Dear Ask Sophia…..
Saya mau tanya perihal ada tertulis bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera bukan rancangan kecelakaan. nah bagaimana dengan orang2 kristen yg mengalami kecelakaan bahkan sampai mati apa itu jg bagian dr rancangan Tuhan? contohnya belum lama ini ada rombongan gereja yg baru saja melakukan ibadah doa puasa tapi begitu perjalanan pulang terjadi kecelakaan yg memakan korban jiwa. Jadi bagaimana ya saya agak bingung dengan perihal rancangan Tuhan ini. Mohon penjelasannya ya….
Terimakasih,
Marilyn
JAWAB:
[MC]:
Dear Marilyn,

Tentu masih segar ingatan kita mengenai peristiwa kecelakaan bus di Bogor yang menyebabkan banyak orang meninggal. Padahal bus tersebut adalah rombongan jemaat sebuah gereja yang baru saja pulang dari acara retret doa.

Yeremia 29:11 mengatakan bahwa Tuhan memiliki rancangan-rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan. Kecelakaan di sini tentu saja tidak sesempit kecelakaan lalu lintas atau kecelakaan kerja. Alkitab NIV menerjemahkan kata tersebut dengan “harm” atau bahaya / kejelekan.

Kalau begitu, bila rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera, mengapa banyak orang Kristen yang dalam hidupnya mengalami penderitaan, termasuk kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan korban jiwa orang Kristen?

Pertama-tama, marilah kita teliti Yeremia 29 yang menjadi dasar pembicaraan kita.

Janji  dalam ayat 11 diberikan kepada orang Israel saat mereka berada di pembuangan di Babel. LAI memberikan judul perikop tersebut “Surat kiriman kepada orang-orang buangan di Babel”. Ayat 4 turut mempertegas hal ini. Justru pertanyaan yang Marilyn tanyakan adalah pertanyaan yang ditanyakan oleh orang-orang Israel saat itu, yaitu mengapa umat Allah menderita, bahkan dalam konteks orang Israel, mereka dibuang ke tanah yang jauh dari tanah yang telah dijanjikan Allah.

Nabi-nabi palsu jaman itu menyatakan bahwa orang Israel tidak perlu kuatir, bahwa mereka akan segera kembali ke Israel (ayat 8-9). Sebaliknya Tuhan menyatakan bahwa Ia telah menetapkan masa bagi pembuangan tersebut, yaitu 70 tahun (ayat 10), maka Tuhan memerintahkan mereka untuk berkarya di tempat di mana Tuhan membuang mereka (ayat 5-7).

Jadi dengan jelas kita mengetahui bahwa penderitaan bukanlah sesuatu yang tidak akan muncul dalam kehidupan umat Allah. Sebaliknya, bila kita melihat Kristus, bukankah Ia adalah umat Allah yang paling taat yang pernah ada dalam sejarah? Namun, bukankah tidak pernah ada yang menderita seberat yang Kristus alami di kayu salib?

Demikian juga dengan Paulus, ia kerap kali mengalami penderitaan dan kecelakaan “lalu lintas”, yaitu kapal karam. 2 Korintus 11:24-28 dengan jelas mencatat hal-hal tidak mengenakan yang ia alami. Tetapi, bukankah Paulus yang mengatakan bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Roma 8:28)?

Jadi bagaimana kita menengahi janji-janji Tuhan tersebut di tengah-tengah kenyataan penderitaan yang kita alami?

Kita harus selalu ingat dan percaya bahwa apa yang Tuhan rencanakan pasti indah, pasti membawa damai sejahtera. Tetapi kita harus membedakan antara tujuan dan cara.

Tujuan (rencana) Tuhan adalah damai sejahtera, tetapi cara yang Tuhan pakai seringkali melibatkan rasa sakit (penderitaan). Misalnya saja kayu salib, demi tercapainya keselamatan, maka Yesus harus menderita. Namun apakah rancangan Tuhan saat mengijinkan Yesus disalib akan kita katakan bahwa itu bukan rancangan damai sejahtera? Tentu tidak, bukan?

Pada akhirnya, bagi umat Allah, segala hal yang dialami sebenarnya adalah untuk kebaikan. Terkadang kebaikan itu bukanlah untuk orang yang menderita tersebut, tapi untuk kebaikan orang lain, seperti yang telah kita lihat dalam hidup Yesus dan Paulus (yang menderita karena mengabarkan Injil). Dan ingatlah bahwa Tuhan akan selalu menyertai kita dalam apa yang kita alami.

Panggilan kita bukanlah untuk mengerti mengapa penderitaan tersebut terjadi, panggilan kita adalah untuk tetap berpegang teguh pada iman dan kasih kita kepada Allah serta berdoa agar Tuhan memakai penderitaan (dan juga kebahagiaan) kita untuk kemuliaan Allah semata.

[CKM]:

 Ini adalah mengenai problem of evil dan Theodicy.

