Shalom. Ada teman saya sering berpendapat bahwa kita orang Kristen cukup berdoa dan membaca alkitab di rumah saja, kan Tuhan nya sama tidak perlu ke gereja, sebab Tuhan kan maha hadir sehingga tidak harus ke gereja.
Nah menurut saya hal itu salah, sebab ada firman Tuhan berkata bahwa jangan jauhkan dirimu dari pertemuan ibadah, sebab ibadah mengandung janji. Tetapi rasanya masih belum cukup untuk meyakinkan teman saya. Mohon pendapatnya bagaimana menangani orang seperti ini. Terimakasih.

Reski

JAWAB:

[DSB]:

Dear Reski,

Mengapa orang Kristen pergi ke gereja untuk beribadah pada Hari Minggu?

1. Perintah Allah. Hukum Moral (10 Perintah Allah) perintah ke 4 mengatakan “Ingatlah dan kuduskanlah Hari Sabat” (Keluaran 20:8). Hal ini mengandung makna bahwa manusia WAJIB meluangkan waktu 1 hari dari seminggu untuk beribadah kepada Tuhan. Ibadah yang dimaksudkan bukan hanya yang bersifat pribadi atau keluarga (yang ini seharusnya dilakukan tiap hari), namun juga ibadah yang bersifat publik atau persekutuan dengan saudara seiman di gereja. “Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, yakni hari pertemuan kudus; janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah sabat bagi TUHAN di segala tempat kediamanmu.” (Imamat 23:3). Hal ini masih dilakukan terus di jaman Yesus (Luk 4:16) dan pada jaman gereja mula-mula (Kisah 20:7).

2. Persekutuan dengan saudara seiman. Kata GEREJA berasal dari bahasa Portugis IGREJA yang berasal dari kata εκκλησία (ekklêsiayang berarti dipanggil keluar (ekkeluar klesia dari kata kaleomemanggil). Filosofinya adalah umat Kristen dipanggil keluar dari sistem dunia yang rusak dan bobrok ini untuk membentuk kumpulan jemaat yang kudus yang kemudian menjadi garam dan terang di tengah dunia. Memang betul bahwa kata Gereja pada mulanya tidak mengacu kepada gedung gereja, namun bukan berarti tidak ada persekutuan, karena kata GEREJA justru mengacu kepada persekutuan orang percaya. Tidak pernah ada dalam benak Yesus, para rasul bahkan dalam sepanjang sejarah kekristenan bahwa orang Kristen hidup di dalam imannya seorang diri. Orang Kristen bukan hanya dipanggil memisahkan diri dari dunia, tetapi juga terhisap dalam satu persatuan kasih persaudaraan.

Persekutuan orang percaya sendiri sangat penting karena menjadi tempat saling menguatkan, bersama-sama berjuang untuk hidup kudus, saling memperhatikan dan saling melayani satu dengan yang lain (I Tes 5:11, Ibr 10:24-25).

3. Tempat kita mengikuti perjamuan kudus dan baptisan. Dua Sakramen yang Tuhan sudah perintahkan untuk kita lakukan adalah perjamuan kudus dan baptis. Pada Perjamuan Kudus kita kembali mengingat kasih Yesus yang mati disalib menggantikan dosa kita. Yesus hadir secara rohani dalam roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus. Juga dalam Sakramen Baptis, umat Kristen merayakan pernyataan dan pengakuan kepada publik (jemaat) dari orang-orang yang terhisap dalam perjanjian kekal, yaitu orang-orang yang baru bergabung dalam kumpulan jemaat. Perjamuan kudus dan Baptisan hanya dapat dilakukan dalam pertemuan jemaat. Tidak ke gereja berarti tidak menaati Firman Tuhan dalam hal ini.

4. Mendengarkan Firman Tuhan. Dalam ibadah di gereja, pusat penyembahan kita berada pada mendengar pemberitaan Firman Tuhan. Saat Teduh pribadi tidak dapat menggantikan pendengaran akan Firman Tuhan dari hamba Tuhan di gereja. Kita harus mengakui diri kita lemah, seringkali bias, dan suka membela diri terhadap teguran Firman Tuhan. Kita memerlukan masukan dari orang lain yang lebih berotoritas untuk menjelaskan Firman Tuhan dan menyampaikan suara kenabian yang menegur dan mengubahkan kita. Membaca buku rohani memang dapat memberikan masukan untuk kita bertumbuh, namun pada umumnya kita hanya membaca apa yang ingin kita ketahui atau apa yang kita sukai, atau dengan kata lain kita pasti memilih buku yang ingin kita baca, sedangkan di gereja, kita tidak dapat memilih tema Firman Tuhan yang disampaikan kepada kita. Dalam pemeliharaan dan kedaulatan Allah, hamba Tuhan yang menyampaikan Firman dapat dipakai untuk menegur, memberi nasehat atau malah pengertian yang justru melepaskan kita dari kegalauan yang kita alami. Gereja yang sehat adalah gereja yang menyampaikan Firman Tuhan dengan pemahaman yang benar, bukan sekedar menawarkan kesembuhan atau berkat, atau kuasa mujizat serta melalui pergumulan pribadi antara pengkotbah dengan Tuhan akan apa yang harus disampaikan dalam kotbahnya.

