Salom,

Saya baru tahu ada blog ini. Setelah saya membaca beberapa artikel yang dimuat pada blog ini, saya merasa semua informasi yang diberikan cukup baik dan mencerahkan. Blog seperti ini sangat berguna bagi semua orang yang haus akan kebenaran firman Tuhan.

Jika tidak keberatan saya juga ingin mengajukan pertanyaan berikut yang mungkin selama ini mengusik pikiran saya. Siapakah istri kain sebenarnya dan dari manakah datangnya ajaran poligami? Apakah poligami sudah tidak diperbolehkan lagi di masa perjanjian baru hingga sekarang?

Terima kasih

Tumpal

JAWAB:

Mengenai istri Kain, hal ini pernah kami bahas di posting sebelumnya, silakan baca Siapa Istri Kain?

[CKM]:

Sebenarnya prinsip monogami sudah tampak jelas di dalam kitab Kejadian,  sejak Allah menciptakan manusia. Allah hanya menciptakan satu Adam, dan  hanya satu Hawa; dan mereka itu diciptakan menurut gambar dan rupa (peta dan  teladan) Allah sendiri. (Man is the image of God). Kemudian Allah berfirman  kepada mereka berdua (hanya kepada mereka berdua, satu laki-laki dan satu  perempuan): “Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di  udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kej. 1:28). Jelas,  sejak pertama diciptakan, manusia sudah ditetapkan untuk menjadi makhluk  yang menganut prinsip monogami.

 Polygamy / beristri lebih dari satu muncul untuk pertama kalinya dalam Kej 4:19. Ini jelas bertentangan dengan Kej 2:24 yang menyatakan bahwa suami istri menjadi satu daging. Pernikahan sebetulnya merupakan sesuatu yang baik dari Tuhan, tetapi lalu diselewengkan menjadi polygamy. Beberapa orang saleh dalam Perjanjian Lama melakukan polygamy, seperti Abraham, Yakub, Daud, Salomo, dan yang lainnya semua mempunyai banyak istri dan ini bukan untuk ditiru. Berdasarkan hal ini banyak orang lalu berkata bahwa polygamy memang diijinkan oleh Tuhan. Tetapi penafsiran ini dilakukan tanpa menghiraukan ayat-ayat seperti Roma 7:2-3 yang mengatakan bahwa pernikahan kedua merupakan suatu perzinahan, kecuali kalau pasangannya telah mati..

Akibatnya polygami yang diraktekan mereka, akibatnya sangat fatal. Contohnya Daud mengalami kesedihan yang luar biasa  karena kelakuan seluruh anaknya yang ‘amburadul’. Daud adalah orang yang diperkenan Tuhan;  satu-satunya hal yang tidak diperkenan Tuhan di dalam dirinya adalah  perbuatan poligininya tersebut. Sementara itu, Perjanjian Baru mencatat terjadinya poliandri (Yoh. 4:18). Jadi di dalam peristiwa poligami, baik di dalam Perjanjian Lama maupun  Per-janjian Baru, Allah menunjukkan kasihnya yang lebih besar daripada segala  pelanggaran manusia. Peristiwa poligami diizinkan terjadi di bawah kontrol  kedaulatan Allah yang mutlak; tetapi manusia harus menanggung akibatnya yang  menyengsarakan.