Saya ingin mengerti lebih jauh pandangan Kristen secara Alkitabiah mengenai Sex Equipement/Toys. Sampai sejauh mana kategori Sex Equipment/Toys dipandang masih boleh digunakan ataupun terlarang/berdosa apabila digunakan suami-istri yang sah/monogami (bukan digunakan dengan orang lain yang tidak sah baik secara agama maupun hukum)?

Karena menurut saya, kehidupan sex suami-istri juga perlu disegar-kan (fungsi sebagai relaksasi dan bukan hanya rekreasi/meneruskan keturunan).

Suami-istri sudah saling memahami dan memandang perlu akan hal ini namun takut berdosa.
Mohon diberikan saran/masukan.

JAWAB:

[CKM]:

Paulus berkata dalam 1 Korintus 10:23 “Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.” Lebih lanjut dikatakan dalam Galatia 5:13 “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Sebagai umat percaya kita dipanggil untuk hidup dalam kemerdekaan dengan hati nurani yang bebas dari penghukuman. Kita tidak perlu lagi sibuk dengan urusan membedakan apa yang boleh/tidak boleh. Kita harus berpikir segala sesuatu dalam konteks pantas/tidak pantas. Kita harus melakukan sesuatu yang berguna dan membangun bagi orang lain.

[DSB]:

Dear NN,

Melengkapi jawaban rekan kami di atas, pada intinya kami menghindari menjadikan diri kami sebagai ahli hukum Allah karena Kekristenan tidaklah dibangun berdasarkan hukum, melainkan berdasarkan kasih dan anugerah Allah. Karena itu pertimbangkan keputusan untuk menggunakan/tidak menggunakan sex toys bukan dari sisi hukum Allah (karena memang tidak ada hukum mengenai hal tersebut), tetapi dari pertimbangan berguna atau tidak berguna, membangun atau tidak membangun, dan menjadi batu sandungan atau tidak.

GBU