3. Bagaimana cara menguji kebenaran dan yang berkenan kepada Allah?
saya masih agak bingung, Karena saya sering baca “ujilah segala sesuatunya…” Karena kadang-kadang banyak hal yang kita sebut relatif dan di Alkitab tidak ada.

4. Merokok dan judi apakah termasuk dosa?
Kalau saya pikir-pikir banyak orang yang beranggapan merokok dosa karena merusak tubuh sendiri, berarti jika kita tahu makanan sehat dan olahraga baik untuk tubuh dan tidak melakukannya berarti dosa.
dan Kalau judi saya masih agak bingung kenapa orang-orang beranggapan judi itu dosa, apakah berarti berdagang, forex, dan melamar kerja dalam jumlah banyak termasuk dosa? saya lebih setuju dengan kata salah atau tidak salah dan saya sangat setuju dengan memikirkan pantas dan tidak pantas. tapi kira” kenapa ya bahkan kadang-kadang pendeta pun sering berkhotbah seperti itu ya?

brightmagicianivan

JAWAB:

[DSB]:

Dear BM,

Kami panggil BM saja ya sebagai singkatan nick name yang unik ini. Kami akan coba menjawab pertanyaan 3 dan 4 sekaligus karena saling berkaitan. Benar sekali, I Tesalonika 5:21 mengatakan: “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik”. Ini berarti sebagai anak Tuhan, kita diminta kritis dalam segala hal. Misalnya dalam hal-hal yang telah diterima oleh dunia sebagai hal yang wajar. Misalnya pornografi, kissing, juga merokok, clubbing dan yang lainnya. Hal-hal tersebut mungkin diterima sebagai hal yang biasa dilakukan oleh banyak orang, namun sebagai orang Kristen harus kritis dan menguji apakah hal-hal tersebut baik atau tidak, benar atau tidak dan apakah hal-hal tersebut dapat menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Apakah alat penguji yang dapat kita gunakan? Sekali lagi BM benar juga, ALKITAB adalah hukum dan pedoman tertinggi yang dimiliki oleh orang Kristen karena berisi apa yang Allah kehendaki bagi kita. Kalau begitu bagaimana apabila berhubungan dengan hal-hal yang tidak disebutkan secara gamblang di dalam Alkitab?

1. Prinsip dasarnya tertera pada I Kor 10:23 yaitu “Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.” juga dalam Galatia 5:13 “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Sebagai umat percaya kita dipanggil untuk hidup dalam kemerdekaan dengan hati nurani yang bebas dari penghukuman. Kita tidak perlu lagi sibuk dengan urusan membedakan apa yang boleh/tidak boleh. Kita harus berpikir segala sesuatu dalam konteks pantas/tidak pantas. Kita harus melakukan sesuatu yang berguna dan membangun bagi orang lain. Poin ini sama seperti jawaban akan pertanyaan mengenai sex toys pada https://asksophia.wordpress.com/2013/09/24/sex-toys/

2. Sekalipun prinsip dasar pada poin satu di atas seakan-akan memperbolehkan segala hal, namun ayat-ayat tersebut justru memberikan arti suatu standar yang tinggi diberikan kepada kita. Orang Kristen bukan hanya diminta menjadi baik, namun menjadi yang terbaik. Matius 5:21 – 47 yang berisi standar hidup orang Kristen berkonklusi pada Matius 5:48, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempura”.

Baiklah, ayat-ayat ini lagi-lagi tidak membicarakan hal spesifik mengenai berbagai aturan tertentu. (tentu saja karena Alkitab kita memang bukan merupakan serangkaian hukum yang harus ditepati secara kata demi kata, melainkan Wahyu Allah yang perlu dipahami dan dilihat konteksnya). Kalau begitu sekali lagi bagaimana sikap yang tepat bagi orang Kristen untuk hal-hal yang tidak tertulis di Alkitab? Allah menganugerahkan kepada kita setidaknya 3 perlengkapan tambahan yang dapat digunakan untuk menjawab pergumulan-pergumulan kita:

1. Hukum/undang-undang yang berlaku. Orang Kristen yang benar adalah orang Kristen yang taat hukum, maka dari itu adalah kewajiban bagi kita untuk tidak melanggar hukum/peraturan yang berlaku. Misalnya tidak membajak lagu, film, game dsb. Dalam hal ini judi di wilayah Indonesia sepanjang pengetahuan kami termasuk kegiatan yang dilarang pemerintah.

2. Akal budi – hati nurani. Di luar Alkitab dan apabila tidak ada peraturan pemerintah yang mengatur mengenai suatu hal tertentu, kita dapat gunakan akal budi dan hati nurani untuk menilai kebenaran atau baik atau tidaknya suatu hal. Misalnya menggunakan rok mini bagi wanita. Di sebagian besar wilayah Indonesia hal ini masih diperbolehkan, namun apakah baik atau tidak kita bisa mempertimbangkan dari situasi misalnya atau juga ada keberatan hati nurani tertentu. Ini juga menjawab apakah melamar kerjaan sebanyak-banyaknya termasuk judi? silakan dijawab sendiri oleh hati nurani Anda.

3. Ilmu pengetahuan. Akal budi perlu mendapatkan suply makanan yang tepat agar dapat berfungsi dengan baik, karena itu ilmu pengetahuan diperlukan untuk bisa melengkapi hal-hal yang tidak diketahui oleh akal budi kita. Misalnya merokok apakah benar? Dari berbagai penelitian ilmiah sudah menunjukkan betapa besar bahaya rokok sebenarnya. Ada 2 penyebab mengapa rokok masih menjadi barang legal adalah karena merokok merupakan candu yang dinikmati oleh begitu banyak orang, dan juga karena perusahaan rokok adalah penyumbang pajak yang sangat besar serta memberikan kesejahteraan bagi banyak karyawan dan petani tembakau. Kedua hal ini menyebabkan rokok mengakar begitu kuat sehingga tidak dapat dengan mudah dicabut oleh pemerintah. Padahal merokok bisa jadi lebih berbahaya dari narkoba karena berakibat pada keluarga khususnya anak-anak perokok yang menjadi perokok pasif. Jadi apakah merokok masih dapat dikatakan tidak berdosa? balik lagi ke hati nurani masing-masing yang menjawabnya.

Sekalipun demikian, kadang-kadang memang banyak hal yang kelihatan abu-abu. Dalam kasus-kasus seperti itu, bukalah channel komunikasi dengan Tuhan. Bertanyalah pada-Nya, mintalah hikmat dalam doa dan permohonan, seperti yang tertulis pada Yakobus 1:5

Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, –yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit–,maka hal itu akan diberikan kepadanya.

Selain itu, bukankah kepada kita Tuhan berikan Pendeta, Penginjil, para penatua serta orang-0rang yang lebih dewasa rohani dari pada kita? Mereka dapat membantu kita mengambil keputusan yang baik dan benar.