sia-sia).
• Walaupun bahasa Roh itu adalah tanda untuk orang tidak beriman, tetapi karena orang Korintus menggunakan bahasa Roh itu secara salah (tanpa penterjemahan), maka orang tidak beriman itu akhirnya menganggap mereka gila.
Tetapi satu hal yang menarik dari ay 23 ini ialah: kalau ada suatu gereja penuh dengan bahasa roh, lalu ada orang luar yang masuk dan meng-anggap mereka gila, maka yang disalahkan oleh Paulus bukanlah orang luar itu, tetapi gerejanya! Tetapi anehnya, jaman sekarang kalau hal itu terjadi, maka orang yang mewajibkan orang Kristen berbahasa Roh menganggap bahwa orang luar itu yang salah karena ia menghujat Roh Kudus!
Saya pikir penjelasan ini cukup.