saya baru saja dipaksa untuk berdoa/sembayang untuk orang mati, akhirnya saya ikut dengan terpaksa dan dengan asal2an saja (yang penting tidak sujud didepan peti mati). tapi saya pegang dupanya. Apakah saya sudah melakukan dosa? Selain itu bagaimana cara menghadapi paksaan seperti ini ? tolong jawabannya :)

XHPO

JAWAB:

[DSB]:

Saya sangat mengerti dengan apa yang dialami Sdr karena saya pun berasal dari keluarga Chinese yang totok masih mengikuti kepercayaan Kong Hu Cu sehingga memegang teguh sembahyang kepada nenek moyang. Tradisi tersebut di banyak keluarga menciptakan konflik dengan anak-anak generasi selanjutnya yang beragama Kristen.

Namun kesulitan yang kita alami, perasaan dan pikiran kita tidaklah relevan dengan apa yang benar yang harus dilakukan. Acuan kita tidak boleh yang lain selain Firman Tuhan itu sendiri. Firman Tuhan mengatakan:

Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.  Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu,…

(Keluaran 20:3-5)

Perintah Allah yang pertama dan yang kedua ini sangat jelas memberikan perintah kepada kita untuk tidak berkompromi dalam menyembah Allah. Hanya Tuhan Allah bernama Yesus saja yang patut kita sembah. Apapun yang lainnya termasuk nenek moyang tidak boleh kita sembah dengan cara apa pun. Hanya Allah kita saja yang boleh disembah, tidak ada yang lain, dan berapa pun harga yang harus dibayar untuk mempertahankan sikap ini haruslah kita bayar sebagai pengikut Kristus yang sejati.

Bagaimana apabila kita sebagai anak apabila dipaksa oleh orang tua kita untuk memegang hio dan sembahyang kepada nenek moyang? Apakah boleh kita ikut-ikutan saja memegang hio dan dalam hati tidak menyembah nenek moyang?

Alkitab sudah memberikan contoh peristiwa yang kurang lebih sama dengan pergumulan yang kita hadapi ini. Peristiwa tersebut adalah bertobatnya panglima raja Aram yang bernama Naaman setelah disembuhkan oleh Tuhan secara mujizat melalui tangan Elisa di sungai Yordan. Peristiwa ini dicatat dalam 2 Raja-raja pasal 5.

Saya akan mengutip dialog terakhir dari Naaman dan Elisa di 2 Raja-raja 5:15-19

Naaman: “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!”

Elisa: “Demi TUHAN yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan, sesungguhnya aku tidak akan menerima apa-apa.”

Naaman: “Jikalau demikian, biarlah diberikan kepada hambamu ini tanah sebanyak muatan sepasang bagal, sebab hambamu ini tidak lagi akan mempersembahkan korban bakaran atau korban sembelihan kepada allah lain kecuali kepada TUHAN. Dan kiranya TUHAN mengampuni hambamu ini dalam perkara yang berikut: Apabila tuanku masuk ke kuil Rimon untuk sujud menyembah di sana, dan aku menjadi pengapitnya, sehingga aku harus ikut sujud menyembah dalam kuil Rimon itu, kiranya TUHAN mengampuni hambamu ini dalam hal itu.

Elisa: “Pergilah dengan selamat!”

Mengutip perkataan Ravi Zacharias, seorang apologetics terkenal:”Elisa tidak menjawab dengan “boleh” atau “jangan lakukan hal itu”, melainkan mengatakan “Pergilah dengan selamat!”. Ini sama dengan mengatakan “Pergilah, dan Tuhan besertamu!” artinya pada saat yang tepat Tuhan akan menuntun Naaman apa yang harus dilakukan dan Tuhan akan memberikan kepadanya kekuatan.

Hal ini juga berlaku untuk kita semua yang sama-sama menanggung penderitaan yang serupa. Berdoalah dan berserahlah kepada-Nya, Dia akan menuntun Sdr XHPO untuk melakukan yang benar pada saat yang tepat.

Untuk menutup jawaban saya terhadap pertanyaan saudara, ada sebuah kisah nyata yang pernah diceritakan kepada saya. Ada seorang anak yang telah menjadi Kristen dengan sungguh-sungguh. Orang tuanya masih bukan orang percaya dan setiap tanggal tertentu mereka meminta si anak untuk memegang hio dan sembahyang kepada nenek moyang dari keluarga tersebut. Si anak bergumul dengan keras mengenai apa yang harus dilakukannya. Akhirnya pada saatnya tiba, orang tuanya meminta si anak untuk sembahyang di depan foto kakek/neneknya. Batin si anak memberontak, dan akhirnya si anak mengatakan bahwa dirinya telah menjadi Kristen dan tidak diperbolehkan memegang hio lagi.

Betapa marahnya sang Papa mendengar perkataan anaknya, dia memarahi dan menghukum anak tersebut. Namun sang anak pun tak bergeming, dia tetap pada keputusannya untuk menaati Kristus dan tidak menyembah allah lain. Papanya pun sungguh marah dan sangat heran dengan keras kepalanya anaknya.

Dengan berlalunya waktu, tiap kali waktu sembahyang tiba, si anak selalu menolak untuk memegang hio dan selalu si anak mendapatkan hukuman dari Papanya. Tapi lambat laun Papanya menyadari 1 hal: sikap  si anak setelah jadi Kristen berubah. Si anak telah berubah dari anak nakal menjadi anak yang baik. Singkat cerita Papanya pun mengatakan kepada anaknya itu: “Papa ingin tahu siapa Yesus yang kamu sembah”. Akhirnya dari kesaksian hidup anak tersebut, sekeluarganya menjadi percaya.

Sdr XHPO, saat kita memutuskan untuk mengikut Yesus, kita telah berpisah dan menjadi musuh dengan dunia. Karena itu, sepanjang hidup kita sebagai orang Kristen kita akan menghadapi berbagai pertentangan dengan arus dunia yang bengkok ini. Gunakanlah kondisi tersebut sebagai kesempatan bagi kita untuk menunjukkan perbedaan kita sebagai pengikut Kristus dengan dunia. Kesempatan ini juga yang dapat membawa kesempatan lebih lanjut bagi kita untuk memberitakan Injil. Namun penting untuk diingat bahwa kesaksian Injil kita tidak akan berarti apabila kesaksian hidup kita tidak menunjukkan sikap sebagai orang Kristen yang baik.

Demikian kita, saat diminta untuk sembahyang dengan hio, tolaklah dengan halus, tanpa kompromi dan dengan tabah kita jalani hukuman yang diberikan kepada kita. Namun dalam berbagai kesempatan yang lain, patuhilah orang tua kita. Patuhilah sungguh-sungguh segala perintah orang tua yang lain kepada kita dan berbuatlah lebih untuk mereka. Suatu saat mereka akan mampu melihat Kristus dalam diri kita dan menjadi percaya.