Dear Sophia..

Aku belum lama ini berpecaran dengan kakak kelasku, kemudian dia menciumku walaupum aku telah bilang ciuman pertama ku untuk permikahanku, dia juga sering menggendong ku dan memangku ku, aku bilang itu dosa, kami tidak melakukan lagi, tetapi iaselalu dan selalu mencoba terus sehingga kejadian itu berulang ulang. Aku sangat menyesal , maka aku putuskan hubungan kami. Apakah aku sudah melanggar kekudusanku , sehingga pernikahanku nanti tidak terberkati ? ( aku pernah dengar,saat akan menikah kita harus mengakui hubungan sudah sejauh mana) , kadng , aku masih samgat mmyesalinya. Aku tidak bisa memaafkan diriku dan merasa tidak berharga. Aku merasa tidak akan ada lagi pria yang mau denganku, apa yang harus aku lakukan?  Apakah masih ada harapan untukku nantinya? Aku sngat takut .. Apakah itu mengartikan aku sebagai bekas orang ?

Gbu
Makasih banyak..

JAWAB:

[DSB]:

Dear E,

E mempunyai standar yang tinggi dalam kekudusan hidup dalam berpacaran, hal ini sungguh luar biasa. Di tengah-tengah jaman dengan moralitas yang sudah bobrok, E berjuang untuk mempertahankan kekudusan yang mahal itu. Bahkan E rela kehilangan orang yang dicintai daripada harus mengorbankan kekudusan tersebut. Kami sangat salut dengan E.

Sdr E, kalau dari pemaparan Anda sepertinya hubungan Anda berhenti sampai sejauh ciuman saja. Hal ini tidak perlu dirisaukan. Anda dan mantan Anda belum melanggar batas “point of no return” atau batas di mana Anda sudah tidak bisa kembali. Batas tersebut ada pada hubungan sex sebelum pernikahan. Selama Anda belum melewati batas tersebut, tidak ada hal apapun yang perlu dikuatirkan. Jangan pernah tidak memaafkan diri atau merasa diri tidak berharga, karena perasaan seperti itu bukan berasal dari Allah melainkan dari iblis. Iblis yang ingin Anda terus merasa bersalah sehinga tidak dapat menikmati penyertaan Tuhan. Ingatlah selalu pada I Yohanes 1:9 yang berbunyi: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Jangan biarkan iblis membuat Anda terus merasa bersalah. karena rasa bersalah yang berlebihan tidak menambah baik diri kita, melainkan akan membuat Anda jauh dari Tuhan  karena rasa bersalah seperti itu membuat Anda berpikir Anda tidak layak menghampiri Tuhan, dekat dengan Tuhan dan melayani Dia. Padahal kita justru harus datang pada Tuhan, dekat dengan Tuhan dan melayani Dia agar kita dapat bertobat dan terus hidup di dalam Dia. Sebaliknya, gunakan rasa bersalah itu untuk terus mengingat bahwa Tuhan sudah memberikan anugerah pengampunan kepada E, bahwa kita yang tidak layak sudah diubah menjadi layak karena Anak Domba Allah yang telah menebus kita, juga bahwa hidup E sudah bukan E lagi, melainkan Kristus dalam E.

Mintalah ampun kepada Tuhan akan apa yang telah dilakukan dengan mantan Anda. Mintalah juga ampun telah tidak percaya bahwa Tuhan sudah mengampuni E. Dan teruslah menjaga hubungan yang kudus dengan siapapun E menjalin hubungan. Segala jerih payah kita di dalam Tuhan tidak pernah sia-sia. (I Korintus 15:58)

AMIN.