Syalom Asksophia…..

Terimakasih untuk jawaban pertanyaan saya sblmnya. Kali ini saya mau tanya soal hukum pernikahan. kalau salah satu pasangan berselingkuh, apakah dr pihak yg yg tidak berselingkuh itu boleh menceraikan si pasangan dan menikah lg? krn menurut saya menikah scara kristen tidak diperbolehkan untuk cerai apapun alasannya, tp krn saya mendengar dr pendapat lain itu diperbolehkan klo alasannya si pasangan selingkuh. nah saya jd bingung. sbnrnya pernikahan kristen itu bs cerai n menikah lg atau tidak ya?

M

 

JAWAB:

[CKM]

Dalam Mat 19:9 tertulis, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.’” Jadi jika ‘hanya’ berselingkuh dan ‘belum’ kedapatan zinah maka pasangannya tidak boleh menceraikan.  
Memang benar, ada yang memegang pandangan bahwa perceraian mutlak tidak diijinkan,  apapun alasannya,  termasuk zinah (saya sepertinya tidak bisa menjelaskan ini disini). Misalnya kita bisa baca dari Mal 2:16,“Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel–juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!”
Ini rupanya timbul karena adanya istri-istri asing itu. Akhirnya orang-orang Yahudi itu menceraikan istri-istri lamanya. Dari sini terlihat bahwa dosa yang satu selalu menarik pada dosa yang lain! Karena itu jangan mau menuruti bujukan setan yang berkata kepada kita untuk berbuat satu dosa saja. Kalau kita menurutinya, dosa yang pertama ini akan mendorong kita  untuk melakukan dosa yang kedua, dan seterusnya.
Kontek Mal 2:16 ini memang mengatakan bahwa Tuhan membenci perceraian. Tetapi itu tidak berarti bahwa perceraian dilarang secara mutlak. Dalam Mat 5:32 dan Mat 19:9 Yesus mengatakan bahwa perceraian dilarang kecuali kalau terjadi perzinahan. Jadi zinah adalah satu-satunya alasan yang menyebabkan seseorang boleh menceraikan pasangannya. Memang ada juga pandangan yang melarang perceraian sekalipun disebabkan oleh perzinahan (saya tidak bahas disini). Semua bentuk perceraian (apapun alasannya) juga adalah dosa, yang kalaupun sudah disesali, akibatnya mungkin akan mengikuti orang yang bersangkutan seumur hidupnya! Karena itu, jangan sembarangan bercerai!
Kita harus tahu bahwa ketidaksetiaan dalam pernikahan, apakah itu diwujudkan dengan kawin lagi / poligami atau dengan menceraikan istri/suami lama, merupakan suatu penghinaan kepada Tuhan, yang adalah saksi pernikahan.
Mungkin artikel ini bisa membantu http://christianreformedink.wordpress.com/christian-marriage-and-family/divorce-remarriage/whats-your-view-of-divorce-and-remarriage/

 

 

[MC]

Dear M,

Sebenarnya di antara orang Kristen pun terdapat ketidak sepahaman mengenai penafsiran perceraian. Setidaknya ada 3 pandangan umum mengenai perceraian:
1. Perceraian tidak diperbolehkan dengan alasan apapun. Dasarnya adalah Matius 19:6 di mana Yesus berkata, “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
2. Perceraian diperbolehkan karena 1 alasan saja, yaitu perzinahan. Dasarnya adalah Matius 19:9. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”
3. Ada 2 alasan perceraian diizinkan. Yang pertama adalah perzinahan seperti yang telah dibahas di point 2.
Satu alasan lagi ialah apabila saat menikah kedua pasangan adalah orang-orang yang tidak percaya Tuhan dan seiring berlalunya waktu, salah satunya akhirnya menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. 1 Korintus 7:12-13 mencatat bahwa sekiranya pasangan yang tidak beriman tetap mau hidup bersama-sama dengan istri / suaminya, maka perceraian tidaklah diizinkan. Dengan demikian implikasinya adalah apabila sang pasangan tidak mau hidup bersama-sama dengan pasangan yang telah percaya tersebut dan meninggalkannya, perceraian dapat dibenarkan.
Terlepas dari pandangan kita terhadap perceraian, ada beberapa hal yang harus kita ingat dalam memutuskan perceraian.
– Dampak terhadap orang-orang di sekitar kita. Perceraian pasti berdampak besar terhadap keluarga dan rekan-rekan kedua belah pihak, apalagi bila mereka telah memiliki anak. Suka atau tidak suka, harus kita akui bahwa perceraian sering kali menyebabkan anak memiliki luka batin yang terus terbawa sampai ia dewasa dan menikah.
– Dampak terhadap diri kita sendiri. Bagaimanapun juga pernikahan Kristen dirancang oleh Tuhan untuk menjadi ikatan seumur hidup. Suami / istri kita biasanya adalah orang yang paling dekat dengan kita dan yang memahami kita jauh lebih baik daripada orang-orang lain. Betapa menyakitkannya bila hubungan itu harus hancur.
Solusi yang terbaik apabila terjadi masalah dalam pernikahan (termasuk dalam hal ini perzinahan) adalah dengan mencari pihak ketiga yang dapat membantu hubungan tersebut, baik Hamba Tuhan ataupun konselor pernikahan (tentunya konselor tersebut harus yang berdasarkan Firman Tuhan).
Sebagai anak Tuhan, pihak yang menyakiti harus bertobat dengan sungguh-sungguh di hadapan Allah dan tidak mengulangi perbuatannya. Pihak yang disakiti harus belajar untuk memaafkan pasangannya dan mencoba menjalin kembali hubungan mereka.