Bagaimana membedakan kita sedang beriman, berkhayal, dn sedang berdelusi?

brightmagicianivan

JAWAB:

[MC]:

Antara beriman, berkhayal, dan berdelusi memang seringkali tipis batasannya. Namun perbedaan antara ketiganya sangatlah jauh.

Mari kita mulai dengan berkhayal. Berkhayal adalah TINDAKAN AKTIF dari seseorang. Bila kita sedang mengkhayal, kita jelas SADAR bahwa apa yang kita pikirkan itu sesuatu yang TIDAK NYATA.

Delusi dapat didefinisikan sebagai “a belief that is not true : a false idea” (m-w.com) atau “sesuatu yang dipercayai walaupun tidak benar”.  Dapat disimpulkan bahwa delusi adalah mempercayai sesuatu yang telah terbukti tidak benar dan tidak sesuai dengan realitas yang ada.

Bagaimana dengan iman?

Iman adalah sesuatu yang kita percayai karena kita memiliki bukti nyata bahwa apa yang kita percayai adalah benar dan sesuai dengan kenyataan yang ada di sekitar kita.

Ibrani 11:1 mencatat “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Kata “dasar” di dalam kalimat ini sebenarnya lebih tepat diterjemahkan sebagai “penopang” atau “keyakinan”. Alkitab NIV mencatat “faith is the CONFIDENCE in what we hope for and assurance about what we do not see”

Maka dari itu, iman adalah kepercayaan bahwa Allah akan bertindak sesuai dengan Firman-Nya dan bahwa Ia akan memenuhi janji-Nya.

brightmagicianivan replied:

saya masih bingung dengan perbedaan antara delusi dan Iman

Padahal kalau sepemahaman saya, orang yg mengalami delusi itu merasa dia benar walau faktanya salah

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Kata “dasar” di dalam kalimat ini sebenarnya lebih tepat diterjemahkan sebagai “penopang” atau “keyakinan

Kita mengenal faham theisme dan atheisme
Rasanya mereka berdua saling menuduh salah satunya sedang ber-delusi
dan meng-imani bahwa dirinya benar

Jadi apakah seorang yg berdelusi juga, sedang beriman?

[DSB]: dalam hal ini menurut hemat saya orang atheis maupun orang theis sama-sama bukan berdelusi, melainkan sama-sama beriman pada hal yang berbeda. Theis beriman pada sesuatu yang dipanggil Tuhan, sedangkan atheis beriman bahwa There is NO God. Atheis sama sekali tidak berbeda dengan para penganut agama lainnya. Antar penganut agama pun mempercayai (bukan berdelusi) “allah” yang berbeda-beda, sekalipun kita di Indonesia telah sepakat bahwa hanya ada 1 Tuhan yang benar, namun “allah” mana yang sebenarnya merupakan Tuhan yang Esa itu, kembali kepada iman masing-masing individu. Karena sekalipun setidaknya ada 500 saksi mata yang melihat Yesus bangkit dan naik ke Sorga, tetapi mereka sudah tiada semuanya sekarang, dan tulisan serta kesaksian mereka sampai sekarang sebagian besar manusia tidak mempercayainya. Tepat sekali seperti perkataan Tuhan Yesus dalam kisah mengenai orang kaya dan Lazarus yang miskin:

Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.

(Lukas 16:31)

Kalau begitu mungkin pertanyaannya menjadi bagaimana mengetahui bahwa Yesus benar adalah Tuhan dan Kristus yang hidup? Jawaban atas pertanyaan ini hanya dapat dijawab oleh orang Kristen yang telah lahir baru dan menikmati hubungan yang indah bersama Kristus setiap hari sepanjang hidupnya di bumi dan kelak di Surga.