1. Kontek dan pengertian mengapa sampai timbul Yeremia 29:11.

Tema utama dalam Kitab Yeremia berhubungan dengan kedaulatan TUHAN. Sejak awal pemanggilan Yeremia sudah dijelaskan bahwa Yeremia tidak perlu takut kepada manusia sebab TUHAN sendiri akan menyertai dia (1:8, 17, 19). Kedaulatan TUHAN juga dinyatakan melalui kuasa TUHAN dalam menegakkan maupun meruntuhkan suatu bangsa (1:10). Hal ini tidak hanya berlaku untuk bangsa Yehuda, tetapi semua bangsa, sebagaimana Yeremia dipanggil untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa (1:5).

Tujuan penulisan Kitab Yeremia dilihat secara umum fungsinya mirip dengan tujuan kitab-kitab para nabi yang lain. TUHAN memanggil Yeremia untuk menegur bangsa Yehuda yang melakukan berbagai macam dosa: penyembahan berhala (2:5-3:5), ketidakadilan (5:20-31) dan penyalahgunaan ibadah (7:8-31). Kepada mereka Yeremia menyampaikan peringatan dari Allah berupa penghukuman melalui bangsa Babel. Mereka dipanggil untuk kembali kepada TUHAN (3:12-13) dan mengubah jalan mereka (7:3-7). Ketika mereka tetap tegar tengkuk, maka hukuman TUHAN pun akhirnya menjadi kenyataan (29:1-2). Bagaimanapun, TUHAN tetap setia kepada perjanjian-Nya. Ia memiliki rencana yang indah di balik semua ini (29:11) untuk mengembalikan mereka dari Babel (29:10) dan membangun kota Yerusalem lagi (30:18). Ia bahkan menjanjikan perjanjian yang baru dengan umat-Nya (31:31-34) dengan mendudukkan seorang keturunan Daud di atas tahta (33:15-26) supaya bangsa Yehuda kembali kepada Allah (29:12-14).

Dalam Kitab Yeremia kata “damai sejehatera” merupakan ungkapan favorit bagi bangsa Yehuda yang berada di tengah instabilitas politik dan gejolak peperangan. Situasi ini dimanfaatkan oleh para nabi palsu untuk mengambil hati raja dan semua rakyat. Dengan menggunakan nama TUHAN mereka menubuatkan kelepasan, damai, dan kemakmuran (14:11-16; 23:9-40; 28:1-17). Hal ini semakin memperberat beban Yeremia. Ia tidak disukai oleh bangsanya sendiri justru ketika ia setia menyampaikan berita penghukuman dari TUHAN. Ia sempat stres dengan situasi ini (20:7-10), tetapi TUHAN berjanji melindungi dia (15:15-21). Kedamaian dari TUHAN berbeda dengan yang dijanjikan dunia. Di tengah pembuangan pun TUHAN tetap memiliki rancangan damai sejahtera (29:11). Damai sejahtera sejati berasal dari ketaatan kepada Allah.

Di pembuangan inilah Yeremia menuliskan kitabnya untuk membantu bangsa Yehuda merefleksi ulang semua yang sudah terjadi. Kekalahan dari Babel bukan disebabkan kesalahan atau ketidakberdayaan TUHAN di hadapan para dewa Babel. Semua terjadi karena bangsa Yehuda tidak mau bertobat dan mengandalkan TUHAN. Kitab ini sekaligus mengingatkan orang-orang di pembuangan tentang janji pemulihan yang diucapkan TUHAN sebelumnya. Dengan demikian kita dapat memahami tujuan penulisan kitab sebagai upaya Yeremia untuk menghibur bangsa Yehuda di pembuangan bahwa TUHAN berkuasa mengubah keadaan mereka. Hanya satu yang diminta TUHAN dari mereka: pertobatan!

2. Problem of Evil dan Theodicy

Theodicy adalah usaha orang percaya untuk menjelaskan alasan mengapa ada kejahatan di dalam dunia ciptaan Allah yang berdaulat ini, di satu pihak memiliki kelemahan dan keterbatasannya dalam menjelaskan rasionalitas kepercayaan kepada Allah, tetapi di pihak lain, kita melihat kegunaannya bagi umat percaya. Sering kali berbagai penjelasan Theodicy menjadi penghiburan bagi orang yang beriman. Orang percaya mengakui bahwa ada alasan-alasan tertentu yang dapat kita ketahui mengapa Allah mengizinkan kejahatan dalam dunia ini, walaupun kita mengakui terdapat misteri yang tidak terselami oleh kita di balik masalah ini.

Sebelum menjawab, saya mau mengajak kita berpikir.  Haruskah Allah memberikan penjelasan mengenai masalah kejahatan yang ada di dunia ini?