5. Untuk melayani. Setiap orang diberi talenta, karunia Roh Kudus yang berbeda-beda antara seorang dengan yang lainnya. Karunia-karunia itu diberikan Tuhan untuk saling membangun dalam kehidupan berjemaat (1 Kor 14:26). Orang Kristen dipanggil bukan untuk menghidupi imannya seorang diri, tetapi untuk menjadi berkat bagi sesama. Tuhan meminta kita sebagai orang Kristen untuk saling memperhatikan dan saling melayani seorang akan yang lain. Barangsiapa tidak melayani dan menimbun talenta yang Tuhan sudah berikan kepadanya, dengan keras Tuhan katakan “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Mat 25:30.

Secara spesifik untuk kasus Anda, saya pikir teman Anda pasti memiliki alasan tersendiri mengapa dia tidak pergi ke gereja, bukan hanya sekedar karena pemahaman mengenai “Tuhan ada di mana-mana”.

Mari kita pikirkan hal berikut ini: Sebagai anak-anak Allah, Paulus mengatakan bahwa kewarganegaraan kita adalah warga negara Surga (Fil 3:20). Berarti orang Kristen punya 1 lagi KTP selain KTP Indonesia, yaitu KTP Surga. Kita yang masih ada di dunia, adalah orang-orang perantuan (1 Pet 2:11). Maka bahkan apabila persekutuan tidak ada faedahnya bagi kehidupan rohani kita, sulit membayangkan bagaimana mungkin orang-orang yang berbeda dengan dunia di sekitarnya tidak tertarik untuk berkumpul dengan orang-orang yang sebangsanya. Setiap orang yang dalam perantauan, entah itu orang Indonesia di negri Jiran, orang Batak di Jakarta, atau orang Tionghoa di Indonesia merindukan, menyukai dan merasa nyaman berkumpul dengan orang-orang yang sama dengan dirinya. Karena itu pasti ada sesuatu yang salah atau telah terjadi pada diri teman Anda.

Anda sebagai temannya dapat membantu dia dengan coba menggali apakah yang menjadi penyebab teman Anda tidak ke gereja. Apakah ada akar pahit dengan gereja (atau pendeta), apakah pernah disakiti orang Kristen lain, atau memang karena malas, belum sungguh-sungguh percaya atau penyebab lainnya. Doakanlah dan kasihilah teman Anda itu tanpa judgement terlebih dahulu. Allah dapat memakai Anda untuk menolong teman Anda kembali ke jalur yang benar.

GBU.

[MC]:

Ibadah dapat dibagi menjadi dua jenis, private worship dan corporate worship. Private worship adalah ibadah secara pribadi, sebagai contoh: saat teduh. Corporate worship adalah ibadah secara bersama-sama / umum.

Lalu cukupkah bila kita hanya melakukan private worship tanpa disertai corporate worship? Jawabannya adalah jelas tidak.

Melengkapi apa yang telah disampaikan rekan DSB di atas, saya juga ingin mengajak kita semua untuk mengingat bahwa ibadah juga harus dibawa ke dalam konteks kekekalan. Sebagai orang-orang yang telah ditebus dan diselamatkan oleh Kristus, apa yang akan terjadi setelah kita meninggal nanti?

Tentunya kita akan mengalami persekutuan yang abadi dengan Tuhan dan Juruselamat kita. Seperti apa bentuk persekutuan tersebut?

Kita harus membuang jauh-jauh konsep yang menggambarkan Surga sebagai tempat di mana kita akan berleha-leha menghabiskan waktu melakukan apapun yang kita mau. Agama tertentu mengajarkan bahwa di Surga nanti apapun yang kita inginkan akan disediakan oleh Tuhan, termasuk wanita, makanan, dll. Juga kita harus menyingkirkan konsep kartun di mana masuk Surga berarti kita diberi sayap dan harpa, lalu kita melayang-layang di atas sebuah awan.

Tidak, konsep Surga yang digambarkan oleh Alkitab bukanlah seperti itu. Surga akan menjadi the ultimate fellowship and worship (persekutuan dan ibadah yang tertinggi) di mana kita dan ORANG-ORANG KUDUS YANG TELAH DITEBUS akan bersekutu dengan Allah senantiasa dalam sebuah ibadah yang tiada hentinya. Hal ini nampak jelas dalam Wahyu 4 serta 7:9-14.

Bila nanti Surga adalah sebuah corporate worship yang agung, alasan apa kita miliki di bumi ini untuk menghindari corporate worship yang adalah bayangan dari Ibadah Agung tersebut?