saya memiliki pertanyaan. beberapa waktu yang lalu saya dan teman-teman sempat membahas soal kerusuhan mei 98, banyak wanita yang diperkosa dan hamil dari hasil pemerkosaan. Banyak yg berdebat apakah boleh bayi dari hasil pemerkosaan itu di aborsikan? saya secara pribadi menolak aborsi, karena bagaimanapun itu tindak pembunuhan, namun bagaimanakah nasib si ibu yang sudah menderita trauma berat? apa lagi ketika si anak dilahirkan saya yakin akan mempengaruhi mental si ibu ketika melihat anak tersebut. Dan bagaimana pandangan jika ketika ada kasus yang dimana ada seorang ibu yang saat melahirkan dalam keadaan kritis dan hanya memiliki 2 pilihan, ibunya yang meninggal atau anaknya yang mati? Apakah yang harus dipilih oleh kita sebagai orang percaya? Terima kasih, di mohon jawabannya.

 

Micky

 

JAWAB:

[CKM]:

1a.saya memiliki pertanyaan. beberapa waktu yang lalu saya dan teman-teman sempat membahas soal kerusuhan mei 98, banyak wanita yang diperkosa dan hamil dari hasil pemerkosaan. Banyak yg berdebat apakah boleh bayi dari hasil pemerkosaan itu di aborsikan? saya secara pribadi menolak aborsi, karena bagaimanapun itu tindak pembunuhan, namun bagaimanakah nasib si ibu yang sudah menderita trauma berat? apa lagi ketika si anak dilahirkan saya yakin akan mempengaruhi mental si ibu ketika melihat anak tersebut.

Jawab:

1a. Pertama, secara umum orang berdosa cenderung melakukan aborsi ketika ia hamil di luar nikah. Hal itu dikarena­kan rasa malu dan sangat mengganggu kehormatan keluarga atau rencana studinya. Alasan aborsi adalah janin itu bukan manusia atau belum manusia. Di sini kita melihat bahwa aborsi adalah tindakan yang egois dan tidak bertanggung jawab. Maka perlu dengan tegas dinyatakan bahwa aborsi seperti ini adalah dosa dan sama sekali tidak boleh dilakukan, karena membunuh manusia yang tidak mempunyai kekuatan untuk melawan. Seks itu karunia Tuhan yang indah. Tetapi jika seks disalahgunakan maka akan menjadi hal yang paling bobrok di dalam sejarah manusia. Tuhan dengan bijaksana agungnya menciptakan tubuh manusia dengan sedemikian indah sehingga bisa bergerak dengan lincah ketika melakukan hubungan seks. Sayang manusia tidak menyadari anugerah ini, melainkan hanya mau menikmati seks tanpa mau bertanggung jawab. Itu sebabnya kekristenan tidak merestui seks pranikah. Hubungan seks sebelum nikah cenderung membuat orang lari dari kewajibannya. Oleh karena itu jangan mencoba-coba untuk mencicipi buah terlarang dan memungkirinya di hadapan Tuhan. Hendaklah kita menjadi dewasa dengan:

a) punya tanggung jawab cukup;

b) mengasihi sesama tanpa ego; dan

c) berani melewati keseng­saraan yang sanggup dia pikul.

Mengapa orang tega membunuh janin yang tidak punya kekuatan untuk melawan? Karena dia tidak mau bertanggung jawab, takut aibnya diketahui orang.

Jadi, sikap Kristen sangat tegas, bahwa aborsi merupakan suatu pelanggaran terhadap ketetapan Allah. Aborsi bukan merupakan pilihan Kristiani dalam kasus apapun.

Kedua, Tetapi bagaimana jika seorang wanita melakukan aborsi karena korban tidak tahan akan kepedihan dan beban berat akibat diperkosa? Haruskah dia bertanggung jawab untuk benih pria yang dimasukkan secara paksa ke dalam rahimnya?

Jawabannya tidak sekadar hanya boleh atau tidak, tetapi tujuan utama dari etika sebenarnya adalah shipping our character, jadi kita harus berpikir secara ethical.

 

Kasus kehamilan akibat pemerkosaan, memang sangat menyengsarakan si korban, sebab akan memberi luka batin yang lebih parah ketimbang tidak terjadi kehamilan Oleh karena itu tidak heran bila muncul kecenderungan melaksanakan pengguguran kandungan, di mana tindakan seperti ini minimal dianggap sebagai salah satu upaya terapi terhadap si korban. Tetapi perlu dipertanyakan, apakah tindakan pengguguran kandungan itu akan memecahkan persoalannya dan merupakan tindakan yang tepat serta dapat dipertanggungjawabkan secara moral? Jawabannya tidak mudah.

 

Ada yang menarik bahwa menurut penelitian, sebenarnya kasus kehamilan sebagai akibat tindak pemerkosaan sangat jarang terjadi. Seperti penelitian kasus pemerkosaan di Yugoslavia, dari 2.000 kasus ternyata tidak terjadi kehamilan. Kasus yang sama sebanyak 3.500 kali di Minneapolis dan St.Paul, juga diberitakan tidak terjadi kehamilan dan masih banyak lagi di lokasi lain. Tetapi andaikata ada yang hamil, maka seperti dicatat oleh John Jefferson Davis hanya sekitar nol sampai 2,2 persen dari kasus pemerkosaan yang terjadi. Ada beberapa kemungkinan sebagai penyebab jarangnya terjadi kehamilan dalam kasus pemerkosaan baik dari faktor fisik maupun fisiologi:

 

1. Tindak pemerkosaan terjadi tidak tepat pada hari subur dari si korban (sel telur yang sudah siap dibuahi).

 

2. Dalam penelitian tentang kasus ini disimpulkan bahwa biarpun tindakan pemerkosaan terjadi tepat pada saat subur, ternyata hanya satu dari sepuluh kasus pemerkosaan yang membuahkan kehamilan.