Tidak harus, karena Alkitab mengajarkan kita bahwa  Allah TIDAK berutang penjelasan atas setiap hal yang Ia lakukan. Ia adalah Tuhan yang berdaulat, adalah standar bagi tindakan-Nya sendiri. Ia tidak tunduk pada penilaian manusia; sebaliknya, penilaian kita harus tunduk pada firman-Nya, sekalipun mungkin pertanyaan kita tak terjawab. Namun demikian, hal ini bukan berarti kita percaya kepada Allah dengan iman yang buta, karena Allah dan Firman-nya dapat dipercaya.

John Calvin di dalam dalam ‘Institutes of the Christian Religion’(Book I, Chapter XVI, no 2 dan 8) menulis,Tetapi setiap orang yang telah diajar oleh bibir Kristus bahwa semua rambut kepalanya terhitung (Mat 10:30) akan melihat lebih jauh untuk suatu penyebab, dan akan menganggap bahwa semua kejadian diatur oleh rencana rahasia Allah.

Apakah ketika kita lebih dekat kepada Allah, kita akan semakin sedikit menderita? Saya meragukannya…Bacalah surat Paulus, bacalah pernyataan Rasul-rasul, apakah ada indikasi ini? Saya meragukannya…Jadi pernyataan dari orang yang mengatakan,”That’s the point! God, too, DOES exist! What happens, is, people don’t go to Him and do not look for Him. That’s why there’s so much pain and suffering in the world.” Saya pribadi meragukan kebenaran kalimat di atas, bukan karena saya suka menderita, tapi karena tidak sesuai dengan keyakinan dan kenyataan kehidupan. Kesimpulan kalimat di atas terlalu gamblang, seolah kekristenan adalah Obat Penghilang Sakit…

Yang kita butuhkan adalah Hikmat dan Pengertian untuk melihat dengan perspektif yang benar dalam dunia penuh derita, dan Kehendak yang diTundukkan untuk Taat kepada Dia ketika kita menghadapi cobaan penderitaan….

Jadi, Mengapa Kesakitan dan penderitaan Masih ada di dunia ini?

1. Ini adalah akibat dari pilihan moral dari manusia yang sudah jatuh dalam dosa…Kalau ingin melenyapkan, lenyapkan semua pilihan moral manusia…

2. Pain diperlukan dalam kehidupan yang tidak adil ini, setidaknya untuk di dunia ini…

3. Berhubungan dengan Maha Baik Allah, Allah sudah menanggung sendiri dalam diriNya akibat dari dosa yang diperbuat manusia….Seandainya Allah tidak berinkarnasi….

4. Semua hal yang terjadi di dunia berada dalam kedaulatan Allah, termasuk rasa sakit dan penderitaan…Kitab penderitaan yang penting dipelajari adalah Kitab Ayub…Bacalah Ayub 38-41…Renungkanlah.. 

5. Kita tetap meyakini bahwa Tuhan itu Mahakuasa atas alam semesta ini. Tidak satu molekul pun di alam semesta ini berada di luar wilayah kekuasaan Tuhan. Tuhan itu juga Mahatahu. Tak seekor burung pun yang jatuh tanpa sepengetahuan Tuhan. Bahkan Tuhan pun tahu jumlah rambut kita.

Raja Nebukadnezar mengakui hal ini, “Allah akan menjadi raja untuk selamanya. Ia berkuasa sepanjang masa. Bangsa-bangsa di dunia tidak berarti. Allah menguasai malaikat di surga dan penduduk bumi. Tak seorang pun dapat melawan kehendak-Nya, tak ada yang berani menanyakan apa yang dilakukan-Nya” (Dan. 4:34-35 BIS). Tidak ada yang berani mempertanyakan kehendak Allah.

Pikiran manusia tidak mampu menyelami maksud Allah di balik berbagai musibah. Namun sebagai orang percaya, kita perlu selalu meyakini bahwa Allah berdaulat atas alam semesta ini. Semua hal yang terjadi itu masih dalam kerangka untuk kebaikan kita, yaitu orang “yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rom.8:28). Charles Spurgeon berkata, “ketika kita tidak mampu memahami karya tangan Tuhan, kita cukup percaya pada hati-Nya.”

 

“Allah yang berhikmat sempurna, mahaadil, dan mahamurah itu sering membiarkan anak-anak-Nya untuk sementara waktu menghadapi berbagai godaan dan kerusakan hati mereka sendiri, untuk menghukum mereka atas dosa-dosa mereka di masa lalu atau untuk membuka mata mereka bagi kekuatan tersembunyi kerusakan dan tipu daya hatinya. Maksud-Nya agar mereka dibuat rendah hati, [2Taw 32:25-26,31; 2Sa 24:1.] dan untuk membuat mereka semakin erat dan terus menerus tergantung pada sokongan dari diri-Nya, dan semakin waspada terhadap segala kesempatan berdosa yang bakal timbul. Di samping itu, ada lagi berbagai tujuan lain yang adil serta kudus.[ 2Ko 12:7-9; Maz 73:1-28; 77:1-12; Mar 14:66-72 bersama Yoh 21:15-17.”] (WCF V.5)