Syalom…

Saya dahulu mempunyai seorang pacar dan dia tidak seagama dengan saya…
Kami memulai hubungan kami sewaktu saya belum kenal Tuhan secara mendalam…
Tapi sewaktu saya sudah mulai kenal Tuhan dan mengenal dia dengan lebih dekat lagi saya akhirnya memutuskan untuk tidak berpacaran dengan dia lagi…
Saya bergumul untuk memutuskan pacar saya karna perbedaan agama…
Tapi yang menjadi ketidak senangan hati saya adalah, sewaktu saya memutuskan dia, saya telah berbohong kepadanya…
saya katakan ibu saya tidak merestui hubungan kami sedangkan ibu saya tidak pernah tahu akan kewujudan dia dalam hidup saya…
saya telah menjadikan ibu saya sebagai alasan untuk kami putus…
Sedangkan, ianya adalah keinginan hati saya sendiri…
Tapi sepanjang saya beranjak dewasa ortu saya sering berkata agar tidak mencari pacar yang berbeda agama…
Menurut kakak apakah saya telah berbuat dosa atau saya hanya patuh pada ajaran ortu saya???
Selain itu, saya juga mempunyai masalah hasil dari pemutusan hubungan ini…
Sehingga kini saya masih tidak bisa melupakan dia walaupun kami sudah putus lebih dari satu tahun…apabila saya bersendirian terutama sekali sewaktu hendak tidur saya pasti akan teringat dia dan rindu saat kami bersama dahulu…
Apakah kakak punya cara untuk melupakan mantan pacar selain daripada berdoa, membaca Firman Tuhan dan melibatkan diri dalam pelbagai aktiviti…
terima kasih…Tuhan memberkati…

EO…

 

JAWAB:

[DSB]:

Dear EO,

Kami bersyukur untuk EO yang telah dengan berani memutuskan hubungan kekasih demi melakukan Firman Tuhan yang benar. Anda layak mendapatkan tepuk tangan, tidak semua orang mampu berbuat demikian loh!🙂

Namun perjuangan EO rupanya belum selesai, diri mantan masih sering terbayang hingga kini. Di satu pihak, untuk seorang wanita hal ini memang sangat wajar. Namun dari penuturan EO ada hal lain yang turut menyumbang peran sehingga EO sulit melupakan mantan. Hal itu adalah perasaan bersalah yang EO rasakan karena memutuskan hubungan dengan alasan orang tua (berbohong).

Dear EO, memang kadang kala waktu sulit mengatakan yang sebenarnya, kita cenderung menggunakan peran orang lain sebagai yang menanggung beban ketidaknyamanan yang akan ditimbulkan. Dalam hal ini EO menggunakan orang tua untuk menanggung beban tersebut. Namun ternyata menanggungkan beban seperti itu tidak selalu berjalan mulus. Dalam kasus EO malah jadi bumerang akibat EO tidak menyatakan hal yang sesungguhnya kepada dia. Dosakah itu? Kami bukanlah hakim yang dapat menghakimi perbuatan EO tersebut, hanya Tuhanlah hakim yang benar. Namun dari kata-kata EO sendiri:

1. EO mengakui bahwa EO telah berbohong.

2. EO merasa bersalah atas masalah tersebut

3. akibatnya EO tidak bisa melupakan mantan EO
yang perlu EO lakukan adalah membereskan akar masalahnya dengan tuntas, yaitu masalah dosa dan rasa bersalah. Saya pikir EO tidak perlu menggumulkan apakah itu berarti melakukan perintah orang tua atau bukan, karena deep down dalam hati EO sendiri sudah merasa bersalah. Lebih baik EO mengakuinya di hadapan Tuhan, dan membereskan semua perasaan bersalah itu di hadapan Tuhan.

Setelah EO membereskan dosa tersebut, EO perlu memegang ayat ini:

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” I Yohanes 1:9

EO perlu ingat di dalam hati EO bahwa EO telah mengakui dosa tersebut di hadapan Allah, dan Allah telah mengampuni EO.

Kemudian apakah EO masih berkomunikasi dengan mantan EO tersebut? ataukah sudah tidak berkomunikasi lagi? Apabila masih berkomunikasi, maka EO lebih baik menuntaskan hubungan tersebut, paling tidak untuk sementara tidak berhubungan dengan dia sampai hati EO pulih kembali.

EO, pedihnya hati karena harus meninggalkan orang yang dicintai demi Kristus adalah suatu salib yang mesti dipikul. Pasti berat, namun mulia. Alangkah baiknya apabila EO mengambil sikap belajar menerima dengan sukacita salib tersebut dengan mengingat bahwa hal ini dilakukan demi menyenangkan hati Tuhan. Sambil mengisi waktu-waktu kosong dengan aktivitas, waktu akan menolong EO untuk melupakan si dia.
GBU