Shalom.
saya seorang kristiani begitu pula pacar saya. kami sudah pernah melakukan ciuman, sekwilda dan petting, tp tidak sampai berhubungan karena kita sudah sepakat tidak akan melakukan sampai kita menikah nanti karena kita tidak mau sampai terjerumus dalam dosa. Yang ingin saya tanyakan ialah apakah yang kita lakukan ini salah?? kita sadar apa yang kita lakukan dan juga mengerti agar tidak sampai lewat dari batas. kita pacaran didasarkan sayang bukan nafsu, mungkin ada yang bilang kalau itu adalah nafsu, tp apakah suami istri yang melakukan hubungan intim itu tidak didasarkan nafsu juga?? apakah mereka juga berdosa??
Terima kasih

NN

JAWAB:

[DSB]:

Dear NN,

Kami bersyukur kalau Anda masih menyadari batas-batas berpacaran yang baik. Pertanyaan Anda ini sendiri menunjukkan bahwa Anda ingin mempunyai pedoman yang benar bagaimana orang Kristen berpacaran.

Mengenai sekwilda dan petting, sekali lagi khususnya bagi kita orang Asia sudah tidak perlu diperdebatkan lagi apakah dibenarkan (maaf) meraba-raba dan (maaf) menggesek-gesekkan dalam status masih pacaran (walaupun alasannya sayang/cinta). Dan mengenai Kissing pun kami rasa sudah cukup jelas dalam bahasan Ciuman itu DOSA.

Namun mungkin yang menjadi ganjalan di hati NN adalah bagaimana dengan orang yang sudah menikah, bukankah mereka pun melakukan hal yang sama yang didasarkan oleh nafsu (lust) juga?

Sdr NN, sama seperti semua orang membutuhkan nafsu makan untuk dapat makan, demikian juga seks membutuhkan lust (nafsu) untuk dapat melakukannya. Keinginan untuk melakukan hubungan badan memang merupakan keinginan yang alami, yang secara natural akan selalu ada pada diri pria dan wanita yang saling tertarik satu dengan yang lainnya.

Seks sendiri merupakan desain dan rencana Allah untuk mengembangkan jumlah manusia di bumi ini (Kejadian 1:28) bahkan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. Maka lust dan seks bukanlah suatu dosa. Nafsu dan dosa benar-benar tidak merupakan suatu kesalahan dengan 1 ketentuan saja yaitu: harus dilakukan dalam konteks pernikahan.

Waktu nafsu kita ikuti keinginannya tidak dalam konteks pernikahan, hal itu lah yang akan merusak rencana Allah akan pernikahan monogami yang kudus. Dan hal ini berarti dosa.