Dear Sophia, apakah meditasi kristiani itu sesuai dengan Firman Tuhan? Apa bedanya meditasi kristiani dengan kegiatan penyembahan?

Yoel

 

JAWAB:

[CKM]:

Menurut Ir.Herlianto menditasi adalah,”Bagian yang tidak terpisahkan dari latihan untuk membangkitkan ‘kekuatan batin‘ dalam diri manusia dan yang ditujukan untuk mencari ketenangan hidup, relaksasi, dan kelepasan. Dalam agama kebatinan (pantheis/mistik) maupun yang mempercayai animisme dan magisme, praktek meditasi atau yang sekarang diperhalus disebut kontemplasi atau konsentrasi, merupakan salah satu cara populer untuk membangkitkan ‘energi vital/tenaga hidup‘ dalam diri manusia disamping cara lain seperti latihan pernafasan dan gerakan tubuh.”

Umumnya dikatakan bahwa meditasi bisa diikuti oleh pengikut semua agama karena ditujukan kepada ‘Yang SATU itu’, tetapi dari praktek maupun yang diajarkan, agama di balik meditasi adalah agama pantheistik Hindu, Buddha atau Tao bahkan Merta melatih juga mantera Hindu, sedangkan yang disebut ‘Yang SATU itu’ adalah kekuatan/nafas semesta tidak berpribadi dan manusia adalah sebagian dari itu, atau dapat disebut bahwa kalau ‘Yang SATU itu’ disebut Tuhan, maka diri manusia juga sama dengan Tuhan. Shirley McLaine, mewakili faham New Age, menyebut  dirinya‘I am God,’ dan dalam serial Star Wars disebut “May The Force be with you.”

Banyak orang mempertanyakan “bolehkan orang Kristen bermeditasi?” Soalnya dalam usaha inklusivisme universalistis dan sinkretisme, ‘Yang SATU itu’ dianggap Tuhan semua agama, dan bagi umat Kristen, baik konsentrasi mapun meditasi dikaburkan dengan menerjemahkan tujuannya menuju ‘Kristus.’ Ini merupakan strategi misi agama mistik yang dengan mudah memasuki agama Kristen.

Situs Christian Meditation sekalipun ingin menghadirkan meditasi gaya kristen, tapi situsnya memuat rujukan ke ‘Mindfulness Mediation’ yang bermisi ‘to create a community of compassionate individuals in learning how to connect with their spiritual selves through meditation.’ Jadi, Yang SATU itu tidak lain identik dengan ‘spiritual self’ dalam diri manusia. Untuk diketahui bahwa situs Mindfulness Meditation memuat gambar patung Buddha bermeditasi, dan merujuk ke ‘Buddhisme Meeting group’ dan ‘Zen Meditation group.’

Jadi bolehkah orang Kristen bermeditasi?

Pengertian meditasi yang kekrsitenan mengerti dengan di luar kekristenan mengerti, berbeda. Meditasi bisa berarti merenung atau samadi, dan ternyata penggunaan nama itu di Alkitab bahasa Inggris berarti lain dibandingkan penggunaannya dalam agama lain, sedangkan praktek meditasi Kristen yang umum dipraktekkan setali tiga uang dengan meditasi mistik, kecuali istilahnya diganti berbau kristiani.

Dalam Alkitab bahasa Inggris (Mazmur) istilah ‘meditate’ dalam bahasa Indonesianya disebut merenungkan Taurat (Yos 1:8;Maz.1:2), merenungkan Tuhan (Maz 63:7), merenungkan perbuatan Tuhan (Maz.77:13), merenungkan titah Tuhan (Maz 119:15,78), merenungkan ketetapan Tuhan (Maz 119: 23,48), merenungkan Janji Tuhan (Mz 119:148), dan merenungkan pekerjaan Tuhan (Maz 143:5). Dari ayat-ayat tersebut kita dapat melihat bahwa ‘meditasi’ dalam Alkitab Inggris selalu dikaitkan dengan ‘adanya tujuan tertentu‘ dalam teologi Kristen, apakah itu merenungkan Taurat atau Tuhan sendiri. Bisa juga untuk merenungkan perbuatan, titah, ketetapan, janji atau pekerjaan Tuhan, jadi tujuannya jelas, dan meditasi ini dilakukan dalam doa atau saat teduh. Meditasi Alkitab ditujukan kepada Tuhan yang berpribadi, firmannya atau perintahnya dalam hubungan yang jelas antara ‘ciptaan dan penciptanya.

Meditasi Kristen haruslah di dasarkan pada keinginan pembangunan relasi ketaatan dari roh kita terhadap Roh Allah. Inilah relasi roh ke Roh. Tuhan Yesus mengatakan bahwa barangsiapa mau menyembah Allah, hendaklah ia menyembah Dia dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:23-24). Inilah ide utama meditasi. Meditasi bukan usaha menenangkan diri, atau bahkan dalam ide New Age adalah “menyatu dengan Allah dan menjadi Allah.†Meditasi bukan sarana agar kita lebih sakti dan mempunyai berbagai kuasa supranatural. Itu bukanlah ajaran firman Tuhan. Firman mengajar agar melalui meditasi, kita semakin taat kepada Allah, semakin tidak menjadi serupa dengan dunia, semakin memikirkan pikiran Allah, dan semakin hidup dalam kebenaran (Mzm. 119; Mat. 16:21-24).

Kesimpulannya, meditasi dalam Kekristenan bukanlah mengosongkan diri dan mencari ketenangan diri, lepas dari semua problema. Meditasi dalam Kekristenan adalah membangun relasi dengan Allah dan firmanNya. Alkitab mengajar kita untuk merenungkan firman Allah siang dan malam. Inilah meditasi Kristen. Inilah pembangunan relasi yang aktif dengan Allah. Itu alasan Tuhan Yesus mengajarkan: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka sekaliannya akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33).

 

Iman Kristen adalah iman yang spiritual, bukan sekuler. Sangat perlu memang untuk memelihara keseimbangan antara pengertian rasional, pengajaran doktrin, kehidupan jasmaniah, tetapi perlu juga relasi yang hidup dengan Allah, berdoa, saat teduh atau meditasi Kristen, serta waktu untuk secara pribadi merenungkan firman Tuhan. Diperlukan keseimbangan untuk makanan jasmani kita dan juga makanan rohani kita. Tidak cukup kita memberi makan jasmani kita, sementara kerohanian kita menjadi kering.

Spiritualitas Kristen merupakan bentuk spiritual yang diminta oleh Alkitab. Motivasi dan formatnya berbeda sama sekali dari yang dunia tawarkan dan ajarkan. Adalah kesalahan besar jika kita mencampur-adukkan format spiritualitas Kristen dengan spiritualitas dunia yang berbau mistik dan spiritisme.

Memang perlu disadari bahwa menurut Alkitab relasi spiritual bisa dibangun dengan Allah, tetapi juga dengan setan. Jika kita tidak mampu memilah dengan baik, kita akan mudah terkecoh dan jatuh kepada spiritualitas palsu yang disodorkan oleh setan.

Maka pencarian spiritualitas Kristen perlu dikerjakan dengan kecermatan yang tinggi, khususnya kembali kepada kebenaran firman Tuhan sebagai basis epistemologis bagi iman kita. Tanpa kembali kepada basis Kitab Suci maka pencarian spiritualitas Kristen bagaikan upaya mencari seekor kelinci di tengah rimba raya yang luas. Kemanapun melangkah bisa dianggap sebagai langkah yang benar, tanpa tahu persis di mana kelinci itu sedang berada. Amin.