 

3. Tindakan pemerkosaan merupakan tindakan hubungan seksual yang abnormal, sehingga sering organ-organ seks tidak berfungsi seperti yang seharusnya, seperti terjadi kegagalan ejakulasi.

 

4. Beberapa korban pemerkosaan sempat minum pil kontrasepsi.

 

5. Beberapa faktor lain yang menjadi penyebab ketidaksuburan si korban

 

 

Maka aborsi untuk korban pemerkosaanpun tidak boleh dengan pertimbangan:

 

 

 

Janin yang ada dalam kandungan, sekalipun merupakan hasil tindakan pemerkosaan adalah suatu pribadi manusia. Dia bukan bagian dari diri ibunya. Dia hadir bukan karena keinginannya dan juga ia tak dapat menolak kehadirannya. Maka siapapun dia, keberadaannya tidak dapat dikatakan sebagai kesalahannya. Dia adalah suatu pribadi yang tidak bersalah.

 

Pemerkosaan memang adalah tindakan yang tidak adil, karena adanya perlakuan semena-mena dari seseorang yang lebih kuat terhadap orang lain. Tetapi dengan melakukan pengguguran kandungan, ini juga tindakan tidak adil dari seorang atau beberapa pribadi terhadap pribadi yang lain (janin), karena telah terjadi tindakan semena-mena terhadap suatu pribadi yang tidak berdaya. Janin adalah suatu pribadi manusia yang sangat lemah, bahkan sangat tergantung pada uluran tangan manusia lain, secara khusus ibunya, tetapi dia juga termasuk pribadi yang dilindungi Allah.

 

Kesulitan serta penderitaan yang dihadapi oleh korban-korban tindak kekerasan seksual baik secara lahir maupun batin adalah nyata, maka yang dibutuhkan bukan hanya larangan melakukan tindakan pengguguran saja, tetapi perlu ada tindakan lain yang mampu menolong mereka mengatasi persoalanpersoalan yang muncul. Dalam hal ini secara khusus komunitas Kristen atau gereja perlu peduli terhadap kasus tindak kekerasan seperti ini dengan memberikan uluran tangan bagi mereka yang sedang membutuhkan bantuan baik secara langsung maupun tidak. Bantuan ini dapat diwujudkan dalam berbagai macam bentuk, yang bertujuan memberikan terapi, baik secara fisik, mental, maupun rohani bagi si korban perkosaan, seperti pelayanan konseling, medis dan lain-lain.

Manusia adalah pengelola, bukanlah tuan atas kehidupan. Manusia harus menyadari betapa pentingnya gerakan pro-life yang dengan tegas memilih kehidupan dan menolak aborsi. Pendirian Pro-Life Centre sangat dibutuhkan dan bermanfaat dalam menawarkan pertolongan dalam memberikan informasi dan bimbingan mengenai bahaya aborsi.

Pro-Life Centre diperlukan untuk memberikan nasihat dan pendampingan berharga bagi seseorang yang tengah menghadapi kemelut dengan mencari dan memberikan solusi ketimbang membunuh melalui aborsi yang keji dan sadis. Pelayanan konseling sangat penting untuk kampanye pelarangan aborsi.

Demikianlah beberapa pertimbangan etis berkenaan dengan perlakuan terhadap wanita korban perkosaan, dan khususnya terhadap janin dalam kandungan akibat tindak kekerasan seksual tersebut.

 

b. Dan bagaimana pandangan jika ketika ada kasus yang dimana ada seorang ibu yang saat melahirkan dalam keadaan kritis dan hanya memiliki 2 pilihan, ibunya yang meninggal atau anaknya yang mati? Apakah yang harus dipilih oleh kita sebagai orang percaya? Terima kasih, di mohon jawabannya.

 

Jawab:

 

Aborsi secara medis dapat dibenarkan untuk kasus kehamilan tubal dimana pilihannya nyawa ibu atau bayinya. Secara moral dibenarkan mengambil setiap tindakan pencegahan medis untuk menyelamatkan nyawa sang ibu. Artinya adalah aborsi yang dilakukan bukan seperti yang dimaksudkan karena beberapa alasan:

 

Pertama, tujuannya bukanlah untuk membunuh bayi; maksudnya adalah untuk menyelamatkan nyawa sang ibu.

 

Kedua, ini adalah masalah nyawa ganti nyawa, bukan satu situasi dimana ada permintaan untuk aborsi.

 

Ketiga, ketika hidup seseorang terancam, seperti sang ibu, seorang memiliki hak untuk mempertahankannya atas dasar membunuh untuk membela diri.

 

John Stott mengatakan, “Menurut tradisi kristiani, nyawa seseorang boleh dicabut demi melindungi nyawa orang lain, misalnya dalam ikhtiar bela diri; tetapi tidak berhak membawa maut ke dalam suatu situasi dimana tidak ada maut dan ancaman maut